
POV Angga
Laila melambaikan tangannya dari tepi jalan. Aku bergegas menghampiri. Hujan telah reda namun awan gelap masih belum menyingkir.
"Kupikir kau tidak akan datang lagi," ujarnya ketika aku mendekat. "Kenapa kau tidak ajak adikmu sekalian. Dia akan sangat membantu kita."
"Kau jelas tahu alasan aku tidak membawanya."
"Dimana Sendy?" tanyaku.
"Sendy mengkonfirmasi ke pihak sekolah mengenai laporan kehilangan anggota keluarga dari wali atau orang tua sidwa," jawab Laila.
"Tubuh korban baru berhasil di angkat dari dalam sungai. Dugaan sementara korban adalah siswa dari sekolah kita karena seragam sekolahnya masih dikenakan. Kemungkinan dia diserang saat perjalanan pulang sekolah," lanjutnya.
"Aku akan memeriksa jasad korban," ujarku.
"Aku ikut!" seru Laila.
"Kau tetap disini. Tunggu Sendy!"
Aku bergegas menerobos masuk ke dalam kerumunan. Sesosok tubuh tergeletak di sana. Aku ingin mendekat, tapi seorang petugas polisi mengcegahku.
"Kau tidak boleh mendekat!"
"Biarkan dia masuk!" ujar petugas lainnya yang sedang memeriksa jasad korban.
"Apa kau dari organisasi itu?" tanya petugas itu padaku.
"Benar," sahutku.
"Baiklah. Silahkan periksa."
__ADS_1
Laila benar. Ini murid sekolah kami. Ditubuhnya ditemukan banyak luka tusukan benda tajam. Dia meninggal karena kehabisan darah bukan karena tenggelam.
Ini jelas perbuatan manusia, bukan penyerangan makhluk ghaib. Polisi membawa jasad korban untuk di otopsi.
Dari kejauhan kulihat Sendy, rekan kami sekaligus ketua OSIS sekolah kami sudah tiba dan berbicara dengan Laila. Sandy bilang kami diminta untuk ke ruang pertemuan hari ini untuk membahas kasus ini.
Di mata orang normal kami tampak seperti pelajar SMP biasa. Namun kenyataannya kami bertiga tergabung dalam organisasi yang khusus menangani hal-hal ghaib. Mungkin sejenis dengan organisasi paranormal. Hanya saja disini tidak dibatasi jumlah dan usianya. Kami sudah tergabung dalam organisasi ini sejak umur lima tahun atas permintaan kepala keluarga kami sendiri. Karena itu kami bertiga sudah saling mengenal sejak kecil.
Kami masuk ke dalam ruangan dimana tiga orang lainnya sudah menunggu. Salah satu dari ketiganya adalah orang yang paling tidak ingin ketemui. Hans, kalau tidak salah dia sudah masuk SMA tahun ini. Aku segera ambil posisi untuk duduk. Aku tidak ingin menunjukkan perselisihanku dengannya kepada anggota yang lain.
"Tumben kau datang? Sedang tidak mengasuh adikmu lagi?" tanyanya menyapaku.
"Keadaan adikku sedang baik hari ini. Jadi aku bisa meninggalkannya sebentar. Terima kasih sudah memperhatikanku, Hans!"
"Kita mulai saja pertemuan ini. Karena sepertinya tidak akan ada lagi yang datang," ujar Sika memimpin pertemuan. Diantara kami berenam dia lah yang usianya paling tua. Dan saat ini dia menjabat sebaiknya OSIS di SMA nya.
"Kemana yang lainnya?" tanya Sendy.
"Kalau begitu aku yang pertama memberikan laporanku," ujar Sandy. Tampak dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pertemuan ini.
"Sampai hari ini belum ada laporan kehilangan anggota keluarga yang masuk ke sekolah. Namun ada lima orang siswa yang tidak masuk sekolah sejak tiga hari lalu. Dan dari ke lima siswa itu hanya satu yang tidak dapat dihubungi."
"Apa kelima siswa itu termasuk dalam daftar perlindungan organisasi?" tanya Sika.
"Bukan. Mereka hanya anak normal tanpa kemampuan melihat makhluk ghaib. Jadi mereka tidak termasuk dalam daftar perlindungan kita," jawab Sendy
"Korban meninggal akibat luka tusukan di sekujur tubuhnya. Tidak ada kejanggalan pada tubuh korban begitu juga dengan lokasinya. Dan jika benar seperti yang dikatakan eandy, Maka kita bisa serahkan kasus ini pihak polisi untuk di usut sebagai kasus pembunuhan biasa," kataku.
Benar, jika ini hanya kasus pembunuhan biasa maka bukan ranah kita untuk ikut campur. Bagaimana pun komunitas ini di bentuk untuk menangani hal-hal yang berhubungan dengan makhluk ghaib atau sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh polisi.
Kota ini memang terlihat normal bagi orang normal tapi tidak bagi kami, yang terlahir dengan mata batin yang mampu melihat makhluk halus. Kota ini adalah mimpi buruk.
__ADS_1
Jumlah makhluk halus yang tinggal di kota ini jauh lebih besar dibandingkan penduduk aslinya. Dan setiap hari jumlah mereka semakin meningkat. Berbanding terbalik dengan penduduk manusianya yang semakin menyusut dari waktu ke waktu.
Karena itulah organisasi ini dibangun. Dengan dalih menjaga keharmonisan antara dua makhluk berbeda yang tinggal di kota ini, kami menutupi alasan sebenarnya. Tujuan organisasi ini adalah untuk mengawasi para makhluk halus itu agar tidak melukai atau memberikan kerugian pada manusia.
Anggota organisasi ini adalah kepala keluarga yang telah mendiami tanah ini dari generasi ke generasi dan para penerusnya yang memiliki mata batin seperti kami.
"Kau terlalu terburu-buru menyimpulkannya, Angga! Apa intuisi sudah tumpul karena menjadi pengasuh adikmu," tukas Hans. Seperti dugaanku dia akan mulai mencari alasan berdebat lagi denganku.
"Apa maksudmu, Hans?" tanyaku menantang.
"Karena kau lama absen, makanya kau ketinggalan banyak berita," lanjutnya. Aku menengok ke arah Laila dan Sendy tapi kedua gadis itu hanya mengangkat bahu. Mereka juga tidak tahu apa yang dimaksud Hans.
"Bacalah!" ujar Hans melempar beberapa lempar kertas ke hadapanku.
"Ini adalah kejadian ke tiga dalam rentan waktu yang dekat. Sebelumnya terjadi dua kasus yang sama. Korban pertama dan kedua ada dalam daftar perlindungan organisasi. Yang menjadi perhatian kami adalah korban ke dua kasus ini, Yana."
Aku mulai membaca kertas itu sambil mendengarkan Sika bicara.
"Yana sempat mengirim surat permohonan pada kita. Dalam suratnya dia menulis bahwa dia diganggu, di ikuti bahkan sampai di ancam oleh gadis hujan."
"hantu Gadis hujan? Makhluk halus yang sering muncul dengan wujud wanita yang mengenakan payung?" tanya Sendy memastikan.
"Benar. Kami sempat mendatangi rumah Yana langsung tapi baik dia ataupun Keluarganya tidak ditemukan. Keesokan harinya dia ditemukan tewas hanyut di sungai. Sama seperti kasus pertama dan ketiga, jasad Yana di temukan dengan banyak luka tusukan di tubuhnya."
"Karena itu kami memutuskan untuk memburu hantu gadis hujan itu," ujar Hans lagi.
"Tunggu dulu! Apa maksud kalian memburunya? Dia mungkin benar bertemu dengan Yana tapi itu tidak membuktikan dia yang membunuhnya. Seperti yang dikatakan Angga luka ditubuh korban adalah perbuatan manusia," tanya Laila bingung.
"Banyak keluhan yang masuk ke kita. makhluk itu membuat resah. Jadi kami putuskan untuk menangkapnya," ujar Hans.
"Tapi, ini bukan pertama kalinya dia muncul di kota ini, dia sudah cukup lama tinggal di kota ini. Kenapa kalian baru bertindak sekarang? Sejauh ini dia tidak melakukan apapun yang bisa melukai penduduk kota. Aku yakin ada kesalahpahaman disini," sanggah Laila.
__ADS_1