
"Tapi, aku dan Celena masih..."
"Ya, kalian berhasil bertahan hidup setelah dipisahkan. Kami sangat mensyukuri itu. Tapi, untuk Celena yang harus hidup dengan satu ginjal saja, kesehatannya terus menurun dari waktu ke waktu. Dia sering sakit dan kondisinya terus melemah. Kami harus merawat Celena dengan perhatian ekstra karena kondisi pertumbuhannya tidak normal."
"Karena itukah, ibu begitu menjaga Celena, seolah dia terbuat dari kaca yang mudah hancur."
"Kenyataannya memang begitu. Ibumu merasa bersalah dengan kondisi Celena. Akibat keputusan kami saat itu, Celena mungkin harus menanggung rasa sakit seumur hidupnya. Untuk menebus rasa bersalah itu, ibumu mencoba mencintai Celena sebanyak yang dia bisa. Tapi bukan berarti dia tidak menyayangimu. Kau akan selalu memiliki tempat dihatinya."
"Ibumu masih butuh waktu, untuk melepaskan beban itu dihatinya. Jadi tolong pahami dia sedikit."
"Aku tahu ayah. Sekarang aku bisa sedikit mengerti."
__ADS_1
Aku mengerti bahwa aku dicintai. Karena ayah dan ibu memutuskan untuk mengorbankan satu ginjal Celena agar aku bisa hidup. Dan aku tidak tahu bahwa Celena telah memberikan sebagian hidupnya untukku.
Ayah mengusap luka diwajahku dengan lembut. " Besok kita harus ke rumah sakit untuk mengobati lukamu." Aku mengangguk.
Keesokan harinya, dua orang petugas yang ditugaskan menyelidiki kebakaran di rumahku, dan seorang detektif yang dimintai tolong untuk mencari kakakku, datang bersamaan menemui kami.
Pertama, petugas itu mengatakan bahwa kebakaran itu dipicu oleh kebocoran gas di dapur. Apakah itu kelalaian atau disengaja, mereka masih menyelidikinya.
Kami semua mengenali siapa pemilik gelang itu, terutama ibu yang langsung mengambilnya dengan tangan gemetar.
"Kami menemukan gelang ini di dekat pintu dapur, apa benar ini milik putri nyonya yang hilang?" Ibu mengangguk lemah sambil terus menatap gelang itu.
__ADS_1
"ini satu-satunya jejak yang ditinggalkan putri nyonya. Dan karena tidak ada satupun yang melihat dia keluar rumah ini sebelum kebakaran, maka besar kemungkinannya putri anda, Celena, menjadi korban tewas dalam kebakaran itu."
"Apa apan ini? Cuma karena kalian menemukan gelang kakakku di rumah ini, bukan berarti dia sudah tewas dalam kebakaran itu. Bisa saja kan gelang itu terjatuh saat dia pergi ke dapur," teriakku memprotes.
"Benar, kemungkinan itu ada, jika kami hanya menemukan kalung atau gelangnya saja. Tapi, sangat tidak mungkin jika kedua benda itu jatuh di tempat dan di waktu yang sama. Kemungkinan pemiliknya sengaja membuang perhiasannya, atau sesuatu yang buruk sudah terjadi pada pemiliknya."
Aku teringat dengan anting-anting milik Celena yang aku temukan sebelumnya. Menyadari bahwa kata-kata detektif itu benar, kepalaku terasa sakit seperti di hantam balok. Kami dihadapkan pada kenyataan yang mengerikan tentang kematian Celena.
"Mungkin anda benar, tapi bukankah harusnya kami menemukan jasad putri kami di dalam rumah paska kebakaran itu? Bukankah aneh jika kalian memaksa kami menerima kenyataan bahwa putri kami sudah meninggal dalam kebakaran itu, sementara jasad atau tulang-belulangnya tidak pernah kami temukan. Apakah semuanya menjadi abu?" Suara ayahku bergetar menahan kesedihan. Dia bahkan tak sanggup berkata-kata lagi, jatuh terduduk sambil menutupi wajahnya, sementara bahunya berguncang hebat.
"Itu memang aneh, kami masih terus menyelidiki dan melakukan pencarian ke seluruh kota. Sayangnya, pencarian kami belum membuahkan hasil. Tak ada satupun yang melihat putri anda keluar rumah sebelum kebakaran itu terjadi. Kecuali seseorang mencoba menyembunyikan, maka satu-satunya kemungkinan yang tersisa putri anda telah tewas dalam kebakaran itu." Kata si detektif.
__ADS_1