Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Rumah Tua Di Tengah Hutan


__ADS_3

"Alvin!" Seruku. Aku memutar balik berjalan cepat ke arah suara Alvin tadi. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Ternyata Alvin terperosok keturunan yang cukup curam. Walaupun tidak terlalu dalam jatuh ke dalam sana bisa saja menimbulkan cedera.


"Apa kau baik-baik saja?" Seruku dari atas.


"Ya, aku baik-baik saja." Sahutnya.


Aku mencari akar atau tanaman rambat yang kuat untuk berpegangan saat turun ke bawah.


Ku lihat Alvin sudah berdiri. Sepertinya memang tidak ada yang luka.


"Syukurlah kau baik-baik saja."ucapku lega. "Aku kira tadi aku mendengar teriakan seorang gadis." Sindirku menggodanya.


"Maaf, aku hanya kaget saja. Siapapun bisa teriak kalau terjatuh tiba-tiba dari atas sana." Jawabnya beralasan.


"Bagaimana pengejaranmu tadi. Kupikir kau sedang mengejar sesuatu? Atau seseorang?" Tanyanya lagi.


"Berkat kau aku kehilangan dia." Jawabku kecewa.


"Jangan kecewa dulu. Coba lihat itu." Ujarnya. Pandanganku mengikuti arah telunjuknya.


Rumah itu ada di sana?! Pantas saja tidak kelihatan dari atas. Ternyata ada di bawah sini.


"Benar itu rumah yang kau lihat di mimpimu?" Tanyanya memastikan.


"Benar. Ayo ke sana!"


Rumah besar itu dipagari tembok dan pintu besi yang tinggi. Meski besi-besi itu nampak sudah berkarat.


Aku mengambil batu besar dan memukul gembok yang mengunci pintu besi itu. Aku memukul sekuat tenaga, berharap kunci gemboknya akan terlepas atau rantainya akan putus.


Alvin sedang mengelilingi pagar ini, mencari jalan tikus yang mungkin bisa kami masuki. Tapi usaha kami sia-sia. Alvin tidak menemukan celah untuk masuk. Sementara tanganku mulai kesakitan. Rantai itu kokoh.


"Apa tidak apa-apa kita masuk tanpa ijin. Rumah ini sepertinya masih ada pemiliknya." Ujar Alvin ragu-ragu.


Aku mengerti maksud Alvin bahwa perbuatan kami bisa jadi melanggar hukum.

__ADS_1


"Itu bisa kita pikirkan nanti. Jasad kakakmu mungkin ada di dalam sana. Kau tidak ingin membawanya keluar?" Ujarku pada Alvin.


"Tentu saja. Aku ingin menemukannya."


"Kalau begitu pikirkan saja itu nanti. Yang terpenting kita harus menemukan tubuh kakakmu dulu. Lagipula, lihat kondisi rumah ini? Kau pikir sudah berapa lama rumah ini ditinggalkan?" Ujarku.


"Entahlah. Kurasa sudah lebih dari sepuluh tahun atau bisa juga lebih." Timpal Alvin.


"Kalau begitu kita aman. Rumah ini jelas sudah ditelantarkan. Pemiliknya tidak Berharap kembali lagi ke sini." Ujarku lagi.


Aku melihat engsel pintu pagar itu sedikit longgar. Aku jadi memikirkan sebuah rencana untuk membobolnya.


"Sekarang, menyingkir dari sana!" Pintaku pada Alvin, seraya melangkah mundur mengambil posisi yang tepat.


"Kau mau apa?" Tanya Alvin. Dia sudah menjauh dari pintu besi itu.


"Aku akan menendangnya." Jawabku sambil menendang pintu itu dengan kekuatan penuh. Pintunya bergeming. Aku merasakan nyilu pada kakiku. Ini lebih kuat dari yang ku perkirakan. Tapi paling tidak usahaku tidak sia-sia. Sekali lagi pintu itu pasti roboh.


Di sisi lain Alvin tercengang melihat tindakanku.


"Ah sudahlah! Aku akan membantumu. Aku tidak mengira kau gadis yang kuat. Pantas saja kau berani masuk ke hutan ini sendirian." Ujar Alvin.


"Maaf saja kalau aku tak selemah yang kau pikirkan. Hidupku cukup sulit sejak aku memiliki kemampuan ini. Jadi kakakku. Mengajarkanku teknik beladiri untuk menjaga diri." Ujarku.


"Aku semakin kagum denganmu." Ucap Alvin tulus. "sekarang, ayo tendang pagar besi ini bersamaan. Kurasa lebih efektif kalau kita melakukannya bersama-sama."


Aku dan Alvin mengambil posisi. Dan dalam hitungan ke tiga kami melayangkan tendangan serentak ke arah pintu besi itu. Akhirnya pintu besi itu roboh. Engsel di kedua sisinya terlepas.


Aku dan Alvin masuk ke dalam rumah. Meski banyak debu di sana sini, kursi meja dan perabot lainnya masih tertata dengan baik. Rumah ini terdiri dari banyak kamar. Kami berpencar menggeledah kamar satu persatu.


Aku berjalan ke kamar paling belakang. Kamar yang ditunjukkan Ello di mimpiku. Dadaku berdetak cepat sampai aku bisa mendengar suaranya.


Tenanglah! Ucapku pada diri sendiri. Penculik itu mengehentikan aksinya lebih dari sepuluh tahun. Tepatnya 17 tahun. Yang artinya hanya ada dua kemungkinan.


Pertama penculik itu sudah pergi dari tempat ini mencari sasaran markas barunya.


Ke dua, terjadi sesuatu pada penculik itu, yang membuatnya tidak bisa lagi melakukan aksi kejahatannya. Dalam hal ini, dia mungkin sudah tertangkap atau mati.

__ADS_1


Yang manapun dari dua hal itu, yang pasti penculiknya tidak ada lagi di rumah ini. Jadi harusnya ini aman.


Aku hanya perlu mencari satu petunjuk atau satu bukti yang bisa kubawa ke pihak polisi agar kasus ini bisa diusut lebih lanjut. Terlepas dari kondisi penjahat itu hidup atau mati, keadilan harus tetap didapatkan para korban agar mereka bisa tenang.


Aku mendorong pintu kamar itu dengan mantap. Semua persis seperti di mimpi kecuali satu hal. Kamar ini bersih dan rapi. Tak ada bekas darah. Aku juga tidak menemukan senjata apapun yang digunakan penjahat itu untuk mengeksekusi anak-anak itu.


Kenapa aku tidak berpikir bahwa penjahat itu sudah membersihkan barang buktinya. Tidak mungkin dia akan meninggalkan jejak kejahatannya di sini. Aku mulai pesimis. Usahaku masuk ke dalam rumah ini mungkin akan sia-sia.


Aku keluar dari kamar itu. Di ruang tengah aku melihat Alvin berdiri menatap benda di telapak tangannya dengan ekspresi yang aneh. Matanya bergetar ekspresinya sedih dan terkejut.


"Apa itu Alvin?" Tanyaku. Alvin menunjukkan sebuah gelang yang memiliki sebuah nama terukir di platnya. "Ello"


"Itu milik kakakmu?" Tanyaku lagi memastikan. Alvin mengangguk.


"Katakan padaku yang sebenarnya. Di dalam mimpimu, apa yang terjadi pada kakakku.


"Alvin, kurasa kakakmu menjadi korban pembunuhan. Kedatangannya ke tempat ini adalah sebuah kesalahan. Rumah ini sudah menjadi markas pembunuh itu. Dan kakakmu memasuki rumah ini tanpa mengetahui hal itu." Jawabku.


Alvin menghampiriku dan memegang bahuku. Aku tahu dia akan marah mendengar hal ini.


"Siapa? Siapa orangnya yang sudah membunuh kakakku? Kau sudah melihat wajahnya 'kan?" Tanyanya padaku.


"Aku melihatnya tapi tidak begitu jelas."


"Apa dia masih di sini? Kita harus melaporkannya ke polisi. Pembunuh itu harus ditangkap. Aku tidak akan membiarkannya bebas." Ujar Alvin penuh emosi.


"Dia sudah tidak ada di sini lagi. Aku juga ingin dia tertangkap. Karena itulah aku datang ke sini untuk mencari bukti kejahatannya. Sayangnya gagal. Aku tidak menemukan apapun." Ujarku kecewa.


Alvin melepaskan cengkramannya di bahuku. "Aku ingat aku menemukan itu." Ucapnya lalu membawaku untuk mengikutinya.


Ada sebuah pintu kecil di lantai. Saat ku buka ada tangga dari kayu menuju ruang bawah tanah rumah itu.


Aku memeriksanya. Kayunya masih cukup kuat untuk pijakan. Aku turun lebih dulu diikuti Alvin. Aku menyoroti ruangan gelap itu dengan senter yang ku bawa.


Ruanganya cukup luas walaupun banyak barang-barang tak terpakai yang berserakan di lantai. Sepertinya tempat ini dulunya digunakan sebagai gudang.


Kami menemukan sebuah ruangan lagi di sana. Alvin mencoba membukanya tapi terkunci. Apa aku harus menendangnya lagi? Tanyaku dalam hati. Aku menyentuh pintu itu untuk memeriksa kekuatan pintunya, apakah bisa didobrak atau tidak. Tapi, pintu itu malah ... terbuka?

__ADS_1


__ADS_2