
Hutan ini juga menjadi halaman bermain anak-anak. Sham (panggilanku untuk Absham) tidak melarang mereka bermain di hutan selama tidak memasuki area terlarang. Para orangtua juga mengajarkan pada anak-anaknya sejauh mana mereka bermain di hutan.
Kadang-kadang aku hanya memperhatikan diam-diam. Di lain waktu aku bermain bersama mereka. Seperti hari ini saat Sham tidak di tempat aku bebas melakukan apa saja.
Aku mengubah wujudku menjadi seekor kucing hitam. Aku melompat ke hadapan mereka.
"Wah ada kucing !"
"Bodoh ! Mana ada kucing di hutan. Itu pasti anak macan !"
"Kau buta! Jelas-jelas itu kucing."
Anak-anak itu berdebat satu sama lain. Aku menggoyangkan ekorku mengundang mereka untuk menangkapku.
"Ayo tangkap !" seru anak-anak itu. Aku melompat dengan lincah namun membiarkan anak-anak itu mengejarku. Rencanaku berhasil. Aku menggiring mereka ke area terlarang.
"Tunggu! Ibu bilang jangan main ke sana! Bahaya!"
"Tidak apa! Jika kita tidak bilang kita tak kan di marahi orangtua kita."
"Tapi 'kan.." belum selesai anak itu bicara, seekor harimau putih besar muncul tiba-tiba ke hadapan mereka.
Mereka semua langsung kabur. Aku tertawa melihat wajah anak-anak yang ketakutan.
"Harimau putih. Harusnya kau munculnya nanti saja. Tunggu agak lama." ucapku dalam wujud kucing sambil menahan tawa.
"Tapi tuan sudah kembali." Ujar harimau itu. Dia adalah anak buah Sham yang setia.
"Siapa yang kau bilang kembali? " Tanyaku padanya. Belum sempat dijawabnya, seekor macan kumbang besar menggigit leherku tanpa bisa kuhindari. Sosokku yang masih seekor kucing hitam itu meronta berharap bisa lepas.
"Hei lepaskan aku ! Apa kau tidak tahu siapa aku !" pekikku.
"Jadi ini kelakuanmu selama aku tidak di sini? " Kini giliran aku yang terkejut.
"Oh, eh halo Sham ! Kau sudah kembali? " Ucapku tergagap. Aku tak menyangka dia akan kembali lebih cepat dari perkiraanku.
"Kau memancing anak-anak itu kemari, lalu meminta harimau putih mengusirnya? " Tegur Sham lewat pikiran sementara mulutnya masih repot membawaku.
"Aku sedang bermain- ah, maksudku aku sedang mengajari mereka bahayanya melanggar peraturan. Jadi mereka tidak akan melanggarnya di kemudian hari." jawabku mencari alasan secepat kilat.
__ADS_1
"Benarkah? Bukannya kau sedang bersenang-senang?"
"Aku? Tidak Sham . Kau salah paham. Sungguh."
"Kau pikir aku percaya ?" Sham menggoyang-goyang tubuh kecilku yang berada di moncong nya.
"Sham, berhenti ! Jangan di goyang-goyang ! Aku pusing !" Aku merasa semua yang kulihat bergoyang-goyang.
"Lepaskan aku ! Jangan bawa aku seperti ini ! "
"Kalau tidak seperti ini, lalu harus bagaimana ? "
"Apa kau tidak tahu caranya menggendong perempuan?!"
"Aku tidak melihat seorang wanita di sini. Aku hanya melihat seekor kucing." ujarnya sambil membawaku pergi.
"Huh! Sham, kau menyebalkan!"
Sesaat kemudian, pertengkaran kecilku dengan Sham di ganggu oleh hawa keberadaan makhluk yang baru saja memasuki hutan. Perasaan tidak enak menghinggapi kami berdua.
Sham melepaskanku. Aku segera mengubah wujudku kembali. Kami berdua pergi mencari sumbernya.
Seorang gadis kecil berumur sekitar 12 tahun mendorong seorang laki-laki yang berada di kursi roda. Orang yang menarik perhatian kami berdua.
Aku menengok ke arah Sham dia lebih tenang menanggapi hal ini.
"Apa ini?" Tanyaku tak mengerti.
"Laki-laki itu, hati dan pikirannya sudah termakan oleh iblis. Sudah tidak tertolong. Jangan coba-coba menyembuhkannya! Dan jangan terlibat dengannya. Akan ada waktunya dia mati. Kita tak perlu ikut campur. " Ujar Sham memperingatkanku.
Aku mengangguk tanda mengerti. Namun ada perasaan gelisah yang tidak bisa ku singkirkan. Sayangnya aku terlambat menyadarinya. Kehadiran lelaki itu menjadi awal bencana yang terjadi di hutan ini.
Anak perempuan itu sempat mendatangiku memintaku mengobati tuannya. Seperti yang dikatakan Sham mengobati laki-laki itu adalah hal yang tidak mungkin. Aku menasehatinya untuk menjauh dari tuannya. Tapi dia tidak mau.
Gadis kecil yang berbakti. Namun nasib membawanya pada orang yang salah. Hidupnya juga tidak akan lama lagi.
Tak lama setelah bertemu denganku, gadis malang itu berakhir di tangan tuannya yang jahanam. Dan itu menjadi awal dari rentetan peristiwa pembunuhan yang terjadi di hutan ini.
Satu per satu nyawa anak-anak direnggutnya untuk dijadikan sebagai persembahan iblis, untuk menyempurnakan ilmu sesat yang dipelajarinya.
__ADS_1
Aku marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sham melarangku terlibat dalam urusan ini. Aku hanya bisa patuh. Aku tidak ingin memberikan Sham kesulitan. Karena jika aku sampai melanggar aturan, Sham juga akan di hukum.
Tapi, kesabaranku sampai pada batasnya. Suatu ketika aku melihat dia mengejar salah seorang anak laki-laki, yang aku kenal orangtuanya salah seorang penduduk desa. Anak laki-laki itu juga sering bermain di hutan. Entah bagaimana dia bisa berakhir dikejar penjahat itu.
Anak itu terpojok seperti seekor kelinci di hadapan serigala yang lapar.
"Kau tidak bisa lari lagi !" Serunya sambil mengayunkan kapaknya. Namun aku berhasil menahannya dan melemparkannya ke tanah. Dia berusaha bangkit. Dengan cepat aku mengikat kaki dan tangannya dengan sulur pohon yang kuat.
"Katakan padaku, bagian mana yang ingin kupisahkan lebih dulu? Tangan? Kaki?" Ancamku pada laki-laki yang terikat itu. Aku membiarkan sulur itu bergerak dan menarik kaki dan tangannya sedikit untuk menyiksanya.
"Aaaakh!" Jeritnya.
"Kau tahu siapa anak yang kau kejar tadi? Anak salah seorang penduduk desa ini yang kusaksikan kelahirannya, dan kuswadi hingga ia tumbuh. Aku telah menjaga dan mengawasi anak-anak desa ini selayaknya seorang ibu, dan kau berani menyakiti anak-anakku di depanku?"
Aku mencengkeram lehernya dan berniat memutuskannya. Namun Sham datang dan menahanku.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan membunuhnya. Atau dia akan membawa malapetaka untuk desa dan hutan ini."
"Kau tidak bisa membunuhnya."
"Tentu saja aku bisa."
"Kita tidak boleh membunuh manusia. Ingat ?"
"Dia bukan manusia!"
"Dia masih manusia! Bahkan jika dia melakukan kejahatan kita tidak punya hak untuk menghukumnya! Apalagi sampai membunuhnya. Biarkan manusia lain yang mengadilinya." Sham berusaha keras membujukku.
Sham menurunkan nada suaranya dan berbicara sedikit lebih lembut. "Membunuh manusia adalah pelanggaran berat bagi kaum kita. Hukumannya tidak main-main. Apa kau mau menanggung hukumannya hanya untuk membunuh seekor lalat ini ?"
"Jadi aku harus bagaimana?!" Teriakku mengeluarkan kemarahan ku. Alih-alih memotong sulur tanaman itu aku malah menebas beberapa batang pohon. Akibatnya beberapa pohon di sekitar ku tumbang. Sementara laki-laki itu lari ketakutan.
"Tenanglah! Kau membuat anak itu ketakutan." Ujar Sham menenangkanku. Aku berpaling pada bocah laki-laki yang tadi dikejar-kejar sekarang meringkuk gemetar. Bahkan saat aku mendekat untuk mengobatinya.
"Maaf sudah membuatmu takut. Aku hanya ingin membantu mengobati lukamu." Ucapku pada anak itu. Akhirnya anak itu mengijinkan aku mengobatinya.
Setelah itu aku mengantarkan anak itu ke orang tuanya.
__ADS_1
"Haris, kemana saja kamu nak?" Orang tua nya menangis sambil memeluk buah hatinya.
Aku berlalu meninggalkan pemandangan yang mengharukan itu. Namun rasanya enggan untuk kembali ke hutan. Akhirnya aku berjalan menjauh dari hutan yang sudah menjadi rumahku selama ratusan tahun. Untuk pertama kalinya aku tidak nyaman berada di hutan itu.