Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 116


__ADS_3

Dia memelukku erat.


"Maafkan ibu! Harusnya ibu tidak pergi meninggalkan kalian," Isak ibu menyesal.


"Tidak apa-apa Bu. Aku sudah baik-baik saja. Luka ini akan segera sembuh. Benar 'kan Bu?"


Sekali lagi ibu memeriksa luka diwajahku dan mengangguk pelan tanpa bisa berkata.


"Oh ya di mana kakakmu Celena? Apa dia baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu. Mungkin dia sedang bermain di luar?"


"Apa dia tidak bersamamu?"

__ADS_1


"Tidak, kami bertengkar lalu dia meninggalkanku terkunci di kamarnya. Gara-gara dia, aku jadi mengalami semua ini." Mendengar kata-kata ibu bukannya prihatin dengan keadaanku, dia malah terkejut dan khawatir karena Celin tidak bersamaku.


"Jadi kau tidak melihat dia keluar dari rumah?"


"Aku memang tidak melihatnya keluar dari rumah, tapi pikirkan, Bu! Dia pasti sudah kabur lebih dulu begitu tahu rumah terbakar tanpa mempedulikanku. Dia bukan orang bodoh yang akan diam saja di dalam sana." Mendengar kata-kataku ibu hanya diam membeku.


Setelah dua jam, api berhasil dipadamkan. Rumah itu sudah kehilangan seluruh bagian atap, jendela serta pintunya, kecuali tembok yang menjadi hitam karena kebakaran namun tetap berdiri kokoh hingga akhir. Angin bertiup menerbangkan abu dari sisa pembakaran.


Barang-barang di dalam rumah pun nyaris tak ada yang tersisa. Ibu melangkah masuk berkeliling dengan perasaan kosong. Aku tidak mencoba naik ke lantai dua karena tangganya menjadi rapuh.


Tanganku terulur menyentuh sisa abu itu, ada sesuatu yang berkelip tertimbun diantara abu, dan aku mengambilnya.


Aku tercengang dengan benda yang ada di telapak tanganku. Itu sebuah anting berbentuk bintang dengan permata biru di tengahnya. Anting-anting yang hampir mirip dengan milikku. Itu anting-anting milik Celena. Tapi kenapa benda itu ada di sini? Apa Celena tidak sengaja menjatuhkannya? Kurasa aku bisa menanyakannya saat dia pulang nanti.

__ADS_1


Kami diminta untuk tinggal di pengungsian selama rumah kami di renovasi. Aku mengajak ibu untuk pergi, tapi ibu bersikeras untuk menunggu Celena pulang. Aku tidak ingin memaksa ibu yang saat ini sedang mencemaskan Celena. Jadi, aku menemani ibu menunggu Celena. Tapi sampai larut malam Celena tidak kembali.


Ibu dan aku mencari di tempat yang mungkin di datangi Celena, mengunjungi rumah-rumah teman sekelasnya, sampai -sampai ibu menelpon wali kelasnya, tapi tidak ada yang tahu dimana Celena sekarang.


Laporan orang hilang ke kantor polisi hanya mungkin dilakukan jika Celena sudag menghilang selama 24 jam. Jadi kami diminta menunggu sampai besok.


Setelah berkeliling ke sana kemari mencari Celena, aku membawa ibu ke tempat pengungsian sementara. Tempatnya lumayan nyaman dan bersih. Aku meminta ibu untuk istirahat, tapi sepanjang malam terus memikirkan Celena.


Ibu terus menanyakan apa Celena sudah makan, apa Celena sudah tidur, kenapa dia tidak pulang. Aku tidak bisa menjawabnya. Jadi aku diam saja. Akhirnya ibu tertidur juga karena lelah.


Aku menduga saat ini Celena sedang bersembunyi. Dia tidak pulang pasti karena takut dimarahi karena sudah membuat masalah hingga kebakaran terjadi.


Aku sudah memberitahu ayah tentang apa yang terjadi. Ayah bilang dia akan segera pulang. Aku tidak memberitahu padanya kalau Celena hilang, takut ayah khawatir.

__ADS_1


Keesokannya aku menemani ibu mencari Celena lagi.


__ADS_2