
"Sebentar lagi mulai sekolah. Nanti kamu akan punya banyak teman. Jadi jangan sedih lagi!" ucap Angga mencoba menyemangatinya.
Sayangnya, teman-teman di sekolahnya lebih dulu mendengar isu tentang Melya.
"Hei, bukannya itu anak yang di gosipkan?"
"Katanya dia bisa melihat hantu?"
"Masa? Memang hantu ada?"
"Kalau hantu itu tidak ada, berarti dia pembohong."
"Ya ampun, kecil-kecil sudah jadi pembohong. Aku tak suka berteman dengan pembohong."
"Tapi kata ibuku benar dia bisa melihat hantu. Teman-temannya kan mati semua pas kecelakaan itu."
"Apa? Maksudmu teman-temannya yang mati itu semuanya jadi hantu dan terus mengikutinya? Kalau benar seram sekali."
"Ya, benar. Bayangkan saja masa cuma dia saja yang selamat? Sedangkan semuanya mati. Bukannya itu aneh?"
"Iya aneh, jangan-jangan kalau kita berteman dengannya kita juga akan mati."
"Kalau kita jangan mendekatinya agar aman. Lagian dia memang menakutkan. Kayaknya benar dia punya teman hantu."
"Menakutkan. Kita jangan berteman dengannya saja!"
"Benar, jangan berteman dengannya!"
Melya mendengar semua yang dikatakan teman-teman sekelasnya. Namun dia tidak ingin berdebat untuk membantahnya. Gosip itu semakin dibantah akan semakin ramai. Jadi Melya memilih untuk diam, dan membiarkan waktu mengurutkannya.
Dia hanya harus menahannya. Bersabar dengan tindakan teman-teman sekelasnya.
Pernah suatu ketika dia kehilangan buku PR yang harus dikumpulkan hari itu. Dia tahu bahwa salah seorang teman sekelasnya yang menyembunyikan.
"Minta teman hantunya saja suruh mencari!"
"Atau jangan-jangan teman hantunya yang mengambilnya."
Suara tawa mereka dan kata-kata mereka yang menyindirnya semakin terasa sakit menusuk. Sampai berapa lama dia harus menahan semua ini?
Tapi
Melya pulang dengan perasaan marah. Dia langsung masuk ke kamar dan membanting tasnya ke lantai. Dia bahkan mengabaikan panggilan ibunya.
"Ya ampun! Mereka jahat sekali padamu!" Anak perempuan yang pernah dilihatnya waktu itu muncul lagi di depannya.
__ADS_1
"Benar, jahat! Ayo kita balas mereka!"
Anak-anak yang lain ikut muncul di kamarnya. Melya tahu bahwa mereka semua bukan manusia.
"Patahkan kursinya, buat mereka jatuh saat duduk!"
"Jatuhkan mereka dari tangga! Benar! Dorong mereka!"
"Atau kunci mereka di toilet! Kunci mereka sampai menangis."
"hahaha!" suara tawa mereka memenuhi kamarnya. salah satu gadis kecil itu melayang mendekat dan memegang wajahnya. dia yang tidak memiliki bola mata.
"Katakan saja pada kami! kau ingin kami melakukan apa pada mereka?" ujar gadis kecil itu pada Melya. Saat dia mengatakan itu, mulutnya terbuka lebar. Tak ada lidah atau deretan gigi. Hanya ada kekosongan. seolah ada ruang yang gelap di dalam mulutnya yang siap menelannya.
Melia Mendorong gadis itu,
"Berisik kalian! Pergi!" teriak Melya meluapkan kemarahannya.
Melya menjatuhkan diri di kasur dan menangis. Melya tidak tahu bahwa ibunya mendengarnya dari balik pintu kamar.
Sang ibu juga bingung harus bagaimana, dia tahu putrinya mulai bicara yang aneh-aneh sejak pulang dari rumah sakit. Melya lebih banyak menghabiskan banyak waktunya di kamar ketimbang main diluar seperti biasanya. Belum lagi gosip para tetangga yang membutuhkan dadanya sesak. Wina, menyayangi putrinya, namun rasa sayangnya dirasa tak cukup melindungi putrinya saat ini.
Melya merasa enggan berangkat sekolah. Dia malas bertemu teman-temannya.
Hari hampir sore, Melya belum juga pulang ke rumah. Wina, sang ibu khawatir karena Melya berangkat dengan lesu. Wina bertanya kepada teman-temannya, tapi mereka bilang Melya tidak datang ke sekolah.
Wina semakin cemas. Dia bertemu dengan Angga keponakannya.
"Angga, tolong Tante! Melya -"
"Ada apa dengan Melya?"
"Melya hilang. Mereka bilang Melya tidak ada di sekolah. Tante sudah mencarinya kemana-mana. Tapi tidak ketemu." ucap Wina panik sambil terisak-isak.
"Aku akan mencarinya. Tante pulang saja dan tunggu di rumah."
Sampai malam Melya masih belum ditemukan. Wina sudah meminta bantuan para tetangga untuk mencarinya. Wina terus menangisi putrinya yang hilang dan menyalahkan diri sendiri yang tidak becus menjaganya.
Sementara itu, Angga menyusuri jalan setapak yang gelap tanpa rasa takut sedikitpun. Sejak kecelakaan itu, melya memiliki bau tubuh yang unik. Sesuatu yang harum menyengat. Dia menciumnya sepanjang waktu. Angga mengikuti jejak aroma itu samar-samar.
"Melya! Kau tinggal di sini saja bersama kami. Tidak akan ada yang menyakitimu di sini. Kami akan menjagamu."
"Kenapa tidak kalian saja yang pergi ke tempatku. Kita main seperti dulu."
"Kami tidak bisa --" belum selesai mereka menjawab, Angga menemukan mereka.
__ADS_1
"Gawat! Dia sudah datang! Ayo pergi!" Kerumunan anak-anak itu bersembunyi.
"Melya?" Panggil Angga. "Kamu sedang apa di sini. Orangtuamu mencarimu."
"Aku lagi bermain sama temanku."
"Tidak ada siapapun di sini."
"Ada. Ada Nana, ada yang lain juga. Tadi mereka disini mengobrol denganku."
"Melya, temanmu Nana dan yang lainnya sudah tidak ada. Makhluk-makhluk itu hanya mengambil wujud mereka untuk menarik perhatianmu. Kau tidak tahu?"
"Aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi. Cuma mereka yang mau berteman denganku. Orang-orang menjauhiku dan tidak mau berteman denganku. Ibu menangis setiap malam karena aku mengurung diri di kamar." Melya mulai menangis.
Angga menariknya bangun dan melihat wajahnya. Pipinya yang bulat dan merah seperti apel basah oleh air matanya. Angga mengusap pipinya.
"Kalau mereka tidak mau, aku mau main denganmu. Jangan menangis lagi. Mulai hari ini aku akan menemanimu bermain. Katakan saja padaku kau ingin main apa." Ucap Angga lembut.
Melya menghentikan tangisnya. Setelah diam sejenak akhirnya dia bicara, "Aku mau main boneka."
"Hah?" Angga tercengang mendengar permintaan Melya yang tiba-tiba. "Aku tidak main boneka."
"Tadi katanya mau menemaniku main?"
"Ya, tapi bukan main boneka juga. Kan aku anak laki-laki."
"Terus main apa? Masa main robot seperti anak laki-laki."
"Itu hanya koleksiku. Aku tidak memainkannya seperti anak perempuan memainkan boneka. Lagian selama ini kamu 'kan gak pernah main boneka." Angga tahu betul adiknya yang satu itu agak tomboi, lebih banyak bermain di luar rumah ketimbang main boneka seperti anak perempuan umumnya. Dia bahkan tak punya koleksi boneka kecuali satu hadiah boneka yang diterimanya saat berumur dua tahun.
"Aku cuma ingin main seperti anak perempuan lainnya." Dia tahu adik perempuannya ini hanya ingin mengujinya. Angga membenturkan pelan keningnya ke kening Melya sambil tersenyum. Melihat wajah kecil adiknya yang tadi menangis kini mulai membaik.
"Ayo pulang! Besok aku janji akan menemanimu bermain."
"Janji?"
"Janji. Asalkan bukan main boneka."
Mereka berdua tertawa. Angga menggendong Melya di punggungnya, karena Melya bilang kakinya sakit. Ibu mereka menyambut mereka dengan pelukan begitu mereka pulang. Hari itu Melya tenggelam dalam pelukan hangat ibunya dan tangisan kasih sayang.
Melya terbangun dari mimpinya yang panjang. Dia merasa ada setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya mengalir di pipinya. Apa dia menangis saat tidur? Dalam mimpinya dia teringat akan kenangan pahit masa kecilnya. Ada juga kenangan manis dari orang-orang yang menyayanginya selama ini.
"Sudah bangun?" Ujar Angga menyapa dari ambang pintu kamar. "Mimpi indah semalam?"
"Kurasa begitu." Ucap Melya sambil tersenyum.
__ADS_1