Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Perselisihan Dengan Siluman Buaya


__ADS_3

POV Tania


Tadinya aku berniat ke rumah Lili. Tapi mendengar suara tangis Nino adik Lili aku berubah pikiran. Aku punya firasat buruk. Jadi, aku bergegas ke tempat asal suara tangis itu.


Benar saja. Aku melihat Lili di seret ke dasar sungai sedangkan Nino menangis di pinggir sungai, memanggil-manggil kakaknya.


Tanpa pikir panjang aku melompat ke sungai. Aku menyaksikan bagaimana buaya itu menggigit kakinya dan menyeretnya. Biarpun aku mendapatkan tubuh Lili, jika kutarik paksa maka kakinya akan putus. Karena itu tidak ada cara lain selain memukul buaya itu.


Aku mengepalkan tanganku dan mengumpulkan kekuatan lalu meninju kepalanya. Buaya itu meronta kesakitan dengan tinjuku yang tiba-tiba, sehingga dia melepaskan kaki Lili. Aku cepat-cepat membawa tubuh Lili ke permukaan dan membiarkan buaya itu kesakitan di dalam air.


"Rasakan itu! Beraninya mau menjadikan Lili makan siangmu! Kau lah yang akan ku jadikan makan malam."


Aku berhasil membawanya ke darat dan agak menjauh dari tepi sungai. Sayangnya Lili tak sadarkan diri. Aku tak tahu bagaimana harus membangunkannya. Sambil menunggu dia tersadar aku mengobati luka di kakinya. Lukanya cukup parah.


Sementara itu, siluman buaya itu merayap keluar dari sungai.


"Kau benar-benar cari mati bocah!" Buaya itu nampak sangat marah. Memperlihat gigi-giginya yang tajam, yang siap mengoyak daging. "Sepertinya aku akan dapat makanan ringan yang lezat sebelum makan malam."


"Siapa yang kau sebut makanan ringan, anak kecebong. Kaulah yang akan ku cincang lebih dulu." Balasku marah. Aku maju menghalaunya agar tidak mendekati Nino dan Lili.


"Oh, kupikir cuma manusia biasa. Ternyata ada tikus pohon yang bermain sampai ke sini. Apa kau tersesat?" Ujar buaya itu mengejek.


"Bukan urusanmu!"


"Tentu saja itu jadi urusanku. Kau menyerangku tiba-tiba. Itu sama saja menyatakan perang dengan bangsa kami. Lihat saja! Aku akan melaporkan hal ini pada pimpinanku."


"Hei! Aku hanya memukulmu sekali. Jangan berlebihan sampai harus melaporkannya segala. Lagipula ini urusan kita berdua, jangan libatkan kelompok!"

__ADS_1


Buaya itu tertawa dengan mulut lebar yang menganga. "Kenapa? Kau takut sukumu kalah? Ternyata benar kata orang. Kalian cuma suku penakut. Setelah dikhianati oleh manusia, kalian memilih bersembunyi di atas gunung seperti tikus tanah."


"Berhenti menghina sukuku! Kau tidak tahu apapun tentang kami!" Aku tahu buaya itu sedang memprovokasi ku. Tapi aku tidak bisa menahan emosi mendengar kata-katanya.


"Berbeda dengan kalian. Kami tidak akan melepaskan para manusia yang telah memburu kami. Kami harus membalas mereka. Satu nyawa rekan kami yang mati akan dibayar dengan puluhan nyawa manusia. Itu baru adil. Mereka harus menyadari bahwa kami lebih kuat dari mereka."


"Apanya yang adil? Otakmu kebanyakan minum air sampai tidak bisa berpikir, hah? Tak masalah kalau membunuh pemburu itu saja, sayangnya kau melibatkan orang-orang tak berdosa dalam balas dendammu secara membabi-buta. Aku tidak bisa membiarkannya."


"Jadi kau tidak akan menyingkir?" Buaya itu memutariku sambil mengamatiku.


"Lili itu temanku. Tidak mungkin aku biarkan kau memakannya."


Buaya itu melibasku dengan ekornya. Tubuhku tercebur ke sungai. Aku lengah.


Aku berenang naik ke tepi dan menyaksikan buaya itu membuka mulutnya lebar-lebar di samping tubuh Lili.


Aku menggerakkan sulur pohon di sekitar untuk mengikat buaya itu dan menahannya.


Aku naik ke permukaan dan mengibaskan sisa air di tubuhku.


"Percuma saja! Sihirku tak semudah itu di patahkan. Di air kalian memang hebat, tapi di darat kami jauh lebih unggul." Ujarku pada buaya itu.


"Kau sungguh-sungguh berniat perang dengan kami? Hanya untuk membela anak manusia itu? Lihat saja begitu aku kembali aku akan melaporkan hal ini pada ratu kami. Lihat bagaimana kami akan membalasmu." Ancamnya.


"Itupun kalau kau bisa lolos dari sini. Sayangnya aku tidak berniat melepaskanmu." Ancamku balik. Aku menatap dingin ke hewan melata yang saat ini terjebak dalam kekuatanku.


"Mau apa kau? Kau tidak mungkin berani membunuhku di sini!"

__ADS_1


"Bukan aku yang akan membunuhmu." Ucapku padanya sambil tersenyum. Aku menarik nafas dalam-dalam.


"Tolong! Ada buaya! Tolong aku!" Teriakku sekuat-kuatnya. Tak lama aku mendengar suara langkah kaki mendekat.


Beberapa pemuda yang sejak tadi berjaga-jaga tak jauh dari sungai mendengar suara teriakan ku dan datang menghampiri. Mereka tengah bersiap dengan bambu runcing di tangan mereka.


"Tolong aku! Buaya itu ingin memakanku dan temanku." Ucapku sambil pura-pura menangis saat salah seorang dari mereka datang menanyaiku.


Para pemuda yang jumlahnya belasan itu berhasil mengepung buaya yang sudah terikat itu dan membunuhnya.


"Ini balasan yang layak untukmu karena sudah membunuh warga tak berdosa." Aku berbicara pada buaya itu lewat pikiran. Aku tak sempat mendapat balasan. Buaya itu sudah mati.


Orang tua Lili membawa Lili ke balai pengobatan desa untuk mendapatkan perawatan. Setelah memastikan dia dirawat dengan baik aku pamit pulang. Aku berharap kondisi Lili akan membaik saat aku mengunjunginya lagi.


Beberapa hari kemudian aku kembali menjenguk Lili. Kulihat dia sedang duduk di teras. Dia terlihat kesulitan dan pucat tidak seperti biasanya yang ceria.


"Lili!" Sapaku sambil menyentuh punggung tangannya. Tapi dia tidak bergeming. Pandangannya kosong.


'Apa yang terjadi padanya?' tanyaku dalam hati.


"Dia sudah seperti itu sejak dia terbangun." Ucap ibunya seolah menjawab keherananku pada Lili.


"Dia tak banyak bicara dan lebih sering diam di kamar. Kadang dia berlari ketakutan padahal tidak ada apa-apa? Bicaranya juga tidak jelas. Kami sudah membawanya berobat beberapa kali tapi kondisinya tidak juga pulih. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada anak kami." Ucap ibunya lagu lirih sambil menangis.


Aku mencoba menenangkannya. Aku mengerti perasaan ibunya. Sang ibu sangat sayang dan bangga pada putrinya itu. Meski usia Lili baru 12 tahun, Lili sudah membantu keluarganya mencari nafkah dan menjaga adik-adiknya. Dia anak yang bisa diandalkan orang tuanya.


Ada yang tidak beres dengan Lili. Kondisinya aneh. Aku yakin berhasil menyelamatkannya hari itu. Tapi kenapa kondisinya jadi seperti ini? Apa buaya itu diam-diam memantrai Lili? Atau ada sesuatu terjadi saat aku tidak ada. Aku merasa ini ada kaitannya dengan penguasa sungai itu.

__ADS_1


Aku berjalan sepanjang hulu sungai, mencari posisi yang tepat pintu masuk istana mereka. Aku harus berbicara dengan sang ratu mengenai hal ini.


Namun tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Aku menoleh dan mendapati sosok yang ku kenali.


__ADS_2