
Riri segera dibawa ke UKS. Saat aku menengoknya, kondisinya sangat lemah. Sepertinya para guru berinisiatif membawanya ke rumah sakit dan menelpon orangtuanya.
Aku pergi ke toilet sekolah untuk memeriksa keadaan di sana, karena anak-anak bilang, sebelum pingsan dia sempat berteriak. Sampai sekarang aku belum menemukan makhluk halus yang membuatnya ketakutan.
Pintu toilet paling ujung berderit, pintunya terbuka sedikit. Sesosok wajah yang bersembunyi di dalam, mengintip lewat celah pintu yang terbuka. Aku melangkah mendekati toilet itu.
"Bu-bukan aku yang mengganggunya! Sungguh!" ujar makhluk berwujud anak perempuan itu.
Hah! Aku bahkan belum bertanya tapi sudah dijawab. Yah, dia memang bukan roh jahat. Aku sudah bertemu dengannya beberapa kali. Walaupun suka jahil dia tidak pernah melukai murid di sini. Jadi pasti bukan dia penyebab Riri sampai pingsan. Tapi dia satu-satunya hantu disini yang bisa kutanyai.
"Apa kau lihat siapa yang melakukannya?"
Dia tampak ragu menjawab pertanyaanku, "A- aku tidak tahu! Aku tidak lihat apapun!" Dia langsung menutup pintu toilet.
"Hei, aku belum selesai bicara! Buka pintunya!" seruku sambil menggedor-gedor pintu toilet.
"Jangan menggedor-gedor seperti itu. Tidak sopan mengganggu hantu yang sedang buang air!"
"Kalian kan hantu! Tidak bisa melakukan itu! Jangan membodohi ku!"
Dia muncul lagi dari celah pintu toilet. "Jika terus seperti ini, orang-orang akan menganggapnya aneh lagi."
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk hantu kecil itu. Tanpa kusadari seorang siswi tengah memperhatikanku sejak tadi. Dia mematung di depan pintu masuk toilet. Saat aku melihatnya, dia berlari sambil berteriak.
"Ada yang kesurupan! Tolong! Dia mengoceh sendiri sambil memukul-mukul pintu toilet angker itu."
Aku tak mengejarnya, membiarkannya lari ketakutan sambil mengoceh tak karuan.
"Tuh kan! Apa kubilang!"
Aku cuma menghela nafas mendengar kata-kata hantu itu. Kejadian ini bukan pertama kalinya. Terlebih lagi toilet di depanku terkenal angker dan paling dihindari murid-murid sini karena katanya ada penunggunya.
Dalam perjalanan sepulang sekolah, Angga bertanya padaku.
"Bagaimana keadaanmu dikelas? Apa sudah dapat teman baru?"
"Sudah. Kenapa tiba-tiba tanya itu?"
__ADS_1
"Ku dengar dari anak-anak katanya ada yang melihatmu marah-marah dengan pintu toilet."
Tanpa menjawab aku melayangkan tas ku ke punggung nya dan menghantamkannya.
"Aduh! Sakit, Mel!
"Habisnya ngeselin sih!"
"Aku tanya begitu karena khawatir. Apa ada yang mengganggumu di sekolah?"
"Gak ada!"
"Atau ini tentang teman yang pernah kamu ceritakan itu?"
Aku diam tak menjawab.
"Aku dengar dia pingsan di toilet sekolah. Apa kau sudah menyelidiki penyebabnya?" tanya Angga lagi.
Aku menggeleng. "Kata dokter asmanya kambuh. Belakangan ini banyak kejadian yang membuatnya tertekan. Sekarang dia ada di rumah sakit. Paling tidak disana dia merasa tenang."
"Aku tidak yakin. Rumah sakit adalah tempat favorit makhluk-makhluk ghaib. Jika dia memang bisa melihat makhluk halus, sama seperti kita -"
Aku masuk ke rumah tanpa melanjutkan pembicaraan dengan Angga.
Malam harinya aku makan malam bersama ayah. Ibu tampak senang karena kepulangan ayah. Ibu memasak semua kesukaan ayah. Sayangnya aku sedang tidak nafsu makan. Aku hanya mengaduk-aduk makanan dipiringku sejak tadi.
"Kenapa nak? Kau tidak suka makanannya?" tanya Ayah.
"Tidak, pa. Makanannya enak."
"Apa kau sedang sakit?" tanya ayah lagi sambil memeriksa keningku.
"Aku baik-baik saja, pa."
"Ya, ayah lihat kau lebih baik dibandingkan saat terakhir papa menjengukmu di rumah sakit. Jadi, ada masalah di sekolahmu?"
"Aku juga baik-baik saja disekolah. Mereka semua baik. Hanya..."
__ADS_1
"Hanya apa? Cerita saja! Papa janji gak akan bilang sama mamamu."
"Lho? Mama mana?" Aku baru sadar kalau ibuku sudah tidak ada di rumah.
"Mamamu sedang ke rumah Tante Yusi untuk mengantarkan makanan. Kamu pasti lagi melamun tadi. Sampai-sampai gak sadar mamamu keluar rumah."
Ayah benar tanpa sadar aku memikirkan masalah Riri lagi.
"Nak, papa tidak ingin memaksamu bercerita jika kau tidak ingin bercerita. Tapi jika itu sulit untukmu, berceritalah, papa akan mendengarkan dan membantumu."
"Pa, aku bertengkar dengan temanku. Aku sudah menuduhnya berbohong. Aku tak percaya padanya. Padahal dia minta aku untuk percaya. Aku juga merasa bahwa dia tidak berbohong, tapi --"
"Tapi semua yang kau lihat menujukkan kalau dia sedang berbohong padamu. Benar 'kan?"
Aku mengangguk.
"Memang benar, untuk percaya pada sesuatu kita butuh bukti, tapi dalam sebuah hubungan seperti orangtua dan anak, seorang ayah tidak memerlukan bukti untuk mempercayai anaknya."
"Papa akan selalu mempercayaimu bahkan saat kau berbohong sekalipun, papa akan tetap percaya. Karena papa tahu betul anak papa bukanlah anak nakal yang akan melukai hati orangtuanya. Kau pasti punya alasan kenapa berbohong. Begitulah kepercayaan orangtua dan anak."
"Kepercayaan tidak dibangun dalam satu hari, tapi butuh banyak waktu dan proses. Kau dan temanmu saat ini sedang mencoba membangun kepercayaan itu, hatimu ingin mempercayainya, tapi pengalamanmu selama ini membuatmu sulit untuk percaya pada orang lain."
"Kalau begitu aku harus bagaimana?"
"Ikuti kata hatimu, nak. Orang bijak bilang lebih baik menyesal karena sudah mempercayai ketimbang menyesal karena tidak pernah percaya. Kau tahu artinya? Lebih baik menyesal karena salah mempercayai orang lain dengan begitu kita bisa belajar dari pengalaman, ketimbang tidak pernah mencoba untuk percaya pada orang lain."
Ayah benar, jika aku ingin percaya aku tinggal percaya saja. Aku tidak perlu berpikir berlebihan. Jika aku tidak ingin mempercayainya aku tinggal mengabaikan saja. Sayangnya aku bukanlah orang yang mudah mengabaikan.
Keesokan harinya aku mengajak Angga untuk mengecek loker itu lagi. Angga meletakkan tangannya di loker itu dan berkonsentrasi, mencoba merasakan energi dalam kotak itu.
"Bagaimana kak? Apa kau merasakan sesuatu?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa. Ini hanya kotak loker biasa," jawab Angga. Sudah kuduga. Aku juga pernah memeriksanya memang tidak ada apa-apa. Kupikir kalau Angga yang memeriksanya akan berbeda hasilnya.
Aku memang pernah mendengar suara dari dalam kotak itu, tapi itu hanya ulah iseng hantu di sini saja kupikir. Itu tidak membuktikan loker ini menyimpan kutukan jahat. Jika aku ingin menyelidikinya aku harus tahu cerita tentang loker ini.
Aku sudah berhati-hati sekali menanyakan cerita loker ini pada kakak kelas. Tidak sulit mengajak ngobrol mereka karena mereka tahu aku adik Angga. Sepertinya ada untungnya juga aku jadi adiknya. Dia lumayan populer bahkan dikalangan kakak kelas tiga.
__ADS_1
Ceritanya simpang siur tidak jelas. Ada yang bilang dia siswi yang mengalami kecelakaan saat terpergok mencuri. Ada yang bilang dia korban bully. Dia bunuh diri dengan melompat dari atap gedung sekolah. Tidak tahu mana yang benar.
Yang cocok dari cerita-cerita itu adalah pemilik loker ini seorang siswi yang meninggal dengan wajah penuh luka.