
Sebelum lanjut dengan kisah petualangan Melya di sekolah, kita mundur sedikit ya agar kalian paham dengan rencana Melya. Inilah yang terjadi beberapa jam sebelum Melya menyelamatkan Riri.
🌿. 🌿. 🌿
Sore hari, pukul 04.00 sore, di kediaman keluarga Eli, saat aku datang berkunjung,
"Pembunuh?!" Eli sangat terkejut sampai suaranya meninggi.
"Ssst!" Aku mengisyaratkan Eli untuk diam dan memelankan suaranya.
Saat ini aku dan Eli berada di kamar Eli. Dengan alasan membantunya mengerjakan tugas sekolah, ibunda Eli membiarkan kami berdua saja di kamar.
"Aku sudah memintamu untuk tenang sebelum mendengarkan penjelasanku 'kan?" ujarku mengingatkan.
Eli memelankan suaranya menjadi bisikan dan bertanya padaku dengan tidak sabar, "Apa maksudmu? Bibi Reina membunuh temannya? Bibiku tidak mungkin melakukan itu!"
Aku diam sejenak sebelum menjawab, untuk memastikan tidak ada siapapun yang mendengar percakapan kami. Sebelumnya aku sudah menceritakan kondisi Riri yang saat ini sedang dalam pengaruh arwah Maiya.
"Aku bukan menuduh bibimu. Aku bilang, Arwah Maiya yakin bahwa dia telah dibunuh oleh bibimu. Dan selama ini dia terus menunggu bibimu Reina, muncul sampai sekarang."
Aku juga tidak tahu dari mana kesalahpahaman ini dimulai. Reina sebagai korban penindasan di sekolah karena kasus pencurian dipercaya sudah meninggal dan menjadi arwah penasaran. Namun kenyataannya berbeda.
"Itu tidak mungkin. Ibuku bilang semenjak bibiku meninggalksn kota ini dia tidak pernah kembali lagi ke sini. Jadi tidak mungkin dia membunuh Maiya!"
Kenyataan bahwa Reina masih hidup hanya diketahui keluarganya saja. Hal ini dilakukan agar Reina bisa memulai hidup barunya di tempat lain.
"Aku tahu itu. Tapi, Maiya meyakini ini hingga kematiannya. Dia percaya arwah Reina lah yang telah membunuhnya. Dia menunggu bibimu, Reina datang ke sekolah itu lagi. Dia tidak akan tenang sebelum bertemu dengannya," ujarku menjabarkan masalahnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau tahu apa yang dipikirkan arwah itu? Bagaimana kau bisa yakin bahwa itu adalah arwah Maiya?" tanya Eli bingung.
"Karena aku melihatnya dan aku mendengar suaranya," jawabku. "Aku bertemu dengan arwah itu di hari pertama aku masuk ke kelas 1-6. Dia duduk di kursiku. Awalnya aku tidak tahu siapa dia. Dan menganggap dia sebagai hantu usil biasa."
"Tapi saat aku melihat buku tahunan siswa dan foto para alumni, aku mengenali wajahnya. Aku yakin dia Maiya, arwah yang diyakini sebagai hantu Reina."
"Kenapa dia menyamar jadi bibiku?!"
"Dia tidak menyamar jadi bibimu, Eli. Tapi orang-orang lah yang salah mengira. Anak-anak seangkatan kita tidak ada yang tahu wajah Reina ataupun Maiya. Mereka hanya mendengar ceritanya dari mulut ke mulut."
"Eli, menurutku cerita hantu Reina itu muncul karena mereka tidak tahu bibimu masih hidup. Dikuatkan lagi kematian Maiya dan kunci loker no 13 yang ditemukan disaku kemeja Maiya. Kunci loker milik bibimu dulu. Karena itulah semua orang mengira bahwa hantu Reina telah membunuh Maiya untuk balas dendam."
"Bibi bilang kunci itu hilang, sesaat sebelum dia keluar dari sekolah itu."
"Aku mendengar arwah itu memanggil nama bibimu terus menerus. Berulangkali aku mendengarnya. Awalnya aku tidak mendengarnya dengan jelas. Tapi semakin hari aku semakin yakin dia hanya mengucapkan satu kata, satu nama 'Reina'!"
"Dan alasan kenapa Riri diincar arwah Maiya juga karena mu, Eli."
"Aku? Tapi kenapa?"
"Sebagai gantinya dia mengincar orang yang bersamamu, yaitu Riri." Eli tercengang mendengar kata-kataku.
"Jadi maksudmu Riri jadi seperti ini karena aku? Karena hantu itu mengincarku??"
Aku mengangguk, "Makhluk halus biasanya seperti itu. Kalau dia gagal menjangkau targetnya maka orang disekitar targetlah yang akan kena imbasnya. Dan kebetulan orang yang ada di dekatmu saat itu adalah Riri."
"Pertama arwah itu merasuki pikiran Riri dan membuatnya berhalusinasi, menebarkan ketakutan dan kecemasan, hingga membuat mentalnya jatuh, lalu merasuki hatinya dan membuatnya menjauhi orang-orang. Membuat dia ragu terhadap orang-orang disekitarnya dan menjauhi keluarganya. Jika dibiarkan terus arwah itu akan menguasai Riri sepenuhnya. Dan jika sudah sampai seperti itu kita akan kesulitan mengusir makhluk itu dari tubuh Riri karena dia menganggap Riri sebagai miliknya."
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Kita harus menjauhkan Riri dari arwah Maiya. Dan satu-satunya orang bisa menenangkan Maiya hanya bibimu, Reina. Reina adalah alasan dia tetap bertahan di dunia ini."
__ADS_1
"Maksudmu kau ingin bibiku datang ke kota ini dan menemui arwah Maiya? Bagaimana kalau dia malah melukai bibiku?"
"Bibimu tidak perlu datang, aku hanya ingin meminjam suaranya saja. Bibimu hanya perlu bicara lewat telepon. Aku akan memancing arwah itu keluar untuk mendengarkan suara bibimu."
"Tapi belum tentu hantu itu akan percaya. Apa dia bisa mendengarnya? Apa dia bisa mengenali suara itu adalah suara bibi Reina?"
"Dia akan mengenali suara itu. Di antara mereka masih ada ikatan yang belum putus. Ada benang kusut yang menjerat mereka berdua. Benang kebencian, benang kemarahan, atau benang yang lain yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua."
"Bicaralah pada bibimu, dan bujuk dia untuk mengikuti rencana ini. Ini tidak membahayakannya sama sekali. Dia hanya perlu menghubungi nomor ponselku. Dan berbicaralah seolah dia sedang menghubungi Maiya. Katakan semua yang ingin dia katakan selama ini. Kata-kata yang datang hatinya bukan dari pikirannya ataupun emosinya."
"Meski bibimu tidak bisa mendengar suara arwah Maiya, tapi Maiya pasti mendengar suaranya."
Eli nampak termenung, "Aku rasa sulit membujuknya, karena bibiku tidak percaya dengan arwah, hantu, atau hal-hal seperti itu."
"Untuk bisa menyelamatkan Riri kita harus menenangkan arwah Maiya. Satu-satunya orang yang bisa menenangkannya adalah bibimu, dan orang yang bisa membujuk bibimu adalah kau, Eli. Semua tergantung padamu."
Eli masih diam, sepertinya dia masih memikirkan kata-kataku.
"Katakan ini juga pada bibimu. Aku yakin ada alasan arwah Maiya menuduh bibimu sebagai pelaku pembunuhan. Dan alasan itu hanya bibimu yang tahu. Jika dia memang tidak melakukan kesalahan, maka tidak ada alasan untuk takut, kecuali jika dia memang menyembunyikan sesuatu, bahkan dari keluarganya sendiri."
Pupil mata Eli melebar, terkejut dengan apa yang ku ucapkan.
"Apa kau masih berpikir bahwa kematian Maiya ada kaitannya dengan bibiku?"
Aku mengangkat bahuku, mengisyaratkan aku tidak tahu. "Yang punya jawabannya bukan aku, tapi bibimu, tanyakan itu padanya? Aku yakin dia punya jawabannya."
Setelah itu aku pamit pulang pada ibunda Eli, meninggalkan Eli yang masih termenung.
🌿. 🌿. 🌿
__ADS_1
maaf ya lagi tegang-tegangnya malah di cut dengan bab ini. kita break dulu. Kasih Melya istirahat buat nafas, kasihan habis main kejar-kejaran dengan hantu sampai kakinya keseleo. di bab ini memang 90 % dialog, intinya, disini menjelaskan Reina masih hidup, yang jadi hantu bukan Reina tapi Maiya. selebihnya akan dijelaskan di bab selanjutnya. Aku dah revisi berkali-kali, tapi khawatir ada yang mumet dengan dialognya jadi aku bantu jelasin di sini. ditunggu kelanjutannya ya!