Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Aku Menunggumu


__ADS_3

Hari itu aku dapat jawabannya langsung dari Reina. Hari di saat aku menunggu Arya sendirian di kelas, Reina menghampiriku.


Awalnya aku senang melihatnya karena sudah lama dia tidak masuk ke sekolah. Lama kelamaan aku gusar melihat matanya yang menatapku tidak wajar. Dan saat dia semakin mendekat, dia mengeluarkan sebilah pisau dari dalam tasnya. Dia mengayunkan pisau itu ke arahku.


"Akhhhh!" Aku berhasil menghindar namun lenganku tergores. Dia terus menyerangku disaat aku mencoba bangun dan menghindarinya. Aku kewalahan menahan serangannya.


Normalnya aku lebih unggul darinya secara fisik dan tenaga. Tapi kali ini dia berhasil menekan ku dan membuatku kesulitan. Dari mana dia mendapatkan tenaga sebesar ini? Dari kemarahannya kah? Atau kebenciannya terhadap ku?


"Tolong aku! Siapapun tolong aku!" teriakku putus asa. Aku mulai takut. Aku takut mati di tangan sahabatku sendiri.


Sekolah sudah mulai sepi. Ditambah lagi kami berada di kelas paling atas. Adakah yang bisa mendengar suaraku? Batinku putus asa.


Arya datang ke kelas di waktu yang tepat. Dia berhasil menahan Reina, dia juga menjatuhkan pisau dari tangan Reina.


"Apa yang ingin kau lakukan Reina? Kau ingin membunuhnya? Temanmu sendiri?"


"Lepaskan aku!" Reina terus memberontak mencoba untuk lepas dari Arya. Setelah lelah dan tak bisa juga lepas dia akhirnya menangis.


"Apa salahku padamu? Kenapa kau lakukan ini padaku Maiya?" Isak Reina. Aku gemetar takut bercampur miris melihat Reina seperti itu. Lututku lemas nyaris tak bisa berdiri.


"Sadar Reina! Ini tidak benar! Apapun masalahnya diantara kalian, semua bisa dibicarakan baik-baik, bukan dengan cara seperti ini!" ujar Arya.


Reina menangis histeris. Akhirnya dia diam karena kelelahan. setelah memastikan keadaanku baik-baik saja, Arya mengantar Reina pulang.


Aku memungut kunci loker yang sempat dijatuhkan Reina tadi. Aku menyimpannya karena kupikir dia akan datang kembali menemui ku untuk mengambil kunci ini.

__ADS_1


Kejadian itu hanya diketahui kami bertiga. Dan aku memutuskan untuk merahasiakan kejadian ini dari semuanya. Jika tidak Reina bisa dapat masalah lagi.


Setelah Reina tak lagi masuk sekolah. Dia mengurung diri di kamar saat aku dan Arya menjenguknya.


Atas saran dari Arya, aku datang langsung dan meminta maaf pada Reina. Namun dia malah menyerangku lagi. Beruntung saat itu kakaknya berhasil menahannya.


"Maaf saja tidak cukup! Hidupku hancur karenamu! Aku kehilangan ayahku karenamu! Semua salahmu Maiya! Bahkan mati sekalipun aku tidak akan membiarkanmu tenang sampai kau tebus semua kesalahanmu!"


Aku mengunjunginya hampir setiap hari, tapi Reina terus menolakku dan aku hanya bisa berdiri didepan gerbang rumahnya menatap ke jendela kamarnya. ku harap hatinya akan luluh.


Bahkan saat hujan mengguyur seluruh tubuhku, dua tetap tak bergeming. Apa hubungan persahabatan kami sudah tidak bisa diperbaiki lagi?


Hari itu, Aku menyaksikan dengan mataku sendiri bagaimana mereka menandu tubuh Reina keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil ambulan. Aku semakin dihantui rasa bersalah.


Setelah itu aku memdengar kabar kematianmu. Aku menangis sepanjang hari hingga suaraku serak. Setiap kali aku melewati rumahmu aku terdiam di depan pagar dan melihat jendela kamarmu yang gelap. Bahkan di hari hujan aku tetap berdiri di sana seolah berharap pengampunanmu.


Aku tidak tahan. Aku menggaruk kedua mataku hingga terluka, dengan begitu aku tak perlu melihatmu lagi. Namun aku salah. Aku masih mendengar suaramu yang seakan terus memburuku.


Jika aku mati apa kau akan melepaskanku? Jika aku mati apa kau akan mengampuniku, Reina?


Setelah aku mengiris nadi di leher dan pergelangan tanganku, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saat aku membuka mataku lagi aku sudah berada di tempat ini. Semua terasa gelap dan dingin. Sebuah bangunan besar dengan banyak lorong dan ruang yang sepi. Gelap dan menakutkan.


Aku tak tahu harus bersembunyi di mana. Aku tidak tahu harus lari ke mana? Berulangkali aku mencoba keluar dari bangunan ini namun selalu berakhir kembali di tempat yang sama.


Aku tak tahu harus bertanya pada siapa? Tak ada seorang pun yang ku kenali di sini. Hanya ada anak perempuan yang selalu bersembunyi di toilet. Atau hantu anak laki-laki tanpa kepala yang selalu memainkan kepalanya. Atau gadis-gadis menakutkan yang mengintip dari balik cermin. Masih banyak lagi yang lebih menakutkan yang ada di sini. Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau tinggal di sini lebih lama lagi.

__ADS_1


Aku memberanikan diri bertanya pada anak perempuan di toilet, pada anak laki-laki tanpa kepala, kepada gadis-gadis yang bersembunyi di cermin, mereka tidak tahu kenapa aku terkurung di sini. Mereka bilang aku harus bertanya pada penjaga malam, nenek pembawa lentera yang menjaga tempat ini. Dia akan menunjukkan jalannya padaku.


Aku berhasil menemuinya. Aku pun menanyakan perihal keadaanku yang tak bisa keluar dari tempat ini. Tapi bukan jawaban yang kudapat malah pertanyaan yang tak bisa ku jawab.


"Apa yang sudah kau lakukan sampai terkurung di sini? Apa yang masih ingin kau lakukan sampai kau tak mau pergi dari dunia ini?"


"Aku tidak tahu."


"Mereka yang mati meninggalkan banyak penyesalan, mereka yang mati meninggalkan banyak emosi buruk, atau mereka yang meninggalkan dunia ini tapi belum sempat menyelesaikan tugas mereka, seringkali roh mereka terperangkap di tempat mereka mati. Tak bisa menemukan jalan pulang ataupun kembali. Kau salah satu dari yang mana?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin pulang. Aku tidak ingin di sini."


"Roh yang malang. Kau bahkan tak mengerti dirimu sendiri. Aku tidak bisa membantumu, tap kuijinkan kau tinggal sementara waktu sampai orang itu kembali dan membebaskanmu."


"Siapa orang itu?"


"Orang yang membuatmu tetap tinggal disini, orang yang membuatmu menemui kematian, jika dia masih peduli padamu, dia akan datang lagi dan membebaskan dirimu."


"Bagaimana jika dia tidak kembali? Apa yang harus kulakukan?"


"Maka kau harus tinggal di sini selamanya. Yang bisa kau lakukan saat ini hanyalah menunggunya."


Setelah itu penjaga itu pergi dan tak pernah muncul lagi. Saat penjaga itu bilang seseorang, maka hanya satu nama yang terlintas di benakku, Reina.


Aku tahu harus menunggumu. Kau akan kembali. Tapi bagaimana jika kau tidak mau kembali ke sini?

__ADS_1


Hari-hari yang kulalui terasa berat tinggal bersama makhluk-makhluk yang aneh dan menakutkan. Tak ada yang bisa ku ajak bicara secara normal. Aku tidak tahan disini. orang senormal apapun pasti akan jadi gila jika terus berada disini. Ingatanku mulai kabur dari waktu ke waktu. Kesadaranku mulai terkikis dan menghilang. Aku merasa kosong.


__ADS_2