
Bab 109
"Kau menyuruhku?"
"A-aku tidak bermaksud menyuruhmu. Hanya saja kalau kau tidak minta maaf, anak itu akan mengadu pada ibunya dan mendatangimu lagi." Buru-buru aku menjelaskan maksudku. "Jadi lebih baik kalau kau minta maaf lebih dulu." Lanjut ku sambil mengalihkan pandanganku darinya, merasa tidak nyaman ditatap oleh Celena seperti itu.
Dasar bodoh! Apa yang kukatakan padanya? Dia ini lebih menakutkan dari pada anak-anak itu. Meski tadi dia membelaku pada dasarnya dia sama saja dengan anak-anak nakal itu.
"Mereka juga melemparimu dengan bola, tapi kau tidak menyuruh mereka meminta maaf." Protes Celena.
"Tidak. Mereka cuma melempariku dengan bola. Itu tidak sakit. Aku baik-baik saja," ujarku sambil tertawa gugup. Celena berjalan mendekatiku. Spontan aku mundur karena takut, tapi terjebak karena di belakangku tembok.
__ADS_1
Aku mengangkat lenganku, berusaha melindungi diriku darinya karena kukira dia akan memukuliku seperti anak-anak tadi. Tapi tidak. Dia justru memegang lenganku.
"Aagh!" pekikku kesakitan, bukan karena Celena menyakitiku tapi karena dia menyentuh lebam di bawah lenganku.
Karena aku mencoba melindungi diriku saat anak-anak itu melempariku dengan bola kaki, akibatnya lenganku jadi memar terkena lemparan bola.
"Sepertinya tidak baik-baik saja." Celena tahu aku berbohong menyembunyikan rasa sakit ku. Tidak kusangka dia akan seteliti itu.
Apa yang dikatakan Celena memang benar. Jika aku bilang pada orangtuaku, maka masalahnya akan selesai. Tapi sayangnya, orangtuaku adalah orang-orang yang sibuk setiap harinya. Mereka tidak punya waktu mendengarkan keluhanku.
Kalaupun aku tunjukkan memar ini pada ayah, ketimbang marah pada anak-anak itu, dia mungkin akan lebih kecewa pada putrinya. Dia pasti akan bertanya kenapa anak-anak itu merundungku. Karena anak yang dirundung biasanya anak-anak yang tidak bisa berteman. Ayah akan menyalahkanku karena aku gagal mendapatkan teman di sekolah. Dia mungkin akan bilang "cobalah berteman dengan teman sekelasmu, dengan begitu mereka akan berhenti mengganggumu. Apa hal sepele begitu pun kau tidak bisa? Jangan merepotkan orangtuamu dengan hal tidak berguna."
__ADS_1
Ayah dan ibuku adalah orang yang aktif dilingkungan sosial. Mereka akan malu jika anak mereka tidak bisa bergaul seperti mereka. Walaupun kenyataannya aku memang sulit mendapatkan teman karena sifatku yang penakut.
Karena itulah aku memilih diam dan tidak menceritakan hal ini pada orangtuaku.
"Memarnya akan hilang dalam dua tiga hari. Jadi tidak apa-apa. Aku tidak perlu bilang pada orangtuaku," ujarku sambil menunduk murung. Celena melepaskan tanganku dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Dia juga pasti kecewa padaku. Padahal dia sudah repot-repot membantuku. Aku memang payah.
Keesokan harinya saat pulang sekolah Celena menegurku. Dia minta aku mengantarnya ke toko camilan yang baru saja buka. Kami pun jadi sering pulang bersama dengan berbagai alasan. Aku bukannya tidak tahu alasan Celena melakukannya, agar anak-anak yang kemarin menggangguku tidak berani mendatangiku lagi. Setelah bersama dengannya beberapa hari, aku jadi paham bahwa Celena adalah anak yang tidak suka menunjukkan terang-terangan kebaikannya pada orang lain. Karena itu aku pura-pura tidak tahu. Akhirnya kami pun menjadi dekat dan sering pulang bersama, sampai hari naas itu terjadi.
Aku terbangun menatap sekeliling. Seolah masih terjebak dalam mimpi aku seperti melihat bayangan Celena kecil berdiri di dekat pintu sambil berdecak padaku dan meletakkan tangannya di pinggang.
"Payah ! Padahal badanmu besar! Tapi membuka pintu ini saja kau tidak bisa!"
__ADS_1
aku tersenyum getir mengingatnya membuat hatiku sakit. karena aku sadar teman baikku Celena tidak mungkin kembali lagi.