Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Boneka penukar keberuntungan 5


__ADS_3

Ide Eli benar-benar membuat ku kesusahan. Sejak tadi aku memikirkan bagaimana caranya berbicara dengan Celin. Tapi sampai kelas bubar aku tidak juga mendekatinya.


Dalam perjalanan pulang aku mampir ke mini market untuk membeli minuman soda. Dan di sanalah aku bertemu dengannya lagi. Kali ini aku tidak bisa menghindar atau pura-pura tidak kenal.


Jadi akhirnya kami jalan bersama sampai rumah. Aku membantunya membawakan belanjaan.


"Em, Celin! Boleh aku tanya?"


"Tanya apa?"


"Luka di wajahmu, kenapa tidak kau obati?"


Dia diam sejenak, Lalu suaranya terdengar tersinggung. "Apa kau terganggu dengan wajahku?"


"Tidak. Maksudku bukan begitu. Aku cuma pernah mendengar dari pamanku uang bekerja di rumah sakit. Kalau kau pernah menolak pengobatan untuk wajahmu yang luka. Bahkan saat mereka menawarkannya secara gratis dari donasi penduduk kota. Jadi kupikir kau mungkin punya alasan. Maaf jika kau tersinggung," tepisku buru-buru menjelaskan. Aku tidak ingin dia salahpaham.


"Aku baik-baik saja dengan luka ini. Kupikir aku memang layak mendapatkannya." Kata-kata Celin membuatku terhenyak. Kesedihan dan penyesalan jelas tersirat di wajahnya. Dia tidak tampak sedang berpura-pura untuk menarik simpati.


Dia bukan hanya terluka secara fisik tapi secara mental.


Aku melirik kantong belanjaan yang ku bawa. Ada sekaleng permen lemon di dalamnya.


"Kau membeli permen lemon?" tanyaku. Aku merasa aneh karena seingatku dia tidak suka makanan yang asam karena perutnya akan langsung sakit jika memakannya.


"Kakakku sangat menyukai permen lemon. Aku membeli itu untuknya. Hari ini hari ulang tahunnya," jawabnya.


"Tapi kakakmu.."

__ADS_1


"Dina, aku tidak berpikir kakakku benar-benar mati seperti yang dikatakan orang-orang. Selama aku tidak menemukan tubuhnya, aku akan terus menganggap kakakku masih hidup."


Apa mereka seakrab ini saat mereka masih hidup?


"Aneh 'kan? Padahal kami selalu bertengkar, tapi sejak dia tidak ada aku merasa kesepian. Ibuku jatuh sakit. Dan ayahku yang pergi mencarinya masih belum kembali. Semua terasa berantakan tanpa keberadaan satu orang. Aku selalu memeriksa kamarnya setiap hari walau aku tahu aku tidak akan menemukan apapun di sana."


Tubuh Selena memang tidak pernah ditemukan meski ada kemungkinan dia menjadi satu-satunya korban meninggal dalam kebakaran itu. Aku pikir tubuhnya sudah habis terbakar jadi abu mengingat besarnya kebakaran hari itu.


Kalau memang dia masih hidup, di mana dia? Kenapa dia tidak pernah pulang selama lima tahun ini. Bukankah itu lebih aneh lagi?


"Kupikir jika aku akan meletakkan permen lemon ini di kamarnya dia akan pulang dan kami akan berbaikan."


Aku memberikan kembali kantong belanjaannya sebelum kami berpisah di depan rumahnya.


"Oh ya, aku dan teman-temanku ingin mengajakmu bergabung dengan kelompok belajar kami. Kami masih kekurangan satu orang lagi. Apa kau mau bergabung dengan kami?"


"Jika kalian tidak keberatan denganku, aku bersedia."


Dia mengangguk sambil tersenyum sebelum masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya dia tersenyum. Selama ini dia selalu datar tanpa ekspresi. Ku harap kami bisa menjadi dekat lagi seperti dulu saat anak-anak.


Esok harinya sepulang sekolah kami belajar kelompok di rumah Eli. Di luar dugaan Celin anak yang lumayan pintar dibanding kami berempat dalam pelajaran. Penjelasannya juga mudah dipahami.


Awalnya Lisa takut padanya, tapi semenjak Celin membantunya mengerjakan soal mereka jadi dekat. Kami jadi akrab.


Aku telah salah menilainya. Dia tidak berubah sama sekali. Dia masih sebaik dulu. Dan ramah terhadap semua orang. Aku malah memilih untuk menjauhinya karena sesuatu. Aku ingin minta maaf dengan tulus tapi itu masih terasa sangat sulit bagiku.


Hari ke 4 kelas tambahan, hari ini kami memutuskan belajar kelompok di rumah Riri. Aku hendak pergi ke kelas untuk menjemput Celin. Tapi aku malah berpapasan dengannya yang sedang menaiki tangga.

__ADS_1


"Celin!" panggilku dari bawah. Langkahnya terhenti saat akan berbelok naik.


Aku menaiki beberapa anak tangga untuk mendekat kepadanya.


"Aku lupa memberitahumu tadi, kalau kita akan belajar kelompok di rumah Riri. Anak-anak yang lain sudah menunggu," kataku memberitahu.


Celin diam saja tidak menjawab. Seharian ini celin juga banyak diam di kelas. Dia seperti berubah dingin seperti dulu. Atmosfir disekitarnya terasa berbeda.


Ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku. Terpampang nomor telepon tidak dikenal.


"Halo?"


"Halo, Dina! Ini aku Celin." Suara di seberang telepon membuatku membeku.


"Aku sudah baca pesanmu tapi pulsaku habis jadi aku telepon lewat telepon rumah. Sejak pagi aku merasa tidak sehat, aku juga tidak ikut kelas tambahan, Jadi hari ini aku tidak bisa ikut kalian belajar kelompok."


Celin menelponku?? Lalu siapa yang di depanku? Siapa yang seharian ini di kelas?


Sosok itu berputar menghadapku. Aku tidak melihat bekas luka di wajahnya. Dia bukan celin! Kalau begitu itu pasti 'Dia'.


"Celena..?"


Aku ketakutan. Aku berbalik untuk lari menjauh darinya. Tapi kakiku malah terkilir dan jatuh dari tangga.


Kakiku sakit. Gadis itu berjalan ke arahku.


"Jangan! Pergi! Kumohon jangan mendekat!" Aku memohon terisak.

__ADS_1


Selena terus mendekat. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku saking takutnya.


"Maaf! Maafkan aku Celena!"


__ADS_2