Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Teror dimulai, Tolong aku!


__ADS_3

Setelah pulang ke rumah, aku berulangkali memeriksa tas ku dan memastikan benda itu tidak akan kembali padaku. Aku sedikit lagi kunci itu dibawa Melya. Melya gadis pemberani dan baik.


Dari jendela kamarku aku melihat ke rumah Eli. Kondisinya masih belum membaik. Aku merasa bersalah atas apa yang menimpanya.


Seorang anak perempuan memakai seragam sekolah kami berdiri di depan pagar rumah Eli. Cukup lama dia di sana tapi tak ada yang keluar membukakan pagar.


Siapa dia? Apa dia salah satu teman sekelasku. Kenapa datang malam-malam begini?


Tiba-tiba dia menoleh dan melihat ke arahku. Tatapan kami saling bertemu, membuatku terkejut. Refleks saja aku menarik hordeng jendelaku. Ini aneh! Kamarku berada di lantai dua. Bagaimana dia tahu aku memperhatikannya sejak tadi?


Keesokan harinya dikelas,


"Tolong kumpulkan tugas sekolah yang dua hari lalu ibu berikan!"


Laila sudah mulai mengumpulkan tugas anak-anak. Aku pergi ke loker Eli, dimana kertas tugasku tersimpan. Kebetulan loker Eli tepat berada di bawah loker no. 13 itu. Aku segera mengusir jauh-jauh pikiran buruk itu.


Aku harus percaya tidak ada apapun di loker itu. Aku mengambil kertas tugas itu. Semuanya sudah ku selesaikan kemarin. Namun mataku menangkap noda merah pada ujung kertas. Apa ini? Aku yakin noda ini tidak ada saat ku taruh kemarin. Apa aku meletakkan sesuatu di dalam loker dan tidak sengaja menumpahkannya?


Aku menengok kembali ke dalam loker dan melongok isinya. Sesuatu yang kental berwarna merah merembas dari atas mengalir ke dinding lokerku. Dengan tangan gemetar aku memberanikan diri menyentuhnya untuk memeriksa cairan itu.


Bau anyir dari ujung jariku ini bau anyir darah! Darah itu terus membanjiri dinding lokerku hingga semua tertutupi warna merah. Darah itu mengalir dari loker di atasku. Loker no 13!


"Aaakhhh! Aku berteriak. Teman-teman sekelasku keluar. Melya dan Laila menghampiriku. Laila merangkulku membantu menenangkan diriku. Aku membenamkan diriku ke dalam pelukannya.


"Ada apa?" tanya Melya.


"Itu! Di sana! Ada banyak darah di dalam lokerku."


"Riri! Lihatlah! Tidak ada apapun di sana!" ucap Laila. Aku menoleh ke arah loker itu lagi. Melya sudah mengeluarkan semua isinya. Namun tidak ada apapun. Kosong bersih. Tidak sama seperti yang kulihat tadi. Noda merah yang tadi kulihat diujung kertasku juga tidak ada.


Laila membantuku berdiri dan membawaku masuk ke kelas. Anak-anak menatapku dengan aneh. Aku yakin tadi itu bukan halusinasi. Aku bisa merasakan lengket di ujung jariku. Bahkan aku mencium bau amis darah. Tapi kenapa dalam sekejap semuanya hilang tanpa bekas?


Setelah jam pelajaran usai, Bu Desi meminta Laila, Melya dan aku untuk membawa tugas anak-anak ke ruang guru. Laila dan Melya berjalan di depanku dan aku mengikuti di belakang.


Aku melangkah dengan tatapan kosong. Masih memikirkan kejadian tidak masuk akal tadi. Bahkan Melya pun tidak melihat apapun di sana.


"Bruk!" Karena melamun aku bertubrukan dengan seseorang di depanku.


"Maaf! Aku tidak lihat-" kata-kata terpotong begitu melihat siapa yang ada di hadapanku. Gadis dengan banyak luka gores di wajahnya. Dia tertawa terbahak-bahak. Tak peduli dengan darah yang mengalir dilukanya. Dia mendekatkan wajahnya padaku.

__ADS_1


"Aakh!" Aku menjerit sambil menutupi wajahku. Aku ketakutan. Kertas tugas yang tadi ku bawa berhamburan ke lantai.


"Riri! Ada apa?" tanya Melya menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Tadi, gadis itu, menabrakku.mukanya- mukanya menakutkan!" ucapku panik. Aku asal menunjuk ke belakang.


Melya menarik salah seorang siswi yang baru saja melewatiku.


"Kau tadi menabraknya?" tukas Melya marah.


"Tidak! Aku tidak menabraknya!" sanggah gadis itu. "Dia jatuh sendiri."


Melya melihat ke arahku dengan tatapan bertanya.


"Bukan dia yang menabrakku tadi," jawabku, menjelaskan pada Melya. Melya melepaskan gadis itu dan meminta maaf.


"Mungkin dia sudah pergi," ujar Laila menduga. Melya menghela nafas.


Aku kembali ke rumah dan menghempaskan diri di atas tempat tidur. Belakangan ini aku merasakan sangat lelah. Kejadian yang kualami hari ini terus terbayang dalam ingatanku.


Aku mengalihkan pikiranku dengan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Cahaya berwarna jingga menyusup ke kamarku. Hari sudah senja, aku melirik ke jendela.


Aku melihat anak yang kemarin berdiri lagi di sana. Tak ada satupun yang menggubrisnya. Mau apa dia?


Aku menelpon Melya.


"Melya bisakah kau datang ke rumahku? Ada yang ingin ku bicarakan."


"Ada apa? Katakan saja sekarang?"


"Aku ingin mengatakannya langsung."


"Apa sesuatu terjadi lagi?"


"Aku melihatnya. Gadis itu selalu berdiri di sana sejak kemarin. Aku merasa ada yang aneh dengannya. Dia tahu aku memperhatikannya. Tapi dia tetap tidak mau pergi. Aku hanya ingin memastikan bahwa itu bukan hanya halusinasiku saja."


"Aku akan ke sana. Tunggu sebentar!"


Setelah itu telpon dimatikan. Riri menunggu dengan tidak sabar. Akhirnya Melya menghubunginya balik.

__ADS_1


"Sedikit lagi aku sampai. Ada di mana dia?"


"Dia di depan pagar rumah Eli."


"Apa dia masih ada di sana?" tanya Melya. Aku mengintip sedikit dari balik tirai. Setelah memastikannya aku langsung menutupnya lagi.


"Iya, gadis itu masih ada di sana," jawabku.


"Aku sudah sampai. Di mana dia?" Ujar Melya bertanya dari seberang sana.


Aku memberanikan diri mengintip lagi. Namun gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada Melya yang berdiri celingukan mencari-cari gadis yang kumaksud tadi.


"Tadi baru saja masih ada," kataku di telpon, sambil ikut mencari melalui jendela kamar.


Tiba-tiba sesosok wajah menakutkan muncul dari jendela dan membentur kaca hingga bergetar. Aku melompat menjatuhkan diri ke belakang saking kagetnya.


Wajah yang sama yang kulihat tadi siang. Dia yang berdiri di depan pagar rumah Eli. Wajah itu menempel lekat-lekat ke kaca jendela seolah ingin menerobos masuk. Wajah buruknya menunjukkan seringai jahat.


"Aaakhhh! Tolong aku!" teriakku.


"Riri, ada apa?" tanya Melya di telpon.


"Dia ada di sini. Di depan jendela kamarku. Aku takut sekali. Tolong aku!" ujarku sambil terisak-isak.


Tak lama berselang pintu kamarku di gedor.


"Sayang, ini mama! buka pintunya nak!" suara mamaku memanggil dari luar kamar. Aku bergegas membuka pintu dan menghambur ke arahnya. aku memeluk mamaku erat.


"Dia di sana! di jendela!"


Ayahku memeriksa jendela. "Tidak ada apa-apa," katanya.


"Dia pasti sembunyi. Dia mengejarku sampai ke sini."


"Dia siapa?"


"hantu itu!"


"hantu ??" keluargaku tercengang mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku.

__ADS_1


"Nak, kita sudah tinggal di rumah ini bertahun-tahun. Tidak ada hantu selama ini." ujar ayahku.


aku menarik Melya ke dalam kamar. "Melya, tolong periksa kamarku! Aku yakin dia bersembunyi di dalam. Kau bisa melihatnya 'kan? tolong bantu aku!"


__ADS_2