Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 113


__ADS_3

"Kau bilang ini cuma permainan 'kan? Sesuatu yang sepele, aku membuat permintaan dan kau wujudkan dengan caramu, sebagai gantinya aku harus membayar. Kalau gitu aku akan mengakhiri permainan ini dengan merusakmu."


"Merusakku sama sekali tidak akan mengembalikan ayahmu. Itu sia-sia."


"Aku tahu. Tapi paling tidak aku sudah membalasmu. Kau tenang saja! Aku akan merusakmu hingga potongan kecil. Dengan begitu tidak ada orang yang bisa memperbaikimu lagi, boneka iblis yang membohongi kepolosan anak-anak."


Aku jadi yakin sekarang bahwa cerita tentang rabbit yang pernah ku dengar sebelumnya itu palsu. Itu pasti cerita yang dibuat untuk menarik simpati anak-anak agar kasihan dan mau berteman dengannya.


Setelah itu dia akan menipu anak-anak, sama seperti penjahat yang menawarkan permen kepada anak-anak. Dia memanfaatkan keserakahan anak-anak yang menginginkan banyak hal, lalu mengambil apa yang mereka miliki sebagai gantinya.


"Tidak! Jangan kakiku! Jangan potong! Kumohon! Akan ku kembalikan ayahmu!" Mendengar itu, tanganku yang hendak memotong kakinya dengan gunting besar berhenti. Aku melirik tajam penuh curiga.


"Bohong!"


"Tidak! Aku tidak bohong! Masih ada harapan untuk ayahmu ditemukan hidup-hidup."


"Lalu...kau akan mengambil hal lain dariku sebagai gantinya. Apakah itu ibuku?"

__ADS_1


"Itu demi ayahmu, apa kau tidak mau berkorban sedikit?"


Aku menekan sedikit gunting itu di kakinya.


"Aaah! Tidak! Tidak! Ini gratis! Kau tidak perlu membayar apapun!" Teriaknya panik. Aku tidak mengerti ini hanya kaki kapas, tidak mungkin dia merasakan sakit meski aku benar-benar memotong kakinya. Jadi kenapa dia sepanik itu?


"Aku akan mengembalikan ayahmu. Tolong jangan potong kakiku!" lanjutnya memohon sambil terisak. Aku jadi terlihat seperti penjahat yang sedang menyiksa dan mengancamnya. Padahal dia lebih jahat. Dari mana air mata itu keluar? Aktingnya benar-benar luar biasa.


"Bagaimana aku bisa percaya kalau kau tidak bohong?"


"Rabbit tidak bohong. Besok, ayahnya Celin akan ditemukan. Rabbit janji."


"Maaf! Aku tidak sengaja." Aku tidak sungguh-sungguh minta maaf.


"Celin anak jahat! Celin anak nakal! Rabbit tidak suka anak nakal! Rabit akan adukan ke mama!"


Ya adukan saja! Aku jadi ingin tahu siap yang sudah membuat boneka terkutuk ini.

__ADS_1


Rabit menunduk lesu saat ku lepaskan. Kenapa dia sesedih itu.


"Itu cuma kaki hiasan. Apa yang kau tangiskan? Kau tetap bisa berjalan kemanapun meski tanpa kaki pendekmu itu. Seperti saat kau mengikutiku ke sekolah diam-diam."


"Rabbit akan terlihat jelek dengan satu kaki." Keluhnya.


"Kau sudah jelek meski aku tidak memotong kakimu." Balasku.


Aku mengambil tali kabel dari laci.


"Apa itu?" Tanya rabbit saat dia melihat tali itu di tanganku.


"Untuk memastikan kau tidak akan kemana-mana selama aku pergi."


Aku mengikat rabbit lalu menggantungnya di jendela kamarku. Dia meronta-ronta membuat tubuh bonekanya terayun ke sana kemari.


"Jika kau benar-benar memulangkan ayahku, aku akan melepaskanmu sesuai janji. Jika tidak..." Aku membiarkan kata-kata terakhirku menggantung sebagai peringatan.

__ADS_1


Kalau dipikir-pikir aku punya sifat nakal seperti Celena. Bedanya aku tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Sebagai gantinya aku belajar membuat senyum palsu dan berpura-pura ramah agar disukai orang lain. Dengan begitu aku mudah mendapatkan teman.


Berbeda Celena yang secara terang-terangan menunjukkan kenakalannya, yang akhirnya membuat dia tak punya teman.


__ADS_2