
"Aku belum membutuhkan kekayaan karena hidupku masih ditanggung orang tuaku. Aku merasa hidupku sudah cukup terpenuhi secara materi. Aku juga tidak ingin kekuatan lagi, karena kekuatan yang kumiliki sudah cukup membuatku susah," jawabku menolak tawaran raja itu.
"Padahal saat ini kondisimu masih belum aman, kau belum tahu hukuman seperti apa yang bisa ku berikan padamu. Sebaiknya kau gunakan dua permintaan itu untuk dirimu sendiri ketimbang kau gunakan untuk orang lain yang belum tentu berterima kasih padamu."
"Aku meminta itu bukan untuk mendapatkan terima kasih. Aku hanya tidak ingin bertanggung jawab atas nyawa orang lain juga. Aku sudah cukup buruk Di mata teman-temanku yang lain. Jika sesuatu terjadi padanya saat dia bersamaku, aku akan jadi orang pertama yg disalahkan. Keluargaku mungkin akan kesulitan jika hal itu terjadi."
"Karena itu, paling tidak jika dia dibebaskan, bebanku berkurang. Serigala disampingku ini juga tidak ada hubungan apa-apa denganku. Jadi aku tidak mau dia ikut dihukum gara-gara aku."
Dan alasan kenapa aku tidak menggunakan dua permintaanku untuk meringankan hukumanku, karena aku belum tahu pasti seberat apa hukumanku dan berapa lama hukumanku. Jadi bagaimana bisa aku tahu hukuman sudah lebih ringan atau lebih singkat dari yang seharusnya. Sedangkan aku tidak tahu kebenarannya."
"Jadi maksudmu, aku bisa saja berbohong padamu?" Suara terdengar seperti marah tapi aku tahu dia tidak marah. Setelah beberapa percakapan kami aku menyadari bahwa raja ini baik, dia tidak seseram penampilannya.
"Aku tidak berani menuduh seperti itu. Aku hanya tidak ingin menggunakan permintaanku untuk hal yang belum pasti jumlahnya. Karena itu akan membuat permintaanku jadi sia-sia. Lebih baik jika aku menggunakan untuk hal yang lebih berguna."
"Lagipula menawarkan dua permintaan padaku disaat aku akan dijatuhi hukuman, perangkapku itu terlalu manis untuk kuterima."
Raja itu tertawa lagi mendengar ucapan terakhirku. Aku mungkin masih anak-anak, bukan berarti aku bodoh tidak menyadari perangkap yang dipasangnya untukku. Jika aku terlalu serakah atau terlalu egois hukumanku bisa jadi lebih berat. Jika aku menolaknya begitu saja tanpa alasan yang tepat dia tidak akan menerima penolakanku.
"Kau benar-benar anak yang benar menarik. Di awal persidangan kau bersikap berani lalu saat aku bilang aku akan menghukummu kau menunjukkan dirimu yang ketakutan selayaknya anak-anak. Dan saat aku mencoba mengujimu, kau menunjukkan tekadmu, seolah kau sudah siap menghadapi kemungkinan yang terburuk sekalipun. Hebat! Aku benar-benar kagum padamu, nak," ujarnya memujiku. Dengan tangannya yang besar dia mengusap kepalaku. Aku sedikit berharap dia membatalkan hukumanku.
"Einar, bawa mereka kembali ke ruangan itu, agar mereka mereka bisa beristirahat. Besok akan ku umumkan hukuman apa yang harus mereka jalani," ujar sang Raja memberi perintah kepada penjaga di belakangku.
Penjaga yang dipanggil Einar itu membawa kami kembali ke ruangan. Aku duduk sambil melipat kakiku. Ruangannya jadi lebih dari yang tadi.
Beberapa saat kemudian kembali, dan memberikanku sesuatu.
"Ambil selimut ini! Ini terbuat dari kulit hewan liar yang mati. Cukup hangat untuk melawan dingin. Gunakan untuk dirimu sendiri. Teman serigalamu sepertinya tidak membutuhkannya."
Aku menengok ke samping. Kulihat dia sudah berubah menjadi serigala sepenuhnya dengan bulu-bulu tebal yang lembut.
"Dimana kalian membawa temanku?" Tanyaku pada Einar.
__ADS_1
"Dia kami bawa untuk di obati. Tidak perlu khawatir!" jawab Einar.
"Terima kasih untuk selimutnya," ucapku sebelum dia menutup pintu.
"Tidak perlu berterima kasih." Dia membalas tanpa berbalik.
Keesokan harinya, Einer membawaku pergi ke suatu tempat. Sebelumnya Einer menutup mataku. Setelah sampai ditujuan aku diizinkan untuk membuka penutup mataku.
Aku terkejut melihat pemandangan sekitarku. Aku langsung mengenali tempat itu. Lokasinya tidak jauh dari perkemahan kami.
Aku menengok ke arah Einar. Namun yang kulihat bukan penjaga yang kukenali, namun sosok pemuda yang asing.
"Einer?" Aku tercengang.
"Apa penampilanku terlihat aneh untuk manusia?"
"Tidak. Kau merubah wujudmu?"
"Lalu siapa itu?" tanyaku lagi menunjuk ke seorang anak laki-laki berumur sekitar 17 tahun.
"Dia teman serigalamu. Kau tidak mengenalinya?"
"Apa? Aku tidak tahu dia merubah penampilannya seperti itu." Jadi semua siluman bisa menyamar seperti itu, pikirku takjub.
"Jadi kita mau kemana?" tanyaku pada Einar yang sudah berjalan lebih dulu di depan kami.
"Kita akan mengunjungi salah satu desa di dekat sini. Dukun di desa itu telah menangkap saudara kami yang paling bungsu. Kami memang lengah menjaganya sampai dia masuk ke desa itu. Kami sudah mengirim utusan berkali-kali tapi dukun itu tak mau melepaskannya."
"Kau tahu mudah saja bagi kamu menyerang desa itu, namun raja kami tak menginginkan hal itu terjadi, karena perang hanya menimbulkan jatuhnya korban tak bersalah. Karena itu, Raja ingin menyelesaikannya melalui perundingan. Dan dia menginginkan kau untuk membantu sebagai perwakilan kami."
"Tunggu. Aku cuma seorang anak-anak. Mereka pasti tidak mau mendengarkan aku."
__ADS_1
"Aku tahu, tapi raja mempercayaimu untuk tugas ini. Jika kau berhasil membawa saudara kami kembali, raja berjanji akan melepaskanmu."
"Tolong bantu!" Tiba-tiba anak serigala itu ikut berbicara, dia memegang lenganku. "Dukun itu jahat. Dia mengurung Amy."
"Kau mengenalnya?" tanyaku. "Apa karena itu kau mencariku?"
Dia mengangguk.
"Ayo pergi ke desa itu!" ajak Einar. Sepertinya aku tak punya pilihan lain. Kami pergi ke desa itu dan bertemu dengan pak tua yang pernah berbicara dengan pak guru waktu itu. Ternyata dia kepala desa itu.
Pria tua itu mengenaliku, "oh, nak! Kau ada di sini? Mereka semua mencarimu kesana kemari. Apa kau ingin aku mengantarkanmu ke tempat teman-temanm?"
Pak tua itu bersikap ramah, tapi entah mengapa aku merasa tidak nyaman.
"Apa ada dukun yang bernama Arang?" tanyaku tiba-tiba.
"Kenapa kau mencarinya?" Pak kepala desa bertanya balik padaku. Ekspresinya berubah serius.
"Karena aku butuh bantuannya, pak kepala desa. Tolong antarkan kami padanya!" jawabku.
"Sayang sekali dia sedang tidak ada di desa ini."
"Saya tahu bapak berbohong." ujar Einar tiba-tiba, menyela perkataan kepala desa.
"Aku benar-benar tidak tahu dia ada di mana." ujar pak tua itu terus menyangkal.
"Tolong bantu aku pak! Mereka menculik teman ku dan mengurungnya. Nyawa teman ku dalam bahaya." rengekku sambil menangis.
Kedua orang yang bersamaku sejak tadi terkejut melihatku.
"Kakak di belakang ku bilang katanya ada dukun bernama Arang yang hebat. Dia bisa membantuku untuk menyelamatkan temanku. jadi tolong pertemukanku dengan dukun bernama Arang itu, pak!"
__ADS_1
Aku sudah pasang wajah memelas dan bahkan sampai menangis seperti ini. Jika kau masih tidak bergeming, berarti kau tidak punya hati, Pak tua! seruku dalam hati.