
Akhirnya kepala desa setuju membawa kami ke tempat dukun itu.
Sesampainya di rumah dukun itu mataku tertuju pada sebuah kerangkeng dari kayu. Di dalamnya terkurung seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahun.
Anak yang sempat kulihat dalam ingatanku. Dia yang memainkan boneka yang ditemukan oleh Lisa. Terakhir kulihat dia terjatuh ke sungai. Apa dia tertangkap setelah itu?
Aku miris melihat anak kecil itu. Kami berdua pernah berada di posisi yang sama. Namun aku masih diperlakukan layaknya tawanan. Sedangkan anak kecil dikurung seperti hewan.
Sepertinya yang marah bukan hanya aku saja. Di belakangku Einar dan anak serigala itu menunjukkan emosi marah. Namun langsung mereka sembunyikan saat pak kepala desa memperkenalkan kami pada dukun Arang.
Selain dukun Arang ada dua pria lain yang berdiri dekat kurungan. Mataku tak lepas dari kurungan itu membuat dukun Arang jadi berbalik mengawasiku.
"Saya akan langsung saja. Saat ini teman saya sedang ditawan oleh para siluman berkepala banteng. Pemimpin mereka meminta pertukaran sandra. Sebagai ganti nyawa teman saya, mereka meminta anda melepaskan siluman muda yang anda tangkap," ucapku memulai perundingan.
"Enak saja kau bicara! Aku sudah susah payah menangkap makhluk siluman satu ini. Malah minta kau lepas begitu saja."
"Dukun Arang, apa anda tahu siapa teman saya yang sedang ditawan itu? Dia cucu seorang pejabat tinggi. Ibunya wartawan dan ayahnya juga memiliki kenalan orang-orang penting. Jika sampai terjadi apa-apa pada teman saya, saya akan ceritakan semuanya ke pihak keluarganya dan menyalahkan anda!" ujarku mengancam sambil menunjuknya.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" ujarnya dengan nada sombong.
"Jika anda tetap tidak mau melepaskannya, berarti anda membiarkan teman saya berada di sana selamanya. Keluarga teman saya pasti tak akan membiarkan Anda begitu saja," ujarku mengancam. "Tapi jika anda membantu membebaskannya, keluarganya akan memberikan imbalan yang besar dan anda akan semakin terkenal. Apa anda tidak menginginkannya?" Kali ini aku membujuknya.
"Bohong! Kau pasti sedang berbohong saat ini. Aku tidak mendengar berita ada cucu pejabat yang hilang."
"Kalau semua orang tahu dia anak pejabat tinggi, semua penjahat pasti akan mengincarnya. Karena itu mereka menutupinya. Aku tidak berbohong. Kalian bisa tanyakan langsung pada temanku begitu dia bebas."
Dukun itu sepertinya masih tak mau percaya. Ternyata meyakinkan dukun itu lebih dari yang kuperkirakan. Kebohonganku tak cukup menggoyahkannya. Aku harus beralih ke rencana B.
__ADS_1
"Pak Kades, tolong bantu saya meyakinkan dukun Arang untuk melepaskan anak itu. Ini bukan hanya menyangkut nyawa teman saya, tapi juga nyawa seluruh penduduk desa."
" Apa maksudmu, nak?"
"Tadinya aku tak ingin bilang, tapi sepertinya kalian semua harus tahu. Jika sampai matahari terbenam aku tidak membawa anak itu, maka mereka akan menyerang desa ini."
Pak kades terkejut mendengar kata-kata ku. Sepertinya dia mempercayai sepenuhnya. Dia nampak ketakutan.
"Omong kosong! Mereka tidak mungkin menyerang! kalaupun benar mereka pasti sudah menyerang dari dulu," ujar dukun Arang menolak percaya.
"Itu benar pak Kades. Mereka tidak berani menyerang karena di sini ada dukun Arang yang terkenal kehebatannya sudah menaklukkan banyak siluman. Dukun Arang pasti bisa mengatasinya," ujar salah seorang pria yang bersama dukun Arang.
"Berapa banyak yang bisa anda atasi? Jumlah mereka sangat banyak. Satu banding seribu? Seratus banding seribu? Bahkan satu lawan satu pun belum tentu kita menang. Mereka sangat kuat."
"Alasn mereka tidak menyerang bukan karena mereka takut, melainkankarenaa menunggu waktu yang tepat. Dan malam ini adalah waktunya. Mereka akan menjadi kuat berkali-kali lipat. Pikirkan baik-baik, Pak! Berapa yang mati? Berapa banyak yang akan terluka? Jika bapak bertahan untuk tidak melepaskan anak siluman itu."
Ketiga orang itu mulai risau. Bagus! sepertinya aku punya bakat berbohong. Mereka termakan kebohonganku. Kecuali dukun Arang.
"Ternyata dukun Arang yang pintar bisa jadi bodoh juga ya," cibirku.
"Apa?" Dukun Arang berseru marah padaku.
"Anda pikir saya tahu dari mana soal penangkapan anak siluman itu kalau bukan dari raja siluman banteng sendiri. Aku tidak akan tahu itu jika aku tidak bertemu mereka." Kata-kata itu serangan akhir yang bisa ku katakan pada mereka dalam perundingan ini.
Aku memberanikan diri untuk maju mendekati kurungan kayu itu . Dua orang pria itu hendak menghalangiku, namun Einar dan anak serigala itu menghentikan ketiganya.
"Tunggu dulu, nak! Kalaupun kami bisa melepaskannya, tak ada jaminan bahwa Ara siluman itu membebaskan temanmu," cegah pak kades.
__ADS_1
"Mungkin anda benar, Pak. Tapi saya memutuskan untuk mempercayainya. Alasannya karena mereka membiarkan saya melakukan perundingan ini tanpa mengikat saya. Padahal saya bisa saja kabur tanpa memperdulikan teman saya, tapi mereka mereka mempercayai saya."
"Mereka bisa saja merebut anak ini secara paksa, tapi mereka tidak melakukannya, mereka memilih perundingan sebagai jalan damai itu karena mereka menghormati kita. Apakah alasan itu masih belum cukup untuk mempercayai mereka?"
"Aku tidak akan membiarkanmu melepaskannya," cegah dukun Arang. " Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan anak siluman ini."
"Apa? Memang apa yang bisa dilakukan siluman ini? Apa dia menggigitnya? Apa dia mencakarmu? Apa dia melukai salah seorang penduduk desa di sini sampai dia layak dikurung begini?" Aku berdiri menantang pria paruh baya yang mengaku sebagai dukun terhebat.
Sesaat semua diam. Lalu salah seorang dari mereka berbicara, "Siluman kecil itu telah mencuri hasil kebun salah satu penduduk desa ini."
"Mencuri? Untuk apa dia mengambil itu? Dia tidak memakan itu?" Aku terkejut tak percaya mendengarnya.
"Kami juga tidak tahu tapi kami menangkapnya saat sedang mencuri di ladang warga."
"Dik!" Aku mencoba memanggil anak itu yang masih meringkuk ketakutan di dalam kandang. "Jangan takut! Aku di sini untuk membantumu."
Anak perempuan itu menatapku ragu-ragu. "Aku dengar kau mencuri hasil kadang mereka. Apa itu benar?" tanyaku. Anak itu mengangguk lemah.
"Untuk apa kau melakukannya? Kau tidak bisa memakan makanan itu?" tanyaku lagi.
"Bukan untukku. Tapi untuk nenek." Akhirnya anak itu membuka suaranya walaupun masih takut-takut.
"Nenek yang mana?" tanyaku. Amy, anak siluman itu menunjuk ke arah barat.
"Di sana ada nenek yang pernah menolongku saat aku terjatuh ke sungai. Tapi sekarang matanya tidak jelas melihat dan tidak bisa berjalan. Jadi ingin membantunya mendapatkan makanan," Jawa Amy. Sekarang aku mengerti duduk perkaranya.
"Kita tidak boleh langsung mempercayainya. Bisa saja dia berbohong."
__ADS_1
"Bohong atau tidak, bisa kita putuskan setelah memeriksa tempat yang ditunjuk anak ini. Jika yang dikatakannya benar maka kalian harus melepaskan anak ini," ucapku seraya membuka kerangkeng kayu itu dan mengeluarkan Amy. Tetapi dukun Arang menghalangiku lagi.
Aku mendorongnya karena kesal. "Perundingannya sudah selesai!" ujarku padanya. Aku balas menatapnya dengan berani.