Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Awal Dari Masalah


__ADS_3

POV Maiya


Reina adalah teman baikku sejak kecil. Kami menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Mulai dari hal kecil sampai rahasia besar.


Hari itu Reina bercerita padaku bahwa dia mendapatkan beasiswa untuk masuk SMA favorit di ibukota. Sekaligus melanjutkan kuliah disana juga. Itu tidak mengherankan mengingat dia sudah belajar dengan giat sejak kecil. Segala usaha kerasnya kini terbayarkan.


Begitu lulus dari sekolah ini dia akan pergi meninggalkan kota ini. Lalu bagaimana denganku? Aku juga ingin pergi dari kota ini. Aku akan membicarakan masalah ini dengan ayah.


"Apa maksudmu? Kau ingin pindah bersekolah di luar kota?"


"Iya, ayah."


"Apa kau tidak sadar dengan nilai-nilaimu yang sekarang? Bahkan tanpa bantuan ayahmu ini kau tidak akan bisa masuk SMA bagus di kota ini, apalagi di ibukota!"


"Tapi, ayah. Ijinkan aku mencobanya dulu. Mana bisa tahu kalau tidak dicoba."


"Kalau ujian semester kali ini, kau bisa mendapatkan peringkat 10 terbaik, ayah akan pertimbangkan permintaanmu. Tapi jika gagal, kau akan masuk ke SMA pilihan ayah. Tidak ada tawar menawar lagi!" Ayah langsung pergi mengakhiri pembicaraan kami tanpa menunggu jawaban dariku.


Jelas tidak mungkin aku bisa masuk peringkat 10 besar di sekolah. Aku tidak sepintar Reina ataupun Arya. Tidak berada di peringkat terakhir saja sudah bagus. Bagaimana caranya aku bisa masuk sepuluh besar? Ujian tinggal tiga hari lagi.


Atas tawaran temanku, aku membeli bocoran soal dan jawaban yang akan keluar di ujian nanti. Sayangnya niatku ini ketahuan oleh Reina.


Reina menasehatiku agar aku tidak melakukan kecurangan itu, namun aku mengabaikannya. Di pertengahan ujian aku dipanggil kepala sekolah.


Seseorang sudah melaporkan tindak kecuranganku. Bukan hanya ke pihak sekolah tapi juga ke ayahku. Aku dimarahi ayahku habis-habisan. Ayah selalu saja membandingkan aku dengan ketiga kakak laki-lakiku yang saat telah sukses membuatnya bangga. Dibandingkan aku yang hanya dianggap pembuat masalah.


Berkat ayah aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Sebagai gantinya aku dikurung di rumah sebagai hukuman. Anak-anak di sekolah hanya tahu aku sakit. Ayah tidak akan membiarkan gosip tentangku menyebar dan mencoreng nama baiknya sebagai wali kota.

__ADS_1


Keesokannya aku bertengkar dengan Reina. Dia satu-satunya yang tahu aku membeli soal-soal itu, wajar saja kalau aku curiga dia yang melaporkanku pada ayah dan kepala sekolah. Kami bertengkar hebat karena dia terus menyangkal. Aku tahu aku salah. Tapi aku kecewa dia mengkhianatiku dengan melaporkan aku kepada ayah.


Sejak dia dapat beasiswa itu dia mulai berubah. Aku merasa dia semakin menjauh.


"Kalau begitu, buat saja dia kehilangan beasiswanya," saran Yura, salah seorang teman sekelasku yang cukup dekat denganku. Yura juga yang menawarkanku membeli soal bocoran itu.


"Bagaimana caranya?" tanyaku yang tak mengerti dengan saran yang dia berikan.


"Kalau dia melakukan kesalahan atau melanggar peraturan, beasiswanya akan dicabut 'kan?"


"Itu benar. Tapi Reina bukan orang yang mudah melakukan kesalahan apalagi melanggar peraturan. Itu tidak mungkin."


"Kalau begitu kau yang lakukan. Kau yang paling sering bersamanya. Kau yang paling tahu kapan dia lengah."


"Aku? Tidak! Tidak! Aku tidak mungkin melakukannya!"


Aku yang saat itu masih terbawa emosi kemarahanku, termakan ide gila itu tanpa memikirkan dampaknya. Kupikir itu kesempatan yang bagus juga untuk memberinya pelajaran agar dia tidak mengkhianatiku.


Aku mengajaknya ke swalayan untuk berbelanja bersama. Tanpa sepengetahuannya aku memasukkan barang toko ke dalam tasnya menggunakan saputangan.


Hasilnya dia dituduh mencuri dan digiring ke kantor polisi. Aku tidak tahu bahwa seseorang teman sekelasku yang berada di lokasi yang sama dengan kami mengetahui perbuatanku. Dia mengancamku dengan sebuah foto yang dia ambil saat itu.


Ayahku yang mengetahui hal ini tidak tinggal diam. Aku tidak tahu apa yang di lakukannya tapi anak itu tidak pernah muncul lagi disekolah. Dia pindah sekolah.


Yang paling tidak kusangka adalah Reina. Dia mengakui pencurian yang tidak dilakukan. Aku tahu dibalik semua itu ada keterlibatan ayah.


"Apa yang ayah lakukan pada Reina? Aku tahu ayah menjenguknya sebelum itu. Apa yang ayah katakan padanya?"

__ADS_1


"Kau pikir apa? Ayah hanya meminta dia mengakui semuanya. Atau kau ingin semua orang tahu perbuatanmu? Dan membuat reputasi ayah semakin jatuh?"


"Ayah, aku tidak ingin bermaksud..."


"Berapa kali ayah bilang padamu, Maiya. Berhati-hatilah dalam berperilaku karena semua orang memperhatikanmu! Apapun yang kau lakukan bukan hanya berdampak pada dirimu, tapi juga pada pekerjaan ayahmu dan juga keluarga ini! Kau bukan anak biasa! Kau anak dari seorang walikota."


Ayah memarahiku habis-habisan dan mengurungku dikamar. Ayah juga membayar uang jaminan pembebasan Reina. Semua dilakukannya bukan semata-mata untukku, tapi untuk menjaga reputasinya. Baginya reputasi dirinya dan nama baik keluarga ini lebih penting dari putrinya sendiri.


Setelah kembali dari sekolah Reina harus mengalami penindasan di sekolah. Dan itu semua dilakukan anak-anak dengan mengatasnamakan diriku tanpa sepengetahuanku. Kalau saja Arya tidak bilang, aku tidak akan pernah tahu.


"Aku tidak pernah menyuruh kalian melakukan ini pada Reina!!" bentakku marah pada anak-anak yang membully Reina.


"Tapi, Maiya, kau yang mengirim pesan pada kami meminta kami melakukannya."


"Aku tidak pernah mengirim pesan pada kalian! Jangan mengada-ada! Pokoknya mulai hari ini per detik ini juga kalian hentikan perbuatan kalian terhadap Reina, jika tidak, aku yang akan menghancurkan kalian semua!" ancamku.


Meski aku mengancam anak-anak itu, semua tidak ada gunanya. Isu mengenai Reina tersebar luas di sekolah bahkan ke seluruh kota. Wali murid juga mendesak pihak sekolah untuk mengeluarkan Reina karena sudah mencemarkan nama baik sekolah. Kami berdua tak lagi bisa bicara bersama.


Aku bingung bagaimana harus menjelaskan ini padanya. Dia mulai jarang masuk sekolah. Dia juga selalu menghindariku. Aku tahu dia marah padaku. Dia mungkin membenciku dan tak ingin melihatku lagi.


Meski awalnya kulakan ini agar dia tetap di kota ini dan tetap bersamaku, hasilnya dia semakin jauh dariku. Ini salahku! Semua karena keegoisanku. Aku adalah orang bertanggung jawab atas apa yang di alami Reina. Kalau waktu bisa terulang aku tidak akan melakukan tindakan bodoh itu. Maaf, Reina!


Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar kematian ayahnya yang tiba-tiba. Ayahnya meninggal karena serangan jantung. Saat aku datang ke rumahnya, hanya satu kata yang di lontarkannya padaku.


"Pargi! Pergilah dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!" Wajahnya yang merah karena kemarahan tenggelam dalam Isak tangis kesedihan. Sedangkan aku tak bisa berkata apa-apa agar diriku dimaafkan.


Di matanya aku adalah orang yang telah menjebaknya, aku juga orang yang telah memimpin penindasan padanya di sekolah. Karenaku dia kehilangan beasiswa dan ayahnya. Apakah aku masih layak untuk dimaafkan?

__ADS_1


__ADS_2