Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Pembunuhan Di Bawah Hujan Part 1


__ADS_3

POV Angga


Aku langsung menyeretnya pergi dari tempat itu meski dia memberontak.


"Kak Angga! Dengarkan dulu penjelasan ku!"


"Apalagi yang harus ku dengar?! Kau pergi keluar diam-diam, larut malam dengan pria tak dikenal? Apa yang ibumu pikirkan jika dia tahu?"


"Dia bukan pria asing! Aku mengenalnya seminggu lalu! Dia orang baik yang malang dan aku hanya ingin membantunya."


"Memang apa yang bisa kau bantu? Kau cuma anak-anak! Kau tidak tahu betapa berbahayanya apa yang kau lakukan."


Melya menyentak tanganku dengan keras membuatku melepaskannya.


"Aku tahu aku tidak bisa banyak membantu! Karena itu aku ingin membicarakan hal ini padamu tapi kau tidak pernah ada! Aku tahu aku terlalu ikut campur, tapi aku tidak bisa mengabaikan orang yang kesusahan di depanku dan pura-pura tidak tahu. Dia sudah berkeliling kesana kemari mencari adiknya yang hilang, apa kau tahu? Dia mencemaskan adiknya tapi tidak ada seorangpun dikota ini yang membantunya. Polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Apa salah jika aku ingin membantunya dengan kemampuanku yang sedikit itu?"


Melihatnya yang hampir menangis itu aku jadi tak bisa berkata apa-apa. Dia berlari meninggalkanku yang terdiam.


Kenapa aku jadi seperti ini? Aku tahu aku tertekan. Aku takut kehilangan dirinya sama seperti aku kehilangan saudara-saudara kami yang lain. Sekarang hanya tersisa aku dan dia. Jika harus ada yang mati diantara kami kuharap itu bukan dia.


Setelah pertengkaran kami aku tak berani menemuinya. Aku tak ingin membuatnya menangis lagi.


Sandy menghampiriku saat aku sedang beristirahat di depan kelas sambil melihat anak-anak dibawah.


"Aku mendengar kejadian tadi malam," tegurannya. "Kau berhak khawatir dan marah, tapi tindakanmu yang langsung menyeretnya pergi tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan itu berlebihan, Angga! Kau harus minta maaf padanya!" ujarnya sambil memberikan minuman dingin padaku.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku terlalu takut. Entah sejak kapan aku jadi penakut begini. Setiap kali aku melihat jasad dari para korban, aku jadi membayangkan bagaimana kalau korban itu bukan orang lain? bagaimana kalau korban itu adalah adikku sendiri? Apa yang harus kulakukan?"


"Aku paham, Angga. Bukan hanya kau saja yang merasakannya. Aku juga. Laila juga. Kita semua sama. Di kota ini, mereka yang memiliki mata batin mudah diserang Makhluk halus, dan bisa mati kapan saja. Tapi adikmu tidak mengetahui kenyataan ini karena kau merahasiakannya. Melindunginya sambil menyembunyikan fakta itu dari nya adalah tugas yang berat."


"Oh ya, Angga! Mengenai pria bernama Jun, aku sudah mencaritahu tentangnya. Benar yang dikatakan adikmu. Pria bernama Jun ini memiliki seorang adik perempuan yang sedang sakit. Dia membawanya ke rumah sakit yang dia tidak ingat namanya. Tanpa disadarinya dia tertidur dan terbangun di tempat yang berbeda. Dia tidak bisa menemukan rumah sakit itu lagi ataupun adiknya. Dia sudah mengirimkan permohonan bantuan pada organisasi tapi belum ada yang mengambil kasusnya. Karena kita semua disibukkan dengan kasus pembunuhan berantai itu dan masalah gadis hujan. Apa kau ingin mengambil kasusnya? Kebetulan orangnya ingin bertemu denganmu."


Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kasus pembunuhan berantai, hantu gadis hujan, sekarang masalah rumah sakit hantu yang menahan pasien. Kenapa semua masalah ini terus berdatangan tanpa memberi waktu istirahat?


"Aku akan menemuinya. Karena aku juga perlu minta maaf padanya."


"Baiklah. Aku akan memberitahu orangnya untuk menunggumu seusai sekolah."


Sepulang sekolah aku segera datang ke sebuah kedai minum, tak jauh dari sekolah. Orang bernama Jun itu sudah menungguku di sana. Aku bersyukur dia tidak marah tentang kejadian tadi malam. Tapi aku tetap harus minta maaf atas tindakanku yang tidak sopan. Dia juga sudah berbuat baik dengan mengantarkan Eli sampai ke rumah.


"Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian tadi malam. Aku terlalu emosi."


"Terimakasih sudah mencoba mengerti," ucapku.


Dia lalu menceritakan ulang tentang kejadian malam itu.


"Aku mengerti. Organisasi akan coba menanyakan kepada kepala rumah sakit itu. Jika dia ada disana dia pasti baik-baik saja. Karena mereka tak pernah melukai pasiennya. Kami berjanji akan membawanya kembali. Jadi mohon bersabar dan jangan lakukan tindakan berbahaya lagi. Saat ini kota sedang dalam keadaan waspada karena kasus pembunuhan berantai. Siapapun bisa jadi korbannya."


"Baiklah aku mengerti."


"Aku punya satu permintaan lagi. Tolong rahasiakan mengenai organisasi ini dari adikku. Dia tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak ingin dia terlibat."

__ADS_1


"Ya, aku paham. Hanya saja aku terkejut orang-orang dari organisasi ternyata masih sangat muda."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Mau bagaimana lagi. Kami tidak punya pilihan.


Setelah selesai berbicara dengan Jun pergi. Aku masih kepikiran dengan apa yang diceritakannya.


Evania. Salah satu anggota rumah sakit itu. Arwah yang sering muncul dengan wujud seorang gadis bergaun putih yang memakai payung. Apakah dia Evania yang sama dengan gadis yang terbunuh sebelas tahun yang lalu? Jika benar maka dia pasti tahu siapa pelaku pembunuhan berantai ini. Karena itu dia mungkin memperingati para korban.


Tapi kenapa dia hanya memperingati korban? Dia bisa saja balas dendam dengan membunuh pelakunya. Atau menggiring pelakunya agar tertangkap. Dan kenapa dia menyandra adik perempuan Jun? Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi aku yakin semua ini berhubungan. Aku harus menemukan rantai penghubungnya sebelum keadaannya bertambah parah.


POV Melya


Saat tiba di kelas, aku langsung menghampiri Eli dan minta maaf padanya. Gara-gara Angga aku jadi meninggalkannya pergi begitu saja. Untung kak Jun mengantarkannya. Aku juga belum sempat meminta maaf pada kak Jun.


"Mel, bisa bantu aku bawakan buku-buku ini ke ruang guru?" seru Laila meminta bantuanku. Aku menghampirinya tanpa curiga dan membawakan buku-buku itu bersamanya.


"Mel, kudengar kau bertengkar dengan Angga, apa benar?" tanyanya tiba-tiba saat kami dalam perjalanan ke ruang guru.


"Tahu dari mana? Apa Angga yang cerita?" Aku bertanya balik. Laila malah tertawa.


"Mana mungkin dia cerita padaku. Karena dia tahu aku pasti akan menertawakannya."


"Kau tahu, Mel. Aku selalu menunggu-nunggu dia melakukan kesalahan dan mengejeknya. Sungguh! Dia itu sangat menyebalkan karena bisa melakukan apa saja dengan sempurna. Dan semua orang mengandalkannya."


"Kadang dia bersikap sok dewasa, padahal usia kita tidak beda jauh. Sok memberi nasehat. Dan suka melarang ini dan itu."

__ADS_1


Aku tidak menyangka Laila akan berkata seperti itu tentang Angga. Kukira mereka berhubungan dekat.


__ADS_2