Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Dia Sudah Bangun


__ADS_3

Katanya setiap orang pernah mengalami hari sial. Aku berharap dari sekian banyak hari, hari sialku bukan hari ini. Karena aku belum menyiapkan hati.


Aku berusaha bersikap santai, menyandarkan diri di kursi sambil menunggu 'dua orang yang tadi pergi seenaknya' kembali.


Mataku terpaku pada jam di dinding. Aku merasa gelisah dan tidak sabar. Kenapa jarum jamnya bergerak lambat sekali? Rasanya satu menit terasa seperti satu jam.


Apa ku setel televisi saja? Kalau menonton acara yang lucu mungkin aku akan lupa ketakutanku, pikirku. Aku mengambil remote yang tergeletak di meja dan menghidupkan televisi.


"Waaa!" pekikku terkejut saat sesosok wajah menakutkan seperti hantu muncul di layar televisi. Spontan saja aku melempar remotenya.


Deg deg deg seketika aku merasa jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Nafasku tak beraturan. Saat pikiranku sedikit lebih tenang aku melihat kembali ke layar televisi.


Ternyata itu siaran uji nyali yang sedang berlangsung yang memang biasanya di tayangkan lewat tengah malam. Wajah menakutkan tadi adalah wajah hantu palsu yang sedang di sorot, dia sedang bersiap menakuti korbannya. Entah dia berhasil atau tidak, yang pasti dia berhasil menakutiku yang sedang sendirian di sini.


Aku meraih remote di lantai dan mematikan televisi itu kembali. Niatku menonton acara televisi sudah hilang. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menyibukkan diri agar tidak takut?


Tadinya aku ingin bernyanyi untuk menghibur diri. Tetapi karena pernah ada yang bilang jangan menyanyi malam-malam nanti ada yang mengikuti, aku jadi mengurungkan niatku.


"Ngiik! Ngiik! Ngik!" Sayup-sayup terdengar suara, aku mengedarkan pandangan mencari sumber suara itu.


Pintu kamar mandi bergerak-gerak pelan menimbulkan suara tadi. Aku bangkit dan merapatkan pintunya lalu kembali ke kursi. Namun belum lama aku duduk pintu kamar mandi itu terbuka dan bergoyang-goyang lagi. Aku bangkit lagi hendak merapatkannya kembali.


Seketika aku tertahan. Aku berpikir tak ada angin yang berhembus yang bisa menggoyangkan pintu itu. Jadi, kenapa pintu itu bergerak-gerak sendiri?


Aku menggoyangkan kepalaku, mengusir pikiran bodoh itu dari otakku. Aku merapatkan pintu itu kuat-kuat. Aku mundur beberapa langkah untuk memastikan pintu itu tidak akan terbuka lagi. Setelah menunggu beberapa saat pintu itu tetap tertutup.


Aku menghela nafas lega. Aku menengok ke samping dan melihat bayangan ku yang terpantul di kaca jendela bewarna hitam. Pemandangan di luar tak nampak apapun kecuali warna hitam yang menandakan kegelapan. Dan dua titik merah.


Titik merah? Aku terkejut menyadari itu. Ada dua bulatan kecil berwarna merah terang yang terlihat di kaca jendela. Aku menengok ke sisi lain di dalam ruangan. Mencari benda yang memungkinkan memantulkan warna merah itu, tapi tidak ada.


apa itu?


Aku mendekat ke jendela karena penasaran. Memperhatikannya baik-baik agar tidak salah. Aku tegaskan kembali dua lingkaran kecil itu yang nampak sejajar. Apakah itu lampu jalan?


Bukan! Itu bukan lampu jalan? Itu seperti ..'mata'?

__ADS_1


Aku cepat-cepat menarik gorden putih menutupi jendela lalu mundur sampai menabrak tempat tidur.


Benarkah itu mata? Kuharap pikiranku salah. Kuharap itu imajinasiku saja. Membayangkan ada sesosok makhluk bermata merah di balik jendela itu, bersembunyi di kegelapan, dan melihat ke arah sini, ke dalam kamar ini?


Bagaimana bisa aku memikirkan hal menakutkan itu? Sementara aku terjebak bersama seseorang pasien yang tak jelas hidup atau mati? Tapi kalau bukan, lalu itu apa? Yang pasti itu bukan lampu jalan.


Kenapa Siska lama sekali? Dia ngapain sih di toilet?! Dan ibu anak ini juga kok gak balik-balik. Memang dia mau menelpon berapa lama?


Tiba-tiba pintu kamar terbuka sedikit seolah ada yang mengintip ke dalam.


"Siapa?" seruku bertanya.


Tak ada sahutan. Aku hanya melihat bayangan seseorang yang melintasi kamar ini dari celah pintu kamar. Aku membuka pintu kamar lalu memeriksa ke luar.


Seseorang baru saja berbelok ke tangga yang berada di sebelah kamar ini. Aku hanya melihat punggungnya sekilas berseragam putih.


"Siska?" Seruku lagi bertanya. Hening. semua pasien mungkin sudah tertidur.


Aku menengok ke dalam kamar sejenak. mana yang lebih mmenakutkan, berjalan-jalan di koridor yang sepi tanpa tahu siapa yang kau temui? Atau tetap berdiam di dalam kamar berduaan dengan pasien yang seperti mayat hidup.


" Kosong? Anak itu tidak ada! Kemana dia?" Aku panik dan mencari sepanjang lorong.


Kalau dia sampai hilang aku yang disalahkan karena tidak menjaganya dengan benar. Aku bisa dipecat. Padahal belum ada baru beberapa bulan bekerja.


Aku yakin saat aku keluar tadi anak itu masih di dalam. Kenapa sekarang tidak ada? Padahal dia kan tidak sadarkan diri. Apa dia tiba-tiba bangun dan berjalan sendiri?


Normalnya orang yang baru saja sadar dari koma pasti sulit untuk menggerakkan tubuhnya apalagi berjalan. Ini tidak mungkin!


Aahh! Pekikku. Kakiku tersandung sesuatu hingga membuatku jatuh tersungkur ke lantai.


saat itu aku mendengar suara langkah kaki berjalan di lorong. Suaranya dari arah belakangku. Pelan-pelan mendekatiku.


"Siapa?" tanyaku dengan suara lemah dan bergetar.


Aku takut. Aku ingin kabur. Tapi aku tak bisa bangun. Tubuhku tak mau digerakkan. Entah karena saking takutnya atau memang seseorang menahanku.

__ADS_1


Sepasang kaki kecil berdiri di depanku. Jari-jari kecil yang memucat. Pelan-pelan aku mendengak ke atas untuk melihat siapa pemiliknya.


Aku tak percaya! Anak yang tadi terbaring di kamar itu seperti mayat hidup, bangun dan berdiri di hadapanku. Matanya yang semerah batu Rubi menatapku. Dia menggerakkan jari telunjuknya ke depan mulutnya. Memberi isyarat padaku untuk diam.


"Akkkkhhhh!" Teriakanku menggema ke seluruh lorong. Berharap dalam putus asa seseorang mendengarnya dan datang tepat waktu menolongku.


"Ra! Ra! Bangun Ra!" Aku mendengar suara Siska membangunkanku. Perlahan aku membuka mata. Aku melihat Siska dan yang lainnya mengerumuniku.


"Kamu kenapa Ra?" Tanya Siska cemas.


"Tadi- itu-anak itu- bangun-" ujarku terpotong-potong. Aku sendiri tak mengerti. Rasanya semua kata-kata itu berlomba keluar dari mulutku sampai aku tak bisa mengaturnya.


"Anak yang mana?" tanya siska.


"Yang di kamar itu-" aku menunjuk kamar pasien anak-anak yang sedang koma itu. Aku melihat ibu pasien itu berdiri tak jauh dariku. Melihatku bingung. Bagaimana tidak, anaknya hilang saat dia meminta aku menjaganya. Dia pasti menyalahkanku.


"Ra, kamu mimipi ya? Anak itu masih di kamar, Ra. Gak kemana-mana. Dia masih belum bangun."


"Apa?" Kata-kata Siska mengejutkan ku. Kalau dia masih belum bangun, lalu siapa yang kutemui tadi? Padahal jelas-jelas ranjang pasien itu kosong dan selimutnya acak-acakan.


"Kami menemukanmu pingsan di jalan. Apa yang terjadi?" Tanya Siska lagi. Aku bingung menjawabnya. Karena pasti tidak ada yang percaya. Semua ketakutanku dan kebingungan ku membuat emosiku meluap menjadi Isak tangis. Siska menenangkanku dengan memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. Aku malu tapi aku tak bisa menahannya lagi.


Sebulan berlalu sejak kejadian itu. Aku sudah memeriksa CCTV berulang-ulang. Anak itu tidak terekam. Hanya ada aku yang pergi keluar kamar lalu mendadak jatuh pingsan. Apa benar aku hanya mimpi? Rasanya sangat nyata.


Rekan-rekan kerjaku memintaku untuk tidak terlalu memikirkannya. Hal-hal aneh memang sering terjadi saat kita berjaga malam. Kadang-kadang ada suara aneh. Kadang juga di lempari barang-barang. Yah, begitulah cerita rekan-rekan ku yang pernah berjaga malam. Awalnya takut lama-lama terbiasa dengan keisengan mereka.


Sebuah apel merah menggelinding di kakiku. Aku memungutnya dan memberikannya pada gadis kecil yang duduk di kursi roda.


"Terima kasih suster Laura." Ucapnya padaku sambil tersenyum manis.


Rasanya masih sulit ku percaya bahwa dia anak yang sama yang sudah membuatku ketakutan dan trauma berkepanjangan. Dia memiliki bola mata warna coklat yang indah. Dia sudah terbangun beberapa hari yang lalu dan saat ini sedang melakukan pemeriksaan lanjutan dan terapi.


"Katanya sebentar lagi kamu sudah boleh pulang ya? Selamat ya!" Ucapku. Anak itu yang di panggil dengan nama Melya mengangguk riang.


Anak laki-laki yang ku tahu sebagai kakaknya mendorong kursi rodanya berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


Aku tahu anak itu berbeda dari yang pernah kutemui, namun kadang perasaan takut menyelinap di hatiku saat berhadapan dengannya. Ada sesuatu yang janggal dari anak itu. Sesuatu yang tak terlihat namun menebarkan rasa takut di sekitarnya.


__ADS_2