Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Ikut Perkemahan


__ADS_3

Bab 45


"Hai semua, salam kenal Aku Melya, terlahir sebagai anak normal tapi tumbuh sebagai 'anak tidak normal'. Aku berbakat melihat hantu. Salam kenal."


Aku pasti sudah gila jika bilang seperti itu di acara perkenalan. Entah seperti apa reaksi mereka. Tetapi melihat cara teman-teman melihatku, aku tahu apa yang ada di pikiran mereka.


Ini hanyalah kota kecil. Hanya ada beberapa sekolah di sini. Masa-masa SMP ku sepertinya tidak akan jauh berbeda karena kebanyakan dari teman-teman SMP ku merupakan teman-teman SD ku juga.


Saat ini adalah masa orientasi anak baru. Kami semua dikumpulkan di lapangan sekolah untuk diberikan bimbingan oleh kakak kelas 2. Mereka meminta kami memperkenalkan diri satu per satu.


Saat aku maju mendadak semua hening.


"Namaku Melya, umur 12 Tahun." Saat aku kembali duduk, aku mendengar mereka berbisik di belakangku.


"Dia anak yang kamu ceritakan itu?"


"Iya. Yang itu. Katanya dia seorang pembohong. Makanya tidak punya teman."


"Bukannya dia memang bisa melihat hantu?"


Aku hanya bisa menarik nafas menghilangkan rasa sesak di dada akibat omongan mereka. Kali inipun aku akan sendiri tanpa teman.


"Tolong kumpulkan coklat yang kalian bawa."


Gawat! Kemarin para senior memberi instruksi apa saja yang harus kami bawa hari ini. Dan aku lupa membelinya lagi karena coklat yang kubeli dimakan Angga kemarin! Bagaimana ini?


"Melya!" Angga memanggilku dari pinggir lapangan. "Ambil ini!" Dia melemparkan sebatang coklat padaku. Refleks aku langsung menangkapnya.


"Tante wina meminta aku membawakannya untuk mu. Katanya coklat itu tertinggal di kamarmu," ujarnya lagi padaku. Lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan pandangan semua orang yang tertuju padaku.


"Terima kasih," ucapku pelan sambil menahan malu. Aku tahu kalau Angga terkenal di sekolahnya. Karena itu sebisa mungkin aku tak ingin anak-anak mengetahui hubungan kami. Aku ingin melalui masa-masa sekolahku dengan damai. Mendadakak anak-anak langsung mengerumuniku.


"Wah, tampannnya! Siapa dia? Apa dia kenalanmu?"


"Dia kakak sepupuku."


"Beruntungnya! Apa dia tinggal denganmu."


"Tidak. Hanya saja dia sering ke rumahku."


"Apa kami boleh main ke rumahmu?"


"Boleh ya? Kenalkan kami pada kakakmu."


Aku tidak tahu harus berkata apa untuk memecah kerumunan ini. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka menggunjingkan keburukan ku di belakang. Tapi sekarang langsung berubah bersikap sok dekat begini. Ternyata manusia bisa berubah 180 derajat hanya dalam hitungan menit saja.


Kemarin, Angga bilang punya rencana untuk membantuku mendapatkan teman. Aku sudah curiga dengan rencananya sejak awal pasti tidak beres . Benar saja dia mengerjaiku begini.


"Cukup! Jangan berisik! Kembali ke barisan!"

__ADS_1


Semua kembali ke barisan sesuai instruksi kakak Mia, dia kakak kelas yang terkenal jutek dan galak. Tak ada yang berani membantahnya.


Dia berjalan menghampiriku. Apa dia ingin memarahiku?


Dia merangkulku dan berbisik, " Istirahat nanti kita ke kantin bareng ya?" Dia tersenyum.


Aku tahu dengan jelas maksud dan tujuannya. Aku cuma bisa membalasnya dengan tersenyum kaku.


Saat jam istirahat aku berhasil meloloskan diri dari para penggemar Angga dengan berbagai alasan.


Dari lapangan aku melihat Angga berdiri di balkon kelas lantai 2. Dia melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku bergegas menyusulnya.


"Kakak! Bener-bener deh!" seru kesel.


"Kenapa marah?" tanyanya.


"Kakak gak tau susahnya aku kabur dari mereka!"


Angga malah tertawa. "Bagus 'kan kamu jadi punya banyak teman?"


"Itu sih bukan teman namanya, tapi pengganggu!" sanggah ku, sambil melempar sebungkus roti coklat padanya.


"Apa ini?" tanyanya menangkap roti coklat itu.


"Itu ganti coklat yang tadi pagi," ucapku menjelaskan.


"Wah, makasih adikku yang cantik," ucapnya memuji, sambil mengunyah roti itu.


Dia memandangku bertanya-tanya. "Bantuan? Bantu kamu cari teman?"


"Bukan yang itu!"


"Terus apa?"


"Bantu aku bujuk mama, agar mengizinkanku kemah lusa."


"Ah, benar juga. Habis MOS biasanya kalian menginap di luar kan untuk acara penutupannya. Kamu mau ikut acara itu?"


"Benar. Aku bosan terkurung di kota ini. Aku ingin keluar. Aku ingin jalan-jalan."


"Kamu sudah bicara dengan Tante?"


"Sudah. Tapi mama langsung melarangku tanpa memberiku kesempatan bicara."


Semenjak kecelakaan itu, ibuku jadi sangat ketat menjagaku. Dia melarangku ikut acara tour apapun. Termasuk acara perpisahan kelas 6.


"Kalau kak Angga yang bicara, mama mungkin akan mendengarkan."


Entah kenapa ibuku memang lebih percaya pada Angga. Bahkan dia meminta Angga untuk mengawasiku.

__ADS_1


"Acara kemah nya di gunung. Di tempat seperti itu akan lebih banyak yang bisa kamu 'lihat'. Kamu yakin tetep mau ikut?"


Duh! Jangan bilang dia juga melarangku pergi.


"Aku tahu. Aku akan hati-hati agar tidak menarik perhatian mereka."


"Aku juga khawatir. Yang ikut acara itu cuma anak kelas 1 dan dan beberapa anak kelas 2 saja. Aku tidak ikut. Jadi kalau ada apa-apa aku bisa langsung bantu."


'Yah, mulai kumat deh sifat protektifnya. Kayaknya aku salah minta tolong sama dia. Dia gak beda jauh dengan mama.' gumamku dalam hati.


"Kak, aku janji akan jaga diri baik-baik di sana, akan aku ingat semua yang kakak ajarkan padaku. Jadi tolong kali ini saja bantu aku dapat izin dari mama, ya!" ucapku memohon.


Angga menghela nafas tanda menyerah. "Oke, tapi kamu harus janji bakal jaga diri baik-baik di sana."


"Iya, aku janji."


Keesokan harinya, ibu bilang akan mengizinkan ku pergi. Aku tidak tahu bagaimana Angga meyakinkan ibuku, tapi aku senang Angga berhasil membujuk ibuku.


Ibu juga membantu menyiapkan semua yang ku butuhkan untuk pergi. Saat hari keberangkatan ibu dan Angga ikut mengantarku.


Angga memperkenalkan aku pada temannya yang ikut acara kemah itu.


"Ini teman baikku, bam. Kalau ada masalah kami bisa cerita sama dia."


Aku mengangguk tanda mengerti. Ibu memelukku sambil menangis.


"Kamu harus janji, jaga diri baik-baik di sana, dan pulang dalam keadaan sehat."


"Ya, ma."


Setelah pamit aku naik ke dalam bus. Dua orang siswi tahun pertama menghampiriku.


"Apa kamu Melya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Ya?"


"Namaku Dina dan ini Lisa. Boleh kami duduk denganmu?"


"Boleh saja. Tapi kenapa?" Tanyaku


"Kami dengar kamu sangat pemberani. Hantu tidak suka dengan orang yang berani. Karena itu kami akan aman bersamamu," jawab Lisa polos.


Tunggu! Kalau mereka takut hantu, harusnya mereka menjauhiku. Karena aku adalah orang yang paling diincar makhluk-makhluk itu! Mereka salah orang!


Aku ingin mengusir mereka, tapi saat aku melihat mereka duduk di sampingku dengan senangnya aku jadi ragu.


Hah! biarkan dulu saja! nanti saat pembagian kelompok juga kami akan terpisah. Jadi aku tidak perlu mengurusi mereka.


Sialnya, aku malah satu kelompok dengan mereka berdua. Ditambah lagi kami satu tenda. Aku harap acara kali tidak akan terjadi apa-apa.

__ADS_1


Sayang, harapan ku sia-sia.


__ADS_2