Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

"Kalau begitu aku harus memberitahu Ello." Melya menggedor kaca jendela berusaha memberitahukan pada temannya. Namun suaranya terhalang.


"Percuma saja meski kau memberitahunya. Anak itu tetap akan mati. Kau harusnya lebih mencemaskan keadaanmu saat ini, jika kau terus bergerak darah di tubuhmu akan keluar lebih cepat. Kau bisa kehabisan darah sebelum orang-orang itu menolongmu." Setelah itu gadis kecil itu mulai tenang.


"Kenapa aku bisa melihat asap hitam itu?" tanya Melya polos.


"Entahlah, mungkin karena sebentar lagi kau juga akan mati."


"Apa mati itu sakit?"


"Aku tidak tahu. Hanya mereka yang pernah mati yang tahu rasanya. Aku belum pernah Mati. Jadi aku tidak tahu."


"Kau belum mati? Kau bukan hantu?"


"Tentu saja bukan! Aku makhluk hidup sama sepertimu."


"Tapi kau seperti hantu, aku tidak bisa melihatmu."


Lalu seekor kucing hitam dengan perban terikat di kakinya, muncul di depan Melya.


"Kucing?"


"Ya, kita pernah bertemu sebelumnya 'kan?"


"Kucing bisa bicara?" Melya terkejut bercampur takjub.


Matanya berbinar-binar. Baru kali ini dia menyaksikan sendiri hewan yang bisa bicara. Baginya ini sangat langka.


Anak aneh! Padahal dia terluka sangat parah. Beberapa organ dalam tubuhnya rusak parah. Dan dia mengalami pendarahan hebat, normalnya orang biasa sudah meninggal dalam keadaan ini atau pingsan. Jadi bagaimana dia bisa tetap sadar dan bersikap seolah tak merasakan sakit pada tubuhnya? pikir Tania.


"Kucing, boleh aku memegangmu?" Melya mengulurkan tangannya ingin memegang kucing di depannya, namun tubuhnya lemah malah jatuh tersungkur.


"Berbaringlah, nak!" perintah Tania pada anak itu sambil memegang keningnya. "Terlalu banyak bergerak cuma akan membuatmu cepat mati!"


"Kucing, apa aku akan mati?"


"Apa kau takut mati?"

__ADS_1


"Apa mati itu menakutkan?"


"Katanya, ya. Mati itu menakutkan. Karena kau tidak bisa bertemu atau pun berbicara dengan orang-orang di dekatmu lagi."


"Aku tak bisa bertemu dengan papa-mama lagi?"


"Ya!"


"Aku tak bisa bertemu dengan kakak dan Tante lagi."


"Ya, pokoknya semuanya. Karena dunia orang yang sudah mati berbeda dengan orang yang masih hidup. Jadi kalian tak mungkin bertemu lagi."


Melya mulai menangis terisak-isak. Dia benar-benar ketakutan.


"Katanya kalau kita mati bisa jadi hantu. Aku mau jadi hantu saja. Aku tidak mau pergi." isaknya.


"Kau mau jadi hantu gentayangan selamanya? Anak aneh! Meskipun jadi hantu orangtuamu belum tentu bisa melihatmu. Tidak semua orang bisa melihat hantu. Jadi percuma saja. Kau tetap tidak bisa bicara dengan orangtuamu juga."


Tangis Melya makin keras mendengar ucapan Tania seperti itu. "Gak mau! Malaikat, jangan bawa aku pergi! Aku gak mau mati!" Melya berpikir mungkin kucing ini malaikat maut yang sedang menyamar untuk mengambil nyawanya.


Seperti dugaan Tania, gadis ini hanya berpura-pura kuat dan tabah menghadapi kengerian di depan matanya. Berpura-pura tidak sakit. Berpura-pura tidak takut. Bertahan sekuatnya sampai seseorang menolongnya.


"Benarkah? Kau akan menolongku?"


"Tentu. Aku akan membantumu. Ini imbalan karena kau sudah menolongku. Kami adalah makhluk yang tahu balas budi. Aku tidak akan membiarkan penyelematku mati begitu saja."


"Nak, ingatlah ini. Kekuatanku akan cukup untuk memulihkan luka-luka ditubuhmu, bahkan menguatkan tubuh dan jiwamu. Namun, kau akan menanggung kekuatan ini selamanya. Kau akan melihat dunia ini dengan cara yang berbeda. Duniamu akan berubah. Entah kau anggap ini sebagai kutukan atau anugrah, terserah akan kau pergunakan untuk apa kekuatanku. Aku percayakan semuanya padamu. Ini adalah hadiah perpisahan dariku."


Setelah mengucapkan kata-kata itu Tania dalam wujud kucingnya menghilang sementara, Melya jatuh tak sadarkan diri dalam waktu yang lama.


 


\*


 


POV Suster Laura

__ADS_1


Rumah sakit hanya ramai saat jam besuk saja. Kalau sudah lewat jam besuk, rumah sakit kembali sunyi.


Semakin malam perasaanku semakin tak karuan. Hari ini giliranku jaga malam dan ini pertama kalinya. Dan hari 'paling istimewa'.


Bagaimana tidak, saat ini sedang santer tersiar kabar ada pasien yang koma berjalan-jalan di malam hari.


Sudah jelas itu hanya gosip yang dibuat-buat. Tidak ada yang pernah melihatnya langsung kecuali dari mulut ke mulut. Dan dipikir bagaimanapun rasanya tidak mungkin.


Aku dan Siska dapat tugas untuk mengganti cairan infus setiap pasien. Berkunjung dari satu kamar ke kamar lainnya. Lorong rumah sakit terasa sangat panjang. Hanya terdengar suara roda dari troli yang ku dorong.


Sudah hampir tengah malam. Dan tersisa satu kamar yang harus kami kunjungi. Kamar seorang pasien yang belakangan ini banyak dibicarakan. Seorang anak perempuan berumur lima tahun yang menjadi korban kecelakaan maut. Dari semua korban hanya dia satu satunya yang selamat. Entah ini semua keajaiban atau sebuah keganjilan. Sampai sekarang pasien itu belum sadar. Ini hari ke tiga dia dirawat di rumah sakit ini.


"Duh, mendadak sakit perut. Aku mau ke kamar kecil dulu ya." ujar Siska tiba-tiba.


"Ah, tunggu! Tinggal satu lagi ini! Tahan dulu lah! Temeni aku." pintaku menahan Siska.


" Duh, udah gak tahan. Mules banget ini. Aku mau cepet-cepet ke toilet."


"Masa aku sendirian."


"Di sana juga ada keluarga nya yang nungguin. Masa kamu masih gak berani juga?"


Tanpa mendengar kata-kata dariku lagi dia langsung lari. Terpaksa aku memberanikan diri masuk ke kamar itu sendirian. Seperti yang tadi dibilang Siska, ada wanita muda yang menunggui pasien, mungkin ibunya. Dia tampak kurus dan lesu. Dia tertidur dengan separuh badanya di kursi dan kepalanya di rebahkan di sisi tempat tidur tempat pasien berbaring.


Dia terbangun saat aku mendorong troli besiku ke dalam kamar.


"Permisi, Bu. Mau cek infus ya." Wanita muda itu mengangguk lemah. Aku tidak heran kalau dia tidak makan teratur belakangan ini karena menunggui anaknya yang sakit.


Anak perempuan yang tertidur seperti mayat. Bibirnya juga pucat. Saat ku sentuh tangannya terasa dingin seperti es. Denyut nadinya lemah hampir tidak terasa. Benarkah anak ini masih hidup? Tanyaku dalam hati, ragu.


Pas sekali kantung infus yang lama sudah hampir habis. Aku harus cepat menggantinya lalu keluar dari kamar ini.


Suara dering handphone berbunyi. Wanita itu menjawabnya.


"Hallo? Ya pa? Duh gak jelas. Tunggu sebentar pa!" Wanita itu seperti nya kesulitan karena gangguan sinyal.


"Sus, bisa tolong jaga anak saya sebentar. Saya mau ke bawah. Mau terima telpon dari suami saya. Di sini gak ada sinyal." Wanita muda itu bergegas pergi tanpa menunggu aku meng 'iya' kan.

__ADS_1


Teman shift ku seorang sedang mendekam di toilet, lalu ibu pasien pergi ke bawah untuk terima telpon. Sekarang aku benar-benar di tinggal berduaan. keadanku ini, Kalau bukan sial apa namanya??


__ADS_2