
"Hii!" pekik Eli ketakutan dan melempar gulungan itu kearah si mumi besar.
"Apa dia mumi?" Bisik Eli.
"Tidak mungkin mumi pakai baju," ujarku.
Makhluk itu menatap kami, melempar gulungan bola itu ke arah kami lagi.
"Ini milikmu! Kami kembalikan!" ucapku sambil melempar balik gulungan itu lagi. Makhluk besar itu melemparnya lagi pada kami.
"Aku tidak butuh ini!" Aku balas melemparnya lagi seolah kami berdua sedang bermain lempar bola.
"Apa dia mengajak kita bermain bola?" bisikku pada Eli dibelakang.
"Kurasa dia ingin memintamu memasangkan perban yang terlepas itu."
"Bagaimana caranya?"
"Lilit saja!"
Aku mulai melilitkan perban itu di tubuhnya.
"Melya, kau benar-benar tidak berbakat jadi perawat." sindir Eli melihat yang kulilit semakin berantakan.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak pernah melakukan ini. Kalau kau bisa, kau saja yang lakukan!"
Akhirnya selesai. Meski terlihat berantakan sepertinya makhluk itu puas dengan hasil kerjaku. Dia pergi dengan senang. Tadi kulihat sedikit tubuh makhluk itu dipenuhi luka bakar. Aku juga mencium bau daging panggang. Apa dia korban kebakaran?
"Ada apa?" tanya Eli bingung melihatku masih terdiam di tempat.
"Tidak ada. Ayo pergi!" ajakku sambil menaiki tangga.
"Kita tidak jadi turun?"
"Kau ingin bertemu makhluk itu lagi?"
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!"
"Kalau begitu ayo naik! Aku juga tidak ingin bertemu dengannya lagi."
Di lantai atas lebih banyak kamar dan semuanya tertutup rapat. Kami mengintipnya satu persatu. Banyak makhluk aneh yang belum pernah kulihat. Beberapa kamar terkunci.
"Kita coba dulu semua yang tidak terkunci."
Kami beralih ke pintu kamar lain. Ruang kamar yang kami datangi selanjutnya sangat gelap. Sepertinya kosong juga. Aku hendak menutupnya kembali, namun tiba-tiba sebuah tangan pucat seperti mayat dipenuhi kerut memegang tangan kananku. Tangannya sedingin es.
"Aaakhhh!" Aku berteriak karena terkejut. Tangan itu mencoba menarikku masuk ke dalam. Aku bertahan dengan tangan kiriku masih memegang knop pintu. Eli juga membantu menarikku keluar. Aku berusaha menutup kamar itu lagi, tapi sebuah kepala wanita tua menyembul dari celah pintu dan mengganjalnya.
"Hii!"
"Anakku! Jangan pergi! Ibu akan menyayangimu!" ucap hantu wanita tua itu.
"Aku bukan anakmu! Kau salah orang!" Aku terus bertahan tapi kaki mulai terseret.
__ADS_1
"Ini ibumu, nak! Jangan pergi! Ibu akan menyanyikan lagi tidur untukmu."
"Aku tidak butuh itu! Lepaskan aku!" teriakku. Sebuah tangan lain muncul dan memegang tangan hantu itu. Dia meronta kesakitan dan akhirnya melepaskan tanganku. Hantu itu masuk ke dalam kamarnya lagi. Kami buru-buru menutupnya.
Aku menengok untuk melihat siapa yang menolong kami.
"Kak Angga?"
Ternyata Angga. "Apa yang kau lakukan disini?"
Aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang diam-diam mengikutinya tadi.
"Nanti saja kujelaskan di rumah! Sekarang kakak bantu aku menemukan kak Jun dan juga adiknya."
"Apa maksudmu?"
"Dia ditelan oleh makhluk yang menempel di dinding. Sekarang aku tidak tahu keadaannya bagaimana. Kami memeriksa kamar ini untuk mencarinya."
"Jangan sembarangan membuka kamar-kamar ini. Karena kau tidak tahu makhluk apa yang terkurung di sana."
"Sekarang kalian harus segera keluar dari tempat ini! Berbahaya jika kalian disini!"
"Tapi bagaimana dengan kak Jun?"
"Biar aku yang mencarinya," jawab Angga.
"Kembalikan adikku padaku!" Sebuah suara menggema di koridor. Itu suara kak Jun. Aku langsung bergegas mencari asal suara itu tanpa menghiraukan panggilan Angga.
Kami menemukan kak Jun di ujung lorong berdebat dengan sosok wanita memakai payung itu. Kenapa dia masih saja memakai payung di dalam sini?
"Dengarkan aku dulu. Aku tidak menculiknya jadi berhenti menuduhku."
"Kalau begitu dimana adikku?"
"Dia tidak ada bersamaku saat ini. Kau lihat 'kan?"
"Tadi kan kakak bersamanya!" teriakku ikut campur.
"Tadi memang iya. Aku berniat mengantarkannya pulang karena kakaknya tidak datang menjemput. Tapi karena kalian sudah datang, ya tidak jadi."
"Kalau begitu kenapa tadi malah kabur?!"
"Tadi lift nya tertutup sendiri. Bukan aku yang menutupnya!"
"Haah?? Apa kakak juga akan bilang lift nya naik sendiri?"
"Memang itu yang terjadi."
Dasar pembohong! Jelas-jelas dia sedang berbohong. Masih saja mengelak. Tidak bisa dipercaya!
"Kalau begitu bilang, sekarang adiknya kak Jun ada di mana?"
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
"Apaan?!!"
"Dia kabur dariku dan bersembunyi di antara kamar-kamar itu."
"Kamar yang mana?"
"Sudah kubilang aku tidak tahu!"
"Tidak mungkin tidak tahu! Kakak pasti tahu kamar yang mana tempat adik kak Jun berada."
"Kenapa kau berpikir aku mengetahuinya?"
"Kakak tinggal di sini jadi tidak mungkin kalau kakak tidak tahu!"
"Daripada kalian memaksaku bicara. Lebih baik kalian mulai mencarinya sekarang. Lebih banyak yang mencari lebih cepat ketemu 'kan?"
"Sebenarnya apa alasanmu melakukan ini padaku? Apa aku ada salah padamu? Jika ya aku minta maaf! Tapi tolong jangan lakukan ini. Adikku tidak bersalah. Kembalikan dia padaku!" ujar kak Jun dengan suara terisak. Dia meringkuk dengan putus asa. Seminggu ini dia sudah kelelahan mencari adiknya. Aku mengerti perasaannya
Sementara hantu wanita itu hanya menatap dingin pada kak Jun.
"Kak tidak salah apapun. Hanya nasibmu yang kurang beruntung... bertemu denganku."
Melihat kak Jun seperti itu merasa kasihan. Aku marah pada hantu itu.
"Aku tidak tahu kakak serius atau main-main. Aku juga tidak tahu kakak jujur atau bohong. Yang pasti perbuatan kakak sudah keterlaluan!" ucapku sambil menarik lengan baju hantu itu agar dia memperhatikanku."
"Kau bisa menyentuhku??" ujarnya padaku dengan nada bertanya.
"Kakak sudah tahu dari awal 'kan kalau aku memang berbeda dengan anak lainnya!"
"Tahu apa kau, bocah! Menjauh dariku sebelum aku marah!
"Aku tidak peduli jika kakak marah! Aku juga bisa marah! Aku tahu kalian suka mengganggu manusia atau menakut-nakuti dengan wujud kalian, tapi kalau sampai menculik manusia, itu sudah kelewat batas! Aku tidak akan memaafkannya!"
"Lalu, kau mau apa? Ingin melawanku?"
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mau bicara yang sebenarnya, dimana adik kak Jun!"
"Haaah! Padahal sudah ku peringatkan tapi tidak mengerti juga. Sepertinya kali ini kau harus dilukai sedikit agar jera!"
Tangannya melayang ke arahku. Bahaya! Firasatku menyuruhku untuk menjauh, jika tidak aku bisa benar-benar terluka. Dia memang berbahaya!
"Evania!" sebuah suara yang lantang menghentikannya. Aku berpaling dan melihat Angga menatap marah ke arah wanita itu.
"Bahkan kau sekalipun tidak akan ku maafkan jika sampai melukainya," ujar Angga dengan nada mengancam. Aku segera mundur menjauh dari hantu wanita itu.
Dia melihat ke arah jendela, sebelum akhirnya berkata, "Baiklah! Permainan usai! Satu lawan empat, aku kalah!
Tiba-tiba salah satu kamar di dekat sana terbuka dan gadis yang kami lihat tadi keluar.
"Jen!"
"Kakak!" Jen menghambur ke arah kakaknya dan memeluknya. Melihat mereka aku jadi terharu. Akhirnya mereka bisa bersama lagi.
__ADS_1
"Aku kembalikan adikmu padamu! Jaga dia baik-baik!" ucap wanita itu.
Kami pun pulang bersama, namun Angga tetap di sana.