Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Kunci Loker No 13


__ADS_3

Mobil ambulan datang dan membawa tubuh Eli ke rumah sakit terdekat. Polisi sudah menahan pelakunya dan sedang mengintrogasinya. Beberapa polisi juga memeriksa lokasi kecelakaan dan menanyai orang-orang yang melihat kejadiannya langsung.


Ibu eli masih menangis. Dia tak menyangka bahwa putrinya bisa mengalami kecelakaan naas tepat di depan rumahnya sendiri. Karena daerah ini selalu aman sebelumnya. Meskipun jalannya cukup lebar tapi kendaraan yang melintas sepi.


Malamnya aku tak bisa tidur karena memikirkan keadaan Eli. Setelah mendapat kabar dari kakaknya barulah aku sedikit lega. Nyawa Eli berhasil diselamatkan namun masih belum sadarkan diri.


Keesokan harinya, aku memberitahukan kepada pengurus kelas mengenai kecelakaan yang dialami Eli. Tapi aku tidak bilang kalau aku bertukar kunci loker dengan Eli.


Selama di kelas aku masih merasa tidak tenang. Apakah kecelakaan Eli hanya kebetulan saja? Atau memang ada hubungannya dengan loker yang dikutuk itu?


Aku merogoh pulpen dalam tasku untuk mulai mencatat. Namun sesuatu tersangkut saat aku menariknya. Saat aku menyadari benda yang tersangkut di ujung pulpen itu, sontak aku membuangnya dan berteriak, menarik perhatian seisi kelas.


Bagaimana bisa kunci loker itu, yang sudah kuberikan pada Eli kemarin, bisa ada padaku lagi?


"Riri, ada apa?" Bu Desi, yang sedang mengajar di kelasku, menghampiriku dan menegurku. Aku diam masih dalam terkejut.


"Apa ini milikmu?" Bu guru mengambil pulpen dan kunci loker yang tergeletak di lantai, lalu menaruhnya di mejaku.


"Apa kamu sakit?" tanya Bu Desi.


"Saya baik-baik saja."


"Kalau begitu ibu akan lanjutkan pelajarannya."


Aku mengangguk pelan, dengan pandanganku masih terpaku pada benda di atas mejaku. Aku benar-benar tak mengerti. Benda yang harusnya ada di rumah Eli, kenapa ada padaku lagi?


Setelah jam pelajaran berakhir. Laila, ketua kelas kami datang menemuiku.


"Riri, kunci itu apa masih membuatmu takut? Jika kau masih tidak mau memakainya, aku akan mengembalikan pada pak guru dengan alasan rusak."


"Benarkah?"


"Tentu. Jadi kau tidak perlu cemas lagi."


Aku senang mendengarnya. Tanpa ragu aku langsung memberikan kunci itu padanya.


Keesokan harinya, Laila mendatangiku lagi dan memberitahuku kalau dia kehilangan kuncinya sebelum sempat mengembalikannya pada guru.

__ADS_1


Awalnya aku tidak begitu peduli. Kupikir bagus jika memang kunci itu hilang. Sampai aku menemukan kembali kunci itu didalam tasku.


Aku membuangnya ke dalam sungai dan memastikan benda itu tenggelam. Lagi-lagi benda itu balik lagi padaku dengan cara yang tak kumengerti. Kenapa begini? Apakah kunci ini sudah memilihku sebagai korbannya?


Aku merasa putus asa. Lalu keesokkan harinya aku melihat anak yang sempat jadi pembicaraan, Melya. Seorang anak perempuan yang katanya memiliki Indra ke enam. Dan bisa berkomunikasi dengan hantu.


Aku memperhatikannya saat dia masuk kelas. Dan bagaimana dia membuat kegaduhan di hari pertamanya. Aku semakin yakin kalau dia bukan anak biasa. Dia akan jadi penyelamatku, aku berharap. Tapi, apakah dia akan percaya jika kuceritakan semua hal aneh yang kualami.


Aku menunggu kelas sepi. Aku berniat menegurnya hari ini. Aku harus memberanikan diriku untuk menyapanya. Aku melihat Laila memberikan kunci loker padanya. Lalu ku perhatikan dia bertingkah aneh di depan loker.


Dia bahkan mengintip loker no 13 yang dibicarakan anak-anak. Apa dia merasakan ada yang aneh pada loker itu? Jika kubiarkan dia bisa celaka seperti Eli. Mungkin dia tidak tahu, atau belum tahu.


* * *


"Setelah itu aku menegurku, dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya," ucapku mengakhiri cerita. Melya duduk di depanku. Dia mendengarkan sambil sesekali meminum es di gelasnya.


Kami berdua duduk di kantin sekolah sambil menunggu hujan reda. Aku menceritakan semua yang kualami sambil memperhatikan bagaimana reaksinya.


Dia terlihat santai. Apa dia tidak percaya pada ceritaku. Atau dia memang seorang anak yang pemberani seperti yang selama ini kudengar.


"Bagaimana menurut penglihatanmu?" tanyaku penasaran.


"Jika kau percaya padaku aku akan menjawabnya."


"Aku percaya." Saat ini hanya dia yang bisa kupercaya.


"Tak ada apapun pada benda ini yang bisa membuat pemiliknya celaka. Aku tak merasakan apapun. Ini sama seperti kunci biasa."


"Tidak mungkin!"


"Tadi katanya kau percaya."


Aku bukannya tak percaya, semua yang kualami terasa janggal.


"Menurutku apa yang di alami oleh temanmu, Eli, itu hanya kebetulan saja, tak ada bukti jelas bahwa itu perbuatan hantu atau karena benda yang kau bilang terkutuk ini."


"Tapi, banyak yang sudah mengalami kejadian buruk gara-gara kunci itu. Bahkan ada yang sampai meninggal."

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa orangnya? Guru atau murid? Kalau murid dari kelas mana?"


"Aku tidak tahu karena aku hanya mendengarnya dari cerita orang lain."


Aku menghela nafas kecewa. "Riri, bukan hal baik mempercayai isu yang tak jelas sumbernya. Dan mempercayainya bulat-bulat. Itu akan berdampak buruk padamu"


"Menurutku, kau terlalu percaya dengan apa yang kau sebut-sebut sebagai tujuh Keanehan sekolah atau apalah itu. Jujur saya aku tak begitu percaya, karena cerita-cerita seperti itu biasanya hanya dibuat-buat untuk membuat heboh sekolah saja. Jadi jangan terlalu termakan oleh cerita-cerita seperti itu."


"Jadi maksudmu semua cerita itu bohong?" tanyaku memastikan penilaiannya.


"Aku tidak bisa memastikan bahwa semua cerita itu bohong, aku hanya bilang bahwa cerita itu masih belum jelas kebenarannya. Dan satu hal yang pasti adalah ..." Melya melempar kunci itu lagi ke depanku.


"Bisa kupastikan itu hanya kunci biasa. Tak roh jahat, ilmu hitam, kutukan atau apapun yang melekat pada benda itu yang bisa mencelakakan pemiliknya. Jadi aku berani menjamin benda itu aman," ujar Melya dengan yakin.


Aku masih menatap kunci itu dengan murung. "Bagaimana kalau kunci ini atau loker itu benar-benar berhantu?"


"Kau takut hantu?"


"Apa ada orang yang tidak takut hantu?"


"Memangnya kau pernah melihatnya?"


"Belum pernah."


"Terus, apa yang kau takutkan? Kau 'kan tidak bisa melihatnya?"


"Tapi di film-film horor hantu itu menakutkan."


"Kalau begitu yang kau takutkan bukan hantunya, tapi film horornya. Riri! Dengar! Kau itu beruntung tidak bisa melihat mereka. Jadi nikmati hidup normalmu! Jangan pikirkan yang tidak-tidak! Kau tidak melihatnya, kau boleh percaya kalau mereka tidak ada."


"Tapi bagaimana dengan kunci yang berpindah sendiri? Kunci itu selalu kembali padaku?"


"Itu yang masih belum kumengerti. Begini saja, kunci ini untuk sementara biar aku yang pegang. Kita lihat apa kunci ini masih bisa berpindah padamu atau tidak."


"Jangan! Hal buruk bisa saja terjadi padamu seperti Eli. Aku tidak bisa membiarkannya."


Namun, Melya merampas kunci itu. "Aku sudah sering mengalami hal buruk. Tidak masalah jika aku mengalaminya lagi."

__ADS_1


__ADS_2