Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Nyanyian Hujan Dan Rumah Sakit Hantu Part 6


__ADS_3

POV Angga


Laila adalah anggota termuda kalau dilihat dari usia. Namun keluarganya adalah veteran di organisasi. Hampir semua anggota keluarganya aktif dalam organisasi dan dia sudah diajarkan sejak kecil mengenai tanggungjawab dan tugasnya.


Begitu masuk SMP dia secara alami bisa menangani dan mengendalikan para makhluk halus yang ada disekolah agar tidak melukai murid-murid lainnya.


Meskipun kejadian yang menimpa Riri menurunkan citranya di mata organisasi namun tidak mengurangi kharismanya sebagai pimpinan di sekolah.


Laila terus melempar surat itu satu persatu dengan bosan.


"Keluhan mereka semua sama! Mereka mengeluhkan keadaan kota ini! Sebagian bilang akan keluar dari kota ini dan pindah ke kota lain."


"Itu sebabnya jumlah penduduk manusia di kota ini semakin menyusut. Selain karena kematian sebagian penduduknya pindah ke kota lain," kata Sandy.


"Pindah ke kota lain? Apa itu bisa menjadi solusi?" tanya Laila.


"Sebagian beranggapan seperti itu," jawabku.


"Apa dikota lain tidak ada makhluk halus, hantu atau arwah seperti di sini?"


"Ada," jawabku singkat.


"Apa kalau keluar kota kita tidak akan melihat hantu?"


"Sekali kau bisa melihat makanya selamanya kau akan bisa melihat mereka kemanapun kau pergi."


"Disini kita lihat hantu, di sana kita lihat hantu. Di sini kita bertemu mereka disana pun kita tetap bertemu mereka. Jadi dimana bedanya?"


"Kebanyakan dari kita berpikir jika kita keluar dari kota ini kita akan selamat," ucapku.

__ADS_1


Disini mereka yang memiliki mata batin seperti kami sering kali mendapatkan serangan dari makhluk ghaib. Tidak sedikit yang meninggal atau hilang tanpa jejak. Karena itu keluar dari kota ini mungkin akan menyelematkan hidup kami.


"Apakah diluar sana kita tak bisa mati? Apa diluar sana kita tak akan terluka?"


Pertanyaan Laila menyentak kami berdua. Dia benar. Kematian milik siapapun yang hidup. Tempat bukanlah masalahnya. Dimana pun kita bisa mati. Perbedaannya hanyalah masalah waktu. Kapan kematian itu akan datang pada kita dan dengan cara apa Kematian itu mendekat.


Sesaat kami terdiam dalam lamunan masing-masing dan hanya terdengar suara kertas yang di bolak-balik.


"Hei lihat ini!" Laila menunjukkan pada kami beberapa lembar surat dengan pengirim yang sama, Yana. Itu adalah nama korban kedua dari kasus pembunuhan beruntun yang sedang kami tangani.


15 November


Aku tak sengaja melihatnya berdiri di tepi sungai, seorang gadis bergaun putih. Tangannya yang pucat memegang payung. Aku tidak bisa melihat wajahnya tapi aku tahu dia memperhatikan aku. Sejak hari itu dia menungguku di depan gerbang sekolah dan mengikutiku sampai ke rumah. Dia juga mengawasi rumahku. Aku tak tahu dia siapa tapi aku tahu dia bukan manusia.


17 November


Hari ini saat pulang sekolah aku diserang orang tak dikenal. Aku berhasil kabur dan bertemu dengan gadis itu lagi. Dia mengancamku. Dia bilang aku akan mati jika bertemu dengannya lagi. Aku jadi takut untuk keluar rumah. Tolong aku!


Ayah ibuku yang pergi keluar kota tidak juga kembali. Aku menghubungi mereka tapi tidak pernah di angkat. Mereka sudah berhenti memberiku kabar. Kurasa mereka tidak akan kembali lagi padaku. Sudah tiga hari aku mengurung diri. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi padaku di luar sana. Tak ada lagi yang peduli padaku karena keluargaku sendiri sudah membuang ku. Mungkin ini surat permohonanku yang terakhir. Tolong makamkan aku jika kalian menemukan tubuhku. Karena kurasa keluargaku tidak akan pernah kembali ke kota ini.


Laila mengobrak-abrik surat di meja.


"Tidak ada lagi. Itu benar-benar yang terakhir."


Aku mengambil lembar berkas yang diberikan Hans tadi. Disana tercatat nama Yana, dia di temukan tewas tanggal 21 November. Sehari setelah dia mengirim surat. Berarti hari itu benar-benar keluar rumah dan terbunuh.


Orangtua korban pergi keluar kota dengan alasan dinas. Sampai hari pemakaman anaknya mereka tetap tak bisa dihubungi.


"Apa-apaan orangtuanya?! Kenapa mereka tidak datang?! Apa mereka benar-benar tidak peduli?!" gerutu Laila marah.

__ADS_1


"Memiliki anak dengan kemampuan berhubungan dengan makhluk halus adalah beban yang berat bagi orangtua. Meski mereka mencoba menerimanya, itu sangat sulit. Banyak dari mereka yang ketakutan dan lari meninggalkan anak-anak mereka dikota ini," ujar Sandy.


"Karena itu anak-anak sekarang lebih banyak diam dan menutup mulut soal kemampuan mereka. Karena mereka tidak ingin dibuang oleh orangtua mereka?" Laila memastikan pendapatnya.


"Ya, kau benar Laila," jawabku sambil membaca ulang surat Yana. Aku merasa ada yang aneh.


"Ada apa, Angga? Apa kau menemukan sesuatu di suratnya?" tanya Laila.


"Di dalam surat dia bilang diancam gadis hujan itu. Tapi disuratnya dia tidak bilang dia diserang gadis hujan itu. Jadi penyerangnya ada orang lain. Bagaimana kalau yang dia sebut sebagai ancaman itu sebenarnya adalah peringatan," ujarku menjabarkan.


"Berarti dia tahu tentang pelaku pembunuhan ini?" ujarku. Membuat kami semua bertanya.


Suara gagak bersahut-sahutan di atas bangunan ini pertanda datangnya bahaya. Firasat buruk menghinggapiku kami semua sambil bertanya-tanya dalam hati siapa lagi yang akan mati.


Kamar rumah sakit ini mirip seperti kamar tidur ketimbang kamar rawat inap. Alden, Pemuda yang tadi pergi kembali bersama seorang dokter laki-laki muda. Dia menyapaku dan menanyakan kondisi adikku kemudian memeriksanya. Dia menuliskan resep obat lalu memberikannya kepada pemuda di sebelahnya itu.


"Alden, pergilah ke apotek langganan kita dan bawakan obat yang tertulis di sana. Lalu minta Evania untuk menyiapkan makanan dan semua kebutuhan pasien."


"Baik, dok."


Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan. Dia dokter yang cukup ramah menurutku meski tak banyak bicara. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan.


Pemuda yang dipanggil Alden itu juga pergi setelah mengingatkanku untuk tidak pergi keluar kamar. Aku juga tidak berniat pergi keluar karena tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan adikku di tempat asing. Aku duduk di sisinya dan menggenggam tangan terkulai. Kuharap itu bisa membuat dia sedikit lebih baik.


Dia setengah tersadar. Kadang dia mengigau ketakutan. Gadis yang malang!


Aku tidak tahu apa yang membuatnya takut. Pengurus rumah bilang Jenny pulang lebih awal dan langsung mengurung diri di kamar. Begitu malamnya aku cek dia demam tinggi. Saat ku tanya dia tak mau menjawab.


Kulihat di kamar mandi seragam sekolahnya basah. Mungkin tadi kehujanan karena itu dia demam. Dia jarang bercerita tentang sekolahnya. Mungkin dia takut aku mencemaskannya.

__ADS_1


Tak lama dua orang perawat wanita masuk ke dalam. Salah seorang wanita mendorong masuk troli berisi makanan. Dan seorang lagi membantu memasangkan infus dan mengecek suhu tubuhnya.


__ADS_2