Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Hantu anak laki-laki


__ADS_3

Ini perbuatan hantu itu. Di manggiring tubuhku tepat di atas lapangan. Dia ingin menjatuhkanku!


Untuk menggerakkan benda yang ringan saja mereka membutuhkan energi yang besar. Apalagi untuk mengendalikan tubuh manusia! Bagaimana bisa dia memiliki energi sebesar ini?


Meski tidak mati jika aku terjatuh dari ketinggian ini aku bisa terluka parah. Apa dia ingin melukaiku baru setelah itu menguasai tubuhku.


"Tidak! Kumohon turunkan aku! Ayo kita bicara!"


"Sejak tadi kau hanya berlarian kesana kemari menjauhiku! Baru sekarang kau ingin berbicara denganku. Aku tidak akan tertipu!"


"Aku tidak berbohong! Saat ini orang yang ingin kau temui sedang menuju ke sini!"


"Bohong! Kau pembohong sama seperti yang lainnya! Aku tidak percaya!" Sudah ku duga dia sulit untuk diajak bicara.


"Tangkap kepalaku!" hantu kepala itu bergerak ke arahku. Normalnya aku tidak mau melakukan itu. Tapi aku tak punya pilihan selain menurutnya.


"Pegang kuat-kuat aku akan menahanmu agar tidak jatuh dan menggiringmu ke tempat yang aman." Itu yang dia katakan. Kenyataannya kami malah semakin ke bawah. Dia kelihatan bersusah payah.


"Hei lakukan yang benar! Kau sama sekali tidak menahannya! Kita jatuh!"


"Aku sudah melakukannya. Tapi kau terlalu berat."


"Apa kau bilang?!"


Tiba-tiba tubuhku melayang naik ke atas lagi.


"Wah, kau berhasil!" seruku senang.


"Bukan aku yang melakukannya," ujar hantu kepala itu. Saat itu aku sudah berada di atas ketinggian atap sekolah.


"Jangan bilang ini perbuatannya? Apa dia ingin menjatuhkanku dari sini?"


Hantu itu menghempaskan tubuhku jatuh ke lapangan.


"Tidaaak! Tolong aku!!" Aku akan jatuh! pikirku sambil memejamkan mata.


Aku tidak terjatuh ke tanah? Sesuatu menahan tubuhku. Pelan-pelan aku membuka mataku


Ternyata seseorang berhasil menangkapku dengan kedua tangannya. Aku lega sesaat.

__ADS_1


"Terima kasih!" ucapku tulus. Aku mendengak ke atas untuk wajah penyelamatku. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, lebih tepatnya aku tidak menemukan kepalanya...


"Akhhhh!" Aku tidak percaya aku diselamatkan oleh hantu tanpa kepala.


"Turunkan aku cepat!" Aku meronta berusaha turun dari gendongannya.


"Jika aku menurunkanmu sekarang, kau akan langsung tertangkap olehnya," kata hantu kepala itu.


"A-apa ini tubuhmu?" tanyaku.


"Benar, aku yang menggerakkannya kesini untuk membantumu." Tubuh itu masih menggendongku dan membawaku berlari.


"Aku bisa berlari sendiri, turunkan aku!"


"Kau sudah tidak bisa berlari lagi! Aku tahu kakimu sudah sampai batasnya! Sekarang percayakan padaku! Aku akan membantumu lari gadis pemarah itu!"


"Kau ingin aku percaya? Aku saja tidak tahu mau membawaku kemana!"


"Kalau kau tidak percaya padaku, kau ingin percaya pada siapa? Memangnya disini ada orang lain yang bisa membantumu!"


Mendengar kata-katanya aku terdiam menyadari situasiku saat ini, aku terpaksa harus percaya padanya jika aku tidak ingin tertangkap oleh hantu wanita itu. Tidak ada selain dia yang bisa membantuku saat ini.


"Dimana ini?" tanyaku curiga.


"Gedung olahraga. Sementara kau akan aman di sini," jawabnya. Mata berkeliling melihat sekitar ruangan. Ada beberapa perlengkapan olahraga.


"Tolong pasangkan kepalaku!" pintanya.


Ternyata tanpa sadar aku terus memeluk kepalanya. Aku langsung melempar kepala itu ke arahnya.


"Pasang sendiri! Aku tidak bisa!"


"Jahat! Padahal aku sudah membantumu," keluhnya padaku.


Setelah kepalanya dipasang dia tampak seperti anak laki-laki normal lainnya. Apa dia juga arwah? Bagaimana dia meninggal sampai kepalanya terpisah seperti itu? Dan kenapa dia masih bergentayangan? Aku jadi terus memperhatikannya karena penasaran.


"Kenapa melihatku terus? Kau tertarik padaku?" tanyanya.


"Sama sekali tidak," jawabku mengabaikannnya.

__ADS_1


Aku mengecek ponselku. Salah satu pesan dari Angga. Sepertinya tadi dia menghubungiku beberapa kali tapi tidak terangkat. Dia bilang bahwa dia sudah tiba di depan sekolah, namun terhalang oleh sesuatu untuk masuk. Dia butuh waktu untuk bisa menerobos masuk ke dalam.


Dia juga menanyakan lokasimu saat ini. Aku melihat sekeliling. Ada beberapa perlengkapan olahraga. Sepertinya benar, aku berada di gedung olahraga.


Aku membaca pesan yang lainnya, dari pak Arya dia sudah tiba di rumah sakit tempat Riri dirawat sebelumnya. Orangtuanya berkeliling mencarinya dan tanpa sengaja bertemu dengan pak Arya. Begitulah yang pak Arya ceritakan dipesannya. Dia juga bilang akan segera menjemputku. Dia menanyakan apa pak Mong sudah kembali. Aku bilang saja belum. Karena kalau dia sudah berhasil membuka terali besi itu pasti dia sudah masuk mencariku.


Yang terakhir pesan dari ibuku. Ah gawat! Aku harus bilang apa? Ibu tahu bahwa bibi sedang pergi dan Angga belum pulang. Haruskah aku jujur pada ibu.


Tidak bisa. Jika ibu kesini ibu bisa dalam bahaya. Ibu juga pasti akan khawatir berlebihan. Bisa-bisa aku tidak boleh lagi keluar dari rumah. Aku tulis saja sedang jemput kak Angga, jadi ibu tidak akan khawatir lagi.


Tidak ada pesan dari Eli padahal aku menunggu kabar darinya. Semua rencanaku tergantung padanya. Aku mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak diangkat.


"Kau ingin ku antar keluar gerbang?" ujarnya menawarkan bantuan.


"Masih ada yang harus kulakukan. Aku tidak bisa keluar tanpa menyelesaikannya," ujarku menolak.


"Kau masih ingin di sini?" serunya terheran-heran.


"Lagipula aku tidak yakin kita bisa ke gerbang sekolah tanpa bertemu dengan hantu itu," ujarku lagi.


Aku masih menunggu respon dari Eli. Eli! Ku mohon angkat teleponnya!


Ponsekul bergetar lagi. Pesan baru masuk. itu balasan dari Eli.


"Tolong bawa aku ke lantai tiga! Aku harus ke ruangan ini!" pintaku pada hantu kepala itu. Tak butuh waktu lama, hantu anak laki-laki itu sudah membawaku kembali ke lapangan. Sambil menggendongku dia melompat sampai ke lantai 3. Aku bergegas ke ruangan itu. Tapi ruangannya terkunci.


"Ah, sial!"


"Mau ku bantu?" ujar hantu bocah laki-laki itu. Dengan sekali sentuh pintunya langsung terbuka. Aku tidak mau ambil pusing memikirkannya. Ada yang harus kulakukan di ruangan itu.


Setelah selesai bergegas keluar. Hantu bocah laki-laki itu sudah tidak ada. Aku tak punya waktu untuk mencarinya. Aku berbelok ke kiri hendak menuju ke tempat lain. Namun di persimpangan aku malah bertemu dengannya.


"Aah!" pekik ku kaget melihat hantu perempuan itu sudah ada tepat di depanku. Aku melompat mundur menjauhinya. Makhluk itu langsung menerjang ke arahku, mencekik ku hingga tubuhku terangkat.


"Kau bilang dia akan datang? Mana? Mana dia? Bawa dia padaku!" teriak padaku marah.


"Kau mencariku, maiya?" Sebuah suara menggema disepanjang gedung lorong sekolah. "Maiya!"


Mendengar suara itu, hantu wanita itu langsung melepaskan cengkramannya dariku.

__ADS_1


Dia tertawa keras. Melesat pergi seperti angin, berkeliaran sepanjang lorong. "Akhirnya kau datang juga, Pembunuh!"


__ADS_2