Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Aku menemukanmu!


__ADS_3

Sayang, tak selamanya semua berjalan lancar, aku memergokinya membeli bocoran soal-jawaban untuk ujian tiga hari lagi. Aku sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal itu. Tapi dia bersikeras melakukannya. Jika aku diam saja, aku pasti disalahkan oleh ayahnya. Pekerjaan ayahku akan terancam. Aku terpaksa melaporkan pada ayahnya.


Yang tidak ku mengerti di saat bersamaan ada yang melaporkan perbuatannya pihak sekolah dan itu bukan aku!


Kami bertengkar hebat. Maiya menuduhku mengkhianatinya dengan melaporkannya kepihak sekolah. Meski aku bersikeras menyangkal dia tetap tidak percaya padaku. Hubungan kami pun merenggang. Kupikir seiring berjalannya waktu dia akan melupakan masalah itu.


Kenyataannya dia malah memanfaatkan kelengahan untuk menjebakku. Aku dituduh atas pencurian yang tidak kulakukan. Aku harusnya bebas karena sidik jariku tidak ditemukan pada benda yang dicuri. Tapi kenapa aku masih tetap dikurung?


Akhirnya aku tahu jawabannya kenapa aku masih ditahan. Tiga hari setelah aku ditahan ayahnya Maiya mendatangiku. Dia memintaku untuk mengakui pencurian yang tidak kulakukan. Itu semua dilakukan membersihkan nama Maiya dan membebaskannya dari penyelidikan polisi.


Gila! Mana mungkin aku mengakuinya!


"Anggap saja, ini untuk membayar semua hutang-hutang ayahmu. Aku bersedia menghapuskan itu selama kau menuruti semua perkataanku. Aku juga akan membayar uang jaminan untuk membebaskanmu. Kau cukup mengikuti perkataanku seperti biasanya. Bukankah karena kau penurut aku jadi memilihmu sebagai teman putriku. Karena kau akan melakukan segalanya untuk putriku."


Hari itu aku sadar, aku bukanlah teman Maiya. Dia tidak membayarku untuk berteman dengan putrinya, tapi membeliku untuk menjadi boneka mainan putrinya. Yang bisa dia korbankan kapan saja.


Aku tak punya pilihan lain selain menerimanya. Keluarga kamu sudah berhutang terlalu banyak pada keluarga Maiya tanpa aku sadari. Aku harus menahan ini semua.


Bahkan saat surat pembatalan beasiswaku sampai ke tanganku, aku hanya bisa menangis. Aku harus bertahan dari perbuatan teman-teman ku padaku di sekolah. Aku harus bertahan dari penduduk kota yang terus menerus membicarakanku. Apakah Maiya yang melakukan ini semua? Sulit kupercaya Maiya melakukan semua ini padaku. Hanya karena aku mengkhianatinya sekali dia membalasku puluhan kali lebih menyakitkan.


Aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin lagi bicara dengannya. Namun saat ayahku meninggal, pertahananku runtuh. Aku sudah kehilangan segalanya, sampai ayahku menjadi korbannya, aku bahkan terancam dikeluarkan dari sekolah. Semua karena Maiya dan keluarganya.

__ADS_1


Dan Maiya datang padaku hanya dengan kata maaf? Mana mungkin aku memaafkannya setelah apa yang dilakukannya! Maaf saja tidak akan cukup untuk mengembalikan ayahku. Maaf juga tidak bisa memulihkan nama baikku. Hidupku hancur karenanya. Aku membencinya dengan segenap perasaanku.


Aku berusaha membunuhnya namun selalu digagalkan oleh Arya dan kakakku. Aku tak sanggup lagi menanggung semua ini. Aku lelah mendengar cemoohan orang-orang. Aku bahkan tak bisa keluar rumah. Akhirnya aku memilih untuk mengakhiri hidupku yang tidak berguna ini.


Kupikir aku sudah mati saat kudapati sekelilingku berubah menjadi putih. Ternyata aku berakhir di rumah sakit. Selama bertahun-tahun aku menjalani rehabilitasi dan beberapa operasi untuk memperbaiki wajahku. Aku memulai kehidupan yang baru di kota yang asing bersama kakek dan nenekku.


Aku melanjutkan studiku hingga kuliah. Kupikir aku bahagia. Tapi ternyata hati masih terasa kosong. Aku mendengar kabar kematian Maiya namun tak berarti apa-apa. Apa aku senang atau merasa sedih?


Dalam mimpiku, aku berulang kali membunuh Maiya, namun semua terasa hampa pada akhirnya. Kadang aku masih mendengar suara Maiya memanggil namaku. Berapa kali aku berobat ke dokter tanggapan mereka semua sama.


Aku yakin aku akan mendapatkan jawabannya jika aku bertemu denganmu lagi. Jika Tuhan memang berkehendak kita saling bertemu maka kita pasti akan bertemu meski alam kita sudah berbeda. Dengan keyakinan itu aku datang kembali ke sekolah ini untuk bertemu denganmu, Maiya!


Aku sudah berkeliling di lantai, namun masih belum menemukan sosok arwah Maiya. Aku memutuskan naik ke lantai 3. Di kelasnya aku melihat bayangan seseorang tapi tidak tahu siapa. Terlalu gelap bagiku untuk mengenali sosok itu.


Aku berdiri mematung diujung anak tangga lantai dua. Ada seseorang disampingku berdiri di dekatku.


"Ke-te-mu kau!!" Suaranya yang berat berbisik di telingaku membuatku berpaling. Sosok seorang perempuan berseragam dengan goresan luka diwajahnya seperti bekas cakar, bola matanya yang besar menatap lekat padaku. Bahkan dengan penampilannya yang seperti itu aku masih bisa mengenalinya.


"Maiya..?"


Tangannya yang seperti cakar terangkat ke atas dan siap mengayun ke arahku. Di saat yang bersamaan seseorang menarik tanganku menjauh darinya.

__ADS_1


"Lari!" Anak perempuan itu memegang tanganku, membawaku berlari. Diriku yang masih belum terbangun dari rasa kagetku melihat Maiya, hanya bisa mengikutinya.


Aku melihat ke belakang. Maiya masih tidak bergerak dari tempatnya. Dia terdiam sesaat sebelum akhirnya menggeram marah lalu mengejar kami.


"Itu Maiya?" gumamku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat.


Maiya yang ku ingat memiliki paras cantik dan suka tertawa, suka bergurau, meski dia egois dan suka marah-marah, aku tak pernah melihatnya memukul ataupun menyakiti orang lain. Kenapa dia jadi seperti ini?


Pipiku terasa hangat oleh air mataku yang meleleh. Aku menangis? Kapan terakhir aku menangis? Sejak hari itu aku sudah tak pernah menangis lagi. Aku selalu tertawa meski aku tak merasa senang atau bahagia. Aku tidak merasakan takut. Sebagian emosiku hilang dan aku merasa kosong.


Aku menonton banyak video mulai drama, komedi sampai horor, tak ada satupun yang mempengaruhi emosiku. Setiap kali aku konsultasi ke dokter, pertanyaan yang mereka ajukan selalu sama.


"Apakah ada orang yang anda sayangi baru baru ini meninggal? Kapan terakhir anda mendengar kabar duka?"


Orang yang ku sayangi yang terakhir meninggal adalah ayahku. Tapi kabar duka terakhir yang kuterima datang dari Maiya. Kakak bilang dia bunuh diri karena merasa bertanggung jawab atas kematianku. Polisi bilang sebelum bunuh diri dia sempat melukai wajahnya sendiri.


Tanpa sadar aku menghentikan langkahku hingga membuat anak di depanku bingung. Dia terus berseru padaku namun suaranya tak lagi ku dengar. Aku berbalik menatap ke arah Maiya yang sedang datang ke arahku.


Goresan luka diwajahnya tak membuatku takut melainkan merasa pedih. Seberapa sakit dia menahan itu semua menjelang kematiannya? Kenapa dia melukai dirinya sampai seperti itu?Apakah hanya untuk mendapatkan maaf dariku?


Mataku nanar, semua terasa berputar di kepalaku. Semua ingatan yang telah terjadi, semua kata-kata yang ku dengar, bercampur mengaduk seluruh emosiku.

__ADS_1


Saat Maiya menyerangku lututku lunglai menjatuhkan diriku ke lantai.


"Aaaaaa!" tangisku pecah menjadi teriakan yang mengoyak malam. Aku tak peduli dengan apa yang dilakukan Maiya lagi. Aku tak sanggup melihatnya lagi. Hanya menangis sambil menutupi wajahku.


__ADS_2