Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Aku kembali


__ADS_3

maaf ya karena sempat gak up selama seminggu. Saya kesulitan karena hp sempat mati total begitu hidup saya gagal login ulang dan nyaris buat akun baru. tidak bisa dibayangkan kalau saya harus mulai lagi dari awal 😭😭. Untungnya tadi malam berhasil login begitu saya hapus dan download ulang.🤧 Sebagai permintaan maaf saya akan up dua hari sekali. syukurnya cerita tentang misteri loker no 13 ini sudah saya rampungkan. dan sudah saya up semua. semoga kalian suka dan mohon bantu dukungannya dengan member like. terima kasih. 🙏


🌿 🌿 🌿


POV Reina


Ketika manusia jatuh dalam penderitaan, rayuan iblis terdengar manis. Meninggalkan akal sehat dan logika. Yang tersisa dari diriku saat itu bukanlah manusia. Hanya sebongkah kebencian yang didorong oleh kemarahan.


Aku melangkah masuk menapaki lorong yang sunyi dari orang-orang. Waktu dan keadaanlah yang memberikan kesempatan untuk melakukannya.


Dia sendiri berada di ruang kelas. Awalnya ekspresinya senang melihatku, kemudian menjadi gusar karena aku terus mendekatinya tanpa bicara. Ekspresi di wajahku seakan sudah menunjukkan niatku. Sebilah pisau dingin dan tajam yang tadi tersembunyi di dalam tas ku, kini ku ayunkan kearahnya.


Raut ketakutan yang tergores di wajahnya menjadi pemandangan terakhir yang terekam dalam ingatanku, sebelum teriakannya menggema ke seluruh lorong bangunan berlantai tiga.


* * *


"Krincing!" Sebuah kunci terjatuh dari genggamanku. Suaranya membangunkanku dari mimpi buruk.


"Lagi-lagi mimpi itu!" Aku menyibak poniku ke belakang dan menatap jendela bus. Barisan pohon bambu berbaris memagari sepanjang jalan yang dilewati bus ini.


Aku meraihnya kembali dan menatap benda itu. Kunci loker nomor 13. Dari dulu aku tak pernah percaya takhayul. Entah itu membawa kesialan atau keberuntungan. Semuanya ditentukan seberapa banyak kau berusaha, bukan ditentukan oleh benda atau angka.


Namun sepertinya benda ini benar-benar mengutukku. Kunci ini tertinggal saat aku menemui Maiya terakhir kali. Karena benda ini juga polisi datang ke tempatku. Dari mereka lah aku tahu kabar kematian Maiya.


Polisi sempat menanyakan padaku kapan aku kehilangan kunci itu. Aku hanya bisa menjawab tidak ingat. Tidak mungkin aku bilang kunci itu terjatuh saat aku berselisih dengan Maiya.


Jawaban itu cukup wajar mengingat kondisiku yang saat itu masih dalam masa rehabilitasi dan pemulihan dari guncangan mental. Meskipun mereka tahu aku berbohong, kunci itu saja tidak bisa dijadikan bukti keterkaitanku dengan kematian Maiya.


Untuk beberapa saat kunci itu ada di tangan polisi sampai kasus itu selesai. Setelah itu dikembalikan ke pihak sekolah. Kunci itu silih berganti kepemilikan. Namun katanya siapapun yang pegang kunci itu selalu mendapatkan kesialan.


Pemilik terakhir kunci itu anak bernama Riri yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Kunci ini juga sempat ada di tangan keponakanku sebelum dia mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Lebih tak masuk akal lagi, kunci itu secara ajaib muncul di laci mejaku.

__ADS_1


Apa semua ini ada kaitannya dengan kunci itu? Atau dengan arwah Maiya yang sampai saat ini belum tenang? Eli bilang bahwa Riri dirasuki oleh arwah Maiya. Arwah itu mencariku? Untuk apa?


Hah! Aku menyandarkan kepalaku ke kursi bus yang sedang melaju ke kota kelahiranku. Semua selalu kembali meski aku mencoba berlari. Orang bilang masa lalu tak bisa ditinggalkan selamanya karena seperti hantu yang akan selalu mengikutimu kemanapun kau pergi.


Seperti mimpi buruk itu yang terus berulang ratusan kali, atau suara Maiya yang kerap kali ku dengar ketika aku sendirian di kamar. Bukan berarti aku takut atau percaya adanya hantu. Aku hanya lelah menghadapi ini hampir setiap hari.


Untuk itulah aku datang ke kota ini. Akan ku buktikan sendiri benar atau tidaknya keberadaan arwah Maiya. Menghadapinya langsung bisa jadi satu-satunya cara menghentikan mimpi burukku yang terus berulang.


Saat bus tiba di halte kota, hari sudah larut. Namun jalan yang kulewati masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah.


Aku tak memberi kabar mengenai kunjunganku kepada kakak. Apa yang harus kukatakan padanya. Dia tak ingin aku datang ke kota ini lagi.


Dari kejauhan aku melihat Eli keluar dari gerbang rumah, dan seorang suster di dekatnya.


"Eli!" seruku, seraya mempercepat langkahku mendekatinya.


"Bibi Reina!" Eli berlari dengan terpincang-pincang menghampiriku. Dia memelukku sambil menangis.


"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi? Di mana ayah dan ibumu?" tanyaku bingung.


Aku mendorong Eli lembut dari pelukanku. " Ada apa, El? Kenapa kau ingin keluar malam-malam?"


"Melya tadi menelponku. Dia bilang Riri menghilang dari rumah sakit dan sekarang ada di sekolah."


"Temanmu yang kau bilang kemasukan arwah itu?" tanyaku memastikan. Dia mengangguk.


"Melya sekarang sedang pergi menjemputnya," ujarnya lagi memberitahu.


"Sendirian?" seruku heran. Kalau Melya teman sekelasnya yang katanya bisa melihat hantu. Berani sekali dia pergi sendiri malam-malam ke sekolah. Apa orangtuanya tidak melarangnya?


"Dia bilang akan minta bantuan penjaga sekolah. Aku cemas pada Riri. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya? Bagaimana kalau dia tidak bisa ditemukan?"

__ADS_1


"Tenanglah, El! Dia akan baik-baik saja. Aku yakin. Aku juga akan ke sana untuk membantu mencarinya."


"Aku ikut ya, bi!"


"Tidak boleh! Kau masih sakit. Jalan saja susah. Tunggu kabarku di rumah ya."


"Apa bibi akan mengikuti rencana Melya?"


"Ya, berikan aku nomor ponselnya, beritahu dia aku setuju dengan rencananya tapi jangan bilang padanya kalau aku datang ke sana langsung."


Untunglah Eli menurut dan masuk ke dalam rumah bersama perawatnya. Padahal tadinya aku ingin istirahat dulu, malah langsung terlibat dengan masalah ini.


Ini bukan main-main lagi. Meski setengah hatiku masih tak percaya bahwa Maiya telah bangkit lagi menjadi arwah, aku melangkah dengan yakin menuju bangunan sekolah lamaku.


Bangunan sekolah ini terpisah dari pemukiman penduduk. Hanya ada deretan toko toko kecil yang sudah tutup. Hanya rumah penjaga sekolah yang paling dekat berjarak sekitar 200 meter.


Lampu jalan berkedip sesekali sedangkan bulan tak tampak sama sekali. Udara dingin menggigit di kulit meski aku sudah memakai jaket.


Aku berdiri sejenak di depan gedung sekolah. Bangunan berlantai tiga yang begitu megah berubah menjadi suram di malam hari. Hanya kegelapan yang menyelimuti gedung tua yang usianya hampir seabad.


Gerbangnya terbuka, berarti seseorang sudah masuk ke dalam. Mungkin anak bernama Melya itu juga ada di dalam. Namun begitu masuk ke dalam aku tidak menemukan tanda-tanda ada orang lain di sana. Apa mereka semua sudah pulang?


Aku menerima pesan dari anak bernama Melya.


"Aku sudah siap, kak. Mulailah berbicara dengan Maiya. Katakan apapun yang ingin dikatakan. Arwah itu akan mendengarnya."


Aku segera membalas, "Kamu ada di mana?"


Beberapa menit menunggu tidak ada balasan, aku mula menghubungi nomor itu.


"Kau mencariku, Maiya?" Ada sesuatu yang berat mengganjal di hatiku saat nama itu ku sebut.

__ADS_1


"Aku di sini, Maiya! Aku sudah datang untuk bertemu denganmu."


Tak lama terali besi yang ada di ujung-ujung tangga, yang tadinya tertutup perlahan bergeser, seolah mempersilahkan diriku untuk naik.


__ADS_2