
POV Jun
Bulan menggantung bak mutiara. Sebuah taksi meluncur dengan cepat di jalan yang berlumpur sehabis hujan, membawa dua remaja di dalamnya. Ku rangkul tubuh adik perempuanku yang sedang sakit.
Dia memandang ke luar jendela. perasaannya cemas dan gelisah. Sekarang pukul 2 pagi. Masih adakah rumah sakit yang menerima pasien jam segini?
"Pak, berapa lama lagi sampai?" tanyanya gelisah. Rasanya sudah cukup lama, tapi kenapa belum sampai juga? Malah seperti terjebak dan berputar-putar di tempat yang sama.
"Maaf, pak! Sepertinya karena kabut yang tebal jadi tidak bisa melihat jalan dengan benar," jawab sopir taksi itu.
Apa artinya kami tersesat. Supir itu benar. Kabutnya memang sangat tebal. Sampai susah melihat jalan di depan.
Seorang perempuan nampak berdiri dipinggir jalan. Hatiku sedikit janggal melihat seorang gadis jam segini diluar rumah. Apalagi gadis itu tetap memakai payung meski hujan sudah berhenti sejak tadi.
Aku memutuskan untuk berhenti dan bertanya jalan padanya.
"Berhenti dulu pak! Ada orang di depan. Saya akan coba tanya jalan padanya."
"Hati-hati, mas! Saya merasa ada yang aneh masih ada perempuan keluar di jalan.jam segini." Kata supir itu. Aku tahu, tapi tak ada cara lain.
"Maaf, permisi! Apa anda tahu jalan menuju rumah sakit yang terdekat dari sini?" tanyaku.
Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh payung. Dia sempat diam tak menjawab. Dia menengok ke arah mobil, lalu berkata, "Apa dia adikmu?"
"Benar! Adik saya sedang sakit dan butuh dokter secepatnya," jawabku. Dia lalu memberiku sebuah kartu.
"Jalan saja lurus ke depan. Di sana masih ada rumah sakit yang masih buka. Tunjukkan kartu itu pada penjaga di depan. Mereka akan membantumu."
"Terima kasih!" ucapku lega. Segala firasat buruk terlupakan. "Anda mau ke mana? Mau saya antarkan juga?"
"Tidak perlu! Jalan saja! Tak usah hiraukan saya!" jawabnya. Aku pun kembali ke mobil.
Aku terus melihat perempuan itu dari kaca jendela mobil belakang, dengan rasa penasaran bercampur heran. Usianya sedikit lebih tua dariku sepertinya. Dia memakai gaun berwarna berwarna putih panjang. Saat bicara suaranya indah srksli dan enak didengar. Apakah dia seorang penyanyi yang baru pulang bekerja? Kalau ya, dia sungguh berani. Aku bisa bayangkan secantik apa wajahnya yang ditutupi payung itu. Perlahan sosok perempuan itu pun tenggelam oleh kabut.
__ADS_1
Oh ya tadi dia juga memberiku d sebuah kartu. Aku memperhatikan sebuah kartu bewarna hitam yang tulisannya tidak bisa kubaca. Apa ini semacam kartu keanggotaan?
Tak lama taksi kami pun tiba di depan bangunan rumah sakit yang megah. Aku baru tahu ada rumah sakit ini. Bangunannya lebih mirip seperti villa dengan banyak lantai dan kamar.
Aku menggendong adikku masuk ke lobi rumah sakit. Ada dua perawat yang berjaga di depan.
"Tolong bantu saya, suster! Adik saya demam tinggi dan butuh perawatan segera."
Kedua perawatan hanya saling berpandangan bingung.
"Apa anda tahu ini rumah sakit apa?"
"Apa ini rumah sakit hewan?" tanyaku menahan kesal.
"Tentu saja bukan!"
"Jadi, apa aku harus tahu dulu ini rumah sakit apa sebelum berobat di sini."
Aku memang pernah mendengar ada di rumah sakit khusus yang dibangun khusus untuk keluarga atau organisasi tertentu. Apa mungkin rumah sakit ini juga seperti itu?
"Jika berkenan kami bisa memberikan rujukan ke rumah sakit lain kalau menang diperlukan kami bersedia meminjamkan ambulan kami untuk mengantarkan," kata perawat itu lagi.
Aku melihat wajah adikku kian pucat. Nafasnya juga berat dan demamnya semakin tinggi. Dia tidak bisa melakukan perjalanan lagi dan harus cepat-cepat mendapatkan pertolongan.
"Saya sudah mendatangi dua rumah saki sebelum ke sini dan semua sudah tutup. Adik saya tidak bisa melakukan perjalanan lagi. Tolonglah! Sekali ini saja! Apa tidak ada pengecualian?" Aku memohon.
"Kami mohon maaf tapi memang tidak bisa. Rumah sakit ini punya peraturan. Bisa-bisa kami yang dimarahi."
Aku teringat kartu yang diberikan perempuan itu. Aku langsung menunjukkan kartu itu pada kedua perawat itu. Ekspresi mereka berubah kaget dan bingung. Mereka saling menatap.
"Ada masalah apa?" Seorang pemuda muncul.
"Kak Alden!" seru kedua perawat itu senang dan nampak lega. Aku tidak tahu siapa pemuda ini tapi melihat reaksi kedua perawat itu sepertinya dia punya jabatan yang lebih tinggi dari perawat ini.
__ADS_1
Dia memakai seragam petugas kesehatan tapi usianya masih terlihat muda sekitar 18-20 tahun. Salah seorang perawat menghampirinya dan menceritakan masalahnya dan menunjukkan kartu itu. Pemuda itu memperhatikannya dengan seksama.
"Dari mana Anda mendapatkan kartu ini?" tanyanya menyelidik.
"Saya bertemu dengan seorang wanita dalam perjalanan, dia memberikan kartu itu kepada saya dan menunjukkan arah ke sini," jawabku. "Apa ada masalah dengan kartu itu?"
"Tidak ada. Maafkan untuk masalah tadi," ucapnya sopan. "Silahkan ikuti saya, akan saya antarkan anda ke ruang perawatan. Adik anda harus segera diobati bukan?"
Aku menurut dan mengikutinya naik lift. Berbeda dari tampilan luarnya. Menampilkan dalamnya terlihat modern dan terawat tidak seperti bangunan tua. Bahkan mereka memiliki life seperti rumah sakit umumnya.
Di sepanjang lorong ada beberapa kamar tertutup. Aku tidak tahu apakah kamar itu ada penghuninya atau tidak. Suasana rumah sakit ini nampak sunyi. Cahaya yang menerangi lorong juga temaram dan tidak terlalu terang. Bahkan ada beberapa sisi yang dibiarkan gelap.
Ketakutan mulai menggerayangi ku. Untuk mengusir ketakutan aku mengajak pemuda itu mengobrol.
"Gadis pemilik kartu itu, apakah dia salah satu pasien di rumah sakit ini juga? Atau dia salah satu anggota dari keluarga yang diperbolehkan berobat disini?"
" Tidak keduanya. Dia bekerja disini juga sebagai rekan kami."
"Kenapa dia keluar sendirian malam-malam? Kurasa tidak baik sendirian diluar malam-malam begini."
"Terima kasih perhatiannya. Dia memang memiliki penyakit sulit tidur, dan jika sudah begitu dia memilih keluar mencari udara segar. Tapi anda tak perlu khawatir, dia menjaga dirinya sendiri."
Percakapan kami berakhir dan kami tiba di sebuah kamar yang terletak diujung lorong. Pemuda itu membuka kamar itu. Nampak sangat bersih dan terawat. Ada sebuah tempat tidur meja Dan lemari kecil dan sebuah sofa di sisi lain. Seperti ruang rawat kelas satu.
"Silahkan baringkan adik anda di sana, dan beristirahatlah. Saya akan memanggil dokter untuk memeriksanya segera."
"Selama saya pergi. Mohon tidak keluar dari kamar ini, ataupun rumah sakit ini. Untuk makanan kami akan antarkan langsung juga untuk anda, jadi tidak perlu cari di luar. Apa anda paham?"
Aku mengangguk mengiyakan. Kemudian pemuda itu menutup pintunya dan meninggalkan kami berdua.
Ah aku lupa belum menghubungi ayah dan ibu untuk memberitahukan kepadanya adik. Mereka sedang keluar kota. Mungkin pagi ini kembali. Aku harus menelepon mereka.
Sayangnya saat aku memeriksa ponselku. Tidak ada sinyal sama sekali. Bagaimana ini?
__ADS_1