
Begitu ibu melihat kakakku, Celena, dia memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskannya. Sementara, bahunya berguncang, karena tangis haru menyambut kepulangan putri tercintanya yang menghilang lima tahun lalu.
Kami segera membawanya masuk dan mendudukkannya di ruang makan. Ibu dengan semangat menyiapkan makanan kesukaan kakak. Tak ada lagi rasa cemburu. Aku senang melihat ibu kembali bersemangat.
Aku juga ingin cepat-cepat mengabari ayah, dan mendengar reaksinya. Ayah juga pasti akan senang mendengar kakak sudah pulang. Semenjak kakak menghilang ayah berhenti dari pekerjaannya, dan berkeliling dari kota ke kota mencari kakak, sambil bekerja serabutan. Dia menghabiskan semua uang tabungannya bertahun-tahun untuk mencari putrinya yang hilang. Ayah yakin bahwa Celena telah pergi meninggalkan kota ini. Ayah tidak percaya Celena meninggal selama jasadnya belum ditemukan.
Aku memperhatikan sosok Celena yang duduk di depanku. Dia tampak sedikit lebih kurus dari yang kuingat, tapi wajah dan seluruh kulitnya tampak bersih terawat. Tak ada bekas luka di tubuhnya. Rambutnya juga disisir dengan rapi. Pakaian yang dikenakan pun bersih. Itu jelas pakaian yang berbeda dengan pakaian yang terakhir kali dia kenakan lima tahun lalu.
Yang aneh darinya hanya cara dia melihat kami dan caranya dia tersenyum, seperti sesuatu yang dipaksakan atau sudah diatur.
Aku bertanya-tanya dimana dia selama ini disembunyikan sampai kami gagal menemukannya? Siapa yang sudah merawat dan mengurus dirinya? Celena menghilang saat usianya baru 8 tahun. Dia tidak pintar mengurus dirinya sendiri jadi tidak mungkin tidak ada yang membantunya.
__ADS_1
Juga tidak ada bekas dia pernah di sekap atau diculik. Jadi dimana dia selama menghilang dan apa yang sudah dilakukannya sampai sekarang? Aku bermaksud menanyakan hal ini pada Celena nanti, karena tidak ingin merusak suasana.
Saat itu aku belum menyadari keanehan pada diri celena. Baru setelah selesai makan malam, aku mengantarnya ke kamar lamanya. Dia hanya diam tanpa ekspresi senang ataupun terkejut melihat keadaannya kamarnya masih sama seperti saat dia tinggalkan. Aku sengaja menatanya seperti itu untuk menjaga kenangan yang ditinggalkan oleh Celena dengan harapan dia akan menyukainya saat kembali nanti.
Tapi dia hanya diam, bahkan saat aku mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur, dia tetap diam dengan matanya terus mengikutiku.
Aku duduk di sebelahnya dan bertanya padanya, apa yang terjadi padanya lalu lima tahun yang lalu. Kenapa dia tidak pulang?
"Ayo main!"
"Kita akan bermain, tapi jawab dulu pertanyaanku. Kemana Rabbit membawamu pergi? Apa kau ingat?" tanyaku.
__ADS_1
"Ayo main!" Lagi-lagi dia merajuk. Celena mengguncang tanganku yang dia peluk, sementara matanya terfokus padaku. Beberapa kalipun aku bertanya jawabannya akan sama.
Mendengar kata itu sebenarnya membuat hatiku tertusuk akan kenangan masa kecil kami dulu, dimana Celena mendatangi kamarku mengajak bermain bersama, tapi aku sering mengabaikannya dan meninggalkannya sendiri. Aku menyesalinya sekarang.
"Ini sudah terlalu malam untuk bermain. Tidurlah! Aku akan bermain denganmu besok." Aku memintanya untuk berbaring tidur, namun saat aku akan meninggalkannya dia menarik lengan bajuku.
"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?"
"Ayo main!"
"Aku lelah. Besok saja."
__ADS_1
Saat aku coba lepas, genggamannya sangat kuat. Aku menarik nafas berat. Terpaksa aku tidur di kamarnya Celena malam itu karena Celena sama sekali tidak melepaskanku.