Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Pembunuhan Di Bawah Hujan Part 5


__ADS_3

POV Author


Evania menatap anak-anak itu pergi hingga menghilang dari pandangan.


"Dasar pembohong!" umpatnya pada laki-laki di sebelahnya.


"Apanya?" tanya pria itu tak mengerti.


"Kau bilang kau tidak punya adik!"


"Memang tidak punya!"


"Jadi, Kau sampai memngancamku hanya karena orang asing. Alden, kau pembohong besar!"


Pemuda yang dipanggil Alden itu hanya tersenyum simpul sambil menatap ke arah anak-anak itu pergi.


Keesokan paginya, Saat weekend Melya memanggil Angga untuk datang ke rumahnya Dan menceritakan kejadian semalam.


"Aku memang keluar tadi malam tapi tidak ke rumah sakit. Dan kenapa kau malah diam-diam keluar lagi padahal sudah ku suruh diam di rumah," sangkal Angga.


"Sudah ku bilang aku mengejarmu karena ingin menyampaikan sesuatu, tapi kau malah pergi. lagipula aku juga sudah tahu kalau yang di rumah sakit memang bukan dirimu. Aku cuma ingin memastikannya aja!" ucapnya.


"Jadi apa yang ingin kau sampaikan?" lanjut Angga bertanya.


"Ini!" ucap Melya sambil menunjukkan sebuah kancing besar berwarna coklat tua. Ada nama sekolah kami tercetak melingkari kancing itu.


"Apa ini? Kancing?" tanya Angga mengamati benda itu. Sepertinya dia belum paham dengan apa yang dimaksud Melya. Lalu, dia mengambil seragam miliknya dan menunjukkannya pada Angga.


"Lihat! seragam di sekolah kita memang dibuat khusus, mulai dari desain sampai kancingnya. Jadi hanya melihat seragamnya saja mereka sudah tahu kalau itu murid sekolah kita. Seragam pria memiliki warna lebih terang dan dan ukuran kancing lebih kecil. Sedangkan kancing yang kakak pegang itu aku yakin berasal dari seragam wanita sekolah kita."


"Benda ini di jatuhkan si penyerang kemarin. sepertinya dia tidak sadar benda itu jatuh. Menurut kakak kenapa orang itu menyimpan kancing ini? Dan kenapa korbannya hanya siswi sekolah kita?"


"Kau tidak berpikir bahwa dia membunuh siswi sekolah kita hanya untuk mengoleksi kancing 'kan?" ujarnya pada Melya sedikit bergurau.


"Tentu saja tidak. Kalau aku ingin mengoleksi pasti mengambil ragam yang berbeda dari sekolah yang berbeda. Untuk apa aku mengoleksi benda yang sama."


Angga diam sejenak, lalu matanya membelalakkan seakan menyadari sesuatu dari benda kecil itu.

__ADS_1


Lalu menoleh pada Melya seakan mengkonfirmasi sesuatu.


Melya mengangguk pelan tanda bahwa apa yang dia pikirkan sama dengannya.


"Tadi malam aku sempat menelpon kak Jun lagi sekedar memeriksa keadaan adiknya. Aku baru tahu adiknya bersekolah di sekolah kita juga. Lalu sekalian mengkonfirmasi dugaan ku. Aku bertanya padanya apa seragamnya ada satu kancing yang terlepas. Saat dia cek ternyata ada satu dibagian bawah."


"Apa kau menceritakan semuanya pada kak Jun?" tanya Angga.


"Aku tidak cerita. Karena aku tidak ingin membuatnya cemas lagi," jawabku. "Tapi kita perlu memastikan apakah ini kancing milik jenny atau bukan."


"Aku akan ke kantor polisi untuk mengkonfirmasi sesuatu," ujar Angga.


"Aku ikut!" Pinta Melya. Angga mengangguk tanda membolehkan.


Di malam hari, sungai ini dipenuhi bintang yang terpantul di permukaan airnya. Karena itulah sungai ini dinamai sungai bintang. Ironisnya sungai ini menjadi tempat pembuangan jasad korban pembunuhan dari tahun ke tahun.


Evania berdiri di tepi sungai, tempat dia menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi dia di sana tidak sedang mengenang kematiannya. Melainkan untuk bertemu seorang pemuda yang saat ini berada di sampingnya.


Pemuda itu berjongkok dipinggir sungai bergumam tidak jelas. Evania berpaling menatap iba pada pemuda itu. Berulangkali dia membantunya lolos dari orang-orang yang mengejarnya. Dan sebanyak itu juga Evania mencegah agar pemuda ini tidak membunuh siapapun lagi. Tapi Evania tahu, dia tidak bisa selamanya seperti ini.


Sebelas tahun yang lalu, Evania bertemu pemuda ini saat sedang menjemput adiknya. Pemuda itu telah mengagumi Evania sejak lama. Dia jatuh hati pada suara Evania dan lagu-lagu yang dinyanyikannya. Malu-malu dia memberikan Evania bunga, dan Evania membalasnya dengan senyuman.


Hanya dengan senyuman itu dia merasa bahagia dan demi senyuman itu dia akan melakukan apa saja.


Mereka menjadi akrab dari waktu singkat. Apalagi si pemuda juga pintar menciptakan lagu.


Suatu hari Evania meminta si pemuda membuatkan lagu untuknya. Lagu itu akan dinyanyikannya di pesta ulang tahun adik tercintanya.


Demi mengabulkan permohonan Evania si pemuda berusaha keras. Namun saat lagu itu jadi Evania telah pergi.


Sehari sebelum ulangtahun sang adik, hal tak terduga terjadi. Tepat saat hujan turun, Evania melihat adiknya berdiri di tepi sungai.


"Arsa!" serunya. Saat Arsa berpaling padanya kaki Arsa malah terpeleset dan jatuh ke sungai.


Namun Evania berhasil meraih adiknya dan menaikkannya ke tepi sungai.


"Apa yang kau lakukan di sungai? Itu berbahaya sekali? Bagaimana kalau aku tidak bisa menolongmu tepat waktu?" Bentaknya sambil memeluk tubuh adiknya.

__ADS_1


Setelah itu dia tak mampu bersuara lagi. Dadanya terasa sakit. Sesuatu yang sangat tajam menembus kulitnya dan menusuknya. Cairan hangat mulai merembas ke pakaiannya.


"Kau pernah bilang bahwa kebahagiaanku adalah segalanya untukmu. Jadi marilah untuk kebahagiaanku, kakak sayang!" bisik sang adik di telinga kakaknya.


Dia meremas seragam adiknya hingga kancingnya terlepas, merasakan sakit yang tak tertahankan menjelang kematiannya. Dia tak menyangka kematian itu datang begitu cepat. Tanpa memberinya sedikitpun waktu untuk menangis ataupun marah.


Arsa mendorong tubuh kakaknya yang sudah tak bergerak itu ke dalam sungai. Tatapannya yang dingin menunjukkan kebulatan tekadnya atas apa yang sudah dilakukan. Dia menengadah ke langit sambil tersenyum puas.


"Kakak pernah bilang, kalau hujan bisa menyapu jejak kejahatan. Ya, kurasa kakak benar. Karena itu langit membantuku hari ini."


Tubuh itu ditemukan esok harinya. Pemuda itu menemukan tubuh gadis yang dicintainya dalam keadaan sudah tak bernyawa.


Polisi menuduhnya membunuh Evania. Seseorang menjebaknya. Tetapi pemuda itu tahu siapa pelaku sebenarnya. Dia menemukan sebuah kancing dalam genggaman tangan Evania. Kancing itu adalah milik pembunuhnya. Dan si pembunuh ada di sekolah itu.


Kembali ke masa sekarang,


"Tunggulah sebentar lagi, Evania! Aku pasti akan segera menemukan pembunuhmu! Aku akan segera mengirimkan tubuh gadis itu ke tempatmu agar jiwamu bisa tenang," ucap pemuda itu.


"Aku tak pernah memintamu untuk melakukan ini semua untukku."


"Aku akan menanyai mereka satu persatu sampai mereka mengaku di mana pembunuh itu. Aku pasti akan menemukannya."


Kembali ke masa sekarang, Evania berjongkok di dekat pemuda itu.


"Sampai kapan kau akan melakukan ini? Apa yang harus ku perbuat agar kau berhenti mengotori tanganmu?"


Sayangnya pemuda itu bangkit dan melewatinya seperti udara.


Sementara di rumahnya Arsa terus merasa gelisah. berapa kali dia mondar-mandir sambil melihat keluar jendela. Dia tahu bahwa ada yang selalu mengawasi rumahnya. Belum lagi, Tom belum ditemukan oleh pihak polisi dan rumah sakit. Kenapa polisi tidak becus menangkap satu orang gila saja, keluh Arsa jengkel.


Di mana dia? Mana mungkin orang gila itu bisa bersembunyi. Seseorang pasti menyembunyikannya. Tapi siapa?


Menyadari bahwa Tom bisa datang kapan saja ke rumah nya untuk membunuhnya, membuat hidupnya tidak tenang. Awalnya dia pikir setelah dia menjadikan Tom sebagai pembunuh kakaknya, dan mengirimnya ke penjara maka semua masalah akan selesai.


Siapa yang tahu kalau Tom akan kabur dari penjara? siapa yang tahu hanya karena sebuah kancing yang ditemukan dijasad kakaknya hidupnya jadi terancam. Seragam itu telah dia bakar sesaat setelah dia membunuh kakaknya.


Namun Tom masih terus mencari pembunuh itu. Tom melakukan banyak pembunuhan hanya untuk menemukan satu pembunuh, yaitu dirinya.

__ADS_1


__ADS_2