
Angin mendobrak pintu rumah tua itu, yang berdiri dengan sombongnya di tengah hutan. Bagai badai, angin kencang itu menerobos dan memporak porandakan isinya.
Seorang anak perempuan masuk, sambil menyeret pria bertubuh besar. Sulur besar menjerat leher pria itu, yang nyaris tak sadarkan diri. Nampak banyak luka gores di kulitnya.
Dengan mudahnya anak perempuan itu menarik tubuh besar pria itu dan melemparnya ke ruang bawah tanah dengan marah.
"Makhluk terkutuk! Berani sekali kau melakukan hal rendah itu! Kau memanfaatkan kecelakaan itu untuk meraup jiwa-jiwa malang itu dan menjadikannya tumbalmu? Kau bahkan jiwa dari gadis malang ini?"
Gadis kecil itu membanting tubuh besar pria itu berkali-kali ke lantai. Dia mengerang sakit. Tapi tak bisa melawan. Dia tahu betul siapa lawannya. Dia bukan gadis kecil biasa.
"Kau salah memilih gadis ini sebagai korbanmu, karena aku sudah memutuskan untuk menyelematkan nyawanya. Aku tidak akan membiarkanmu memilikinya." Ujar gadis kecil itu dengan suara orang dewasa.
Dia menyeret pria itu lagi dan melemparnya ke dalam sebuah ruang kecil.
"Hama sepertimu harus dilenyapkan sebelum jatuh korban jiwa lebih banyak lagi."
Pintu ruangan itu tertutup.
"Sebelum aku menghilang, akan kupastikan kau terkurung selamanya dan membusuk di dalam sana. Aku akan menggunakan sisa kekuatanku untuk mengunci ruangan ini. Tidak akan ada yang bisa membukanya."
Seorang gadis kecil lain mengenakan gaun tidur muncul dengan wajah sedih.
"Tangisilah tuan mu yang bodoh itu, tak ada seorang pun yang bisa menyelematkannya dan jangan memohon padaku untuk membebaskannya. Karena aku tak akan melakukannya." Setelah berkata seperti itu, gadis kecil yang tadi mengurung pria besar itu pergi meninggalkan rumah tua itu.
Gadis kecil itu menjejaki hutan dengan kaki telanjang. Tiba-tiba akar pohon menjerat kakinya yang mungil.
"Seorang anak manusia berani menyusup ke hutanku seperti serangga, dan membuat keributan. Katakan padaku, siapa kau?" seorang pria asing muncul dari balik kegelapan malam bersama seekor harimau putih di sampingnya.
Di bawah sinar bulan yang lembut kedua pandangan mereka bertemu. Pria itu terkejut melihat sepasang mata berwarna merah seperti batu Rubi yang ada pada anak itu. Mata yang sama persis dengan 'bangsanya'. Padahal anak di depannya jelas-jelas manusia, namun ada kekuatan yang tak asing lagi baginya menyelebungi anak itu.
Gadis kecil itu menggunakan angin untuk menebas akar pohon yang menjerat kakinya. Setelah terlepas dia langsung kabur keluar dari hutan.
"Anda tidak mengejarnya, tuan?" tanya harimau itu pada tuannya.
"Tidak." Jawabnya datar. Setengah otaknya masih memikirkan gadis kecil yang kabur itu.
__ADS_1
"Apa anda mengenal gadis itu, tuan?" Tanya harimau itu lagi.
"Aku tidak yakin, karena aku tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya," jawab tuannya ragu-ragu.
"Menurut saya, dia mirip dengan putri. Maafkan saya jika saya salah," ujar harimau itu lagi sambil merendah. Tuannya hanya diam sambil terus berpikir.
Sejak pertemuan itu, dia jadi tidak tenang. Sehingga dia terus menerus mengawasi anak itu diam-diam dari kejauhan.
Hari ini anak gadis itu sedang bermain dengan temannya di lapangan.
"Melya, ayo bawa bolanya ke sini!" panggil seorang temannya dari tengah lapangan. Saat ini anak-anak bermain bola di lapangan. Melya di minta oleh teman-temannya mengambil bola yang terlempar keluar lapangan.
Bukannya kembali ke lapangan, Melya malah menghampiri seorang anak yang duduk di pinggir lapangan.
"Kenapa tidak ikut main?" tanya Melya.
"Mereka tidak mengajakku," jawab anak itu. Melya menarik tangannya dan membawanya ke tengah lapangan untuk berbaur dengan anak-anak yang lain.
"Teman-teman, dia ingin ikut main. Boleh ya?" seru Melya sambil menggandeng teman barunya.
Melya anak yang periang yang suka berteman dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan. Mengulurkan tangan dan membantu siapapun yang membutuhkan. Namun kebaikan itu kini terasa salah di mata orang lain, karena mereka tidak melihat apa yang Melya lihat.
Melya menyadari sesuatu dan segera melepaskan genggaman tangannya.
"Aku tidak bermaksud menakuti kalian. Aku hanya suka melihat kalian bermain. Aku tidak menyangka kau langsung menarikku begitu saja tanpa bertanya siapa aku. Maafkan aku!" ucap anak itu lalu menghilang.
"Duh, siapa sih yang ajak dia ikut main! Bikin takut aja!" Bisik salah seorang dari kerumunan anak-anak itu.
"Habis mau bagaimana lagi, tiba-tiba dia minta ikut," bisik yang lain menimpali.
"Seram. Katanya dia bisa lihat hantu, bagaimana kalau dia ajak teman-temannya ikut main sama kita. Ih takut!"
Melya bukan tidak mendengar apa yang mereka bisikkan, hanya saja dia tidak ingin menanggapinya karena hal itu akan membuatnya terluka.
"Melya, jika kau ingin bermain dengan kami jangan bicara yang aneh-aneh seperti tadi. Atau kami tidak akan mengajakmu bermain lagi. Mengerti?"
__ADS_1
Mendengar peringatan dari temannya Melya mengangguk. Dia sadar bahwa sekarang dirinya kini berbeda dengan anak-anak lainnya.
"Maaf!" Melya tidak mengerti kenapa dia harus mengucapkan kata itu. Bukan salahnya jika dia berbeda. Tetapi tak selalu perbedaan bisa diterima.
"Melya, ambil bolanya!" Seru temannya memerintah. Bola itu terlempar cukup jauh dari lapangan. Butuh waktu mengambilnya. Saat dia kembali temannya sudah menghilang. Anak-anak itu sudah bubar meninggalkannya sendirian di lapangan.
Melya memeluk bola karet itu kuat-kuat. Rasanya kesal, ingin marah, tetapi tak tahu harus marah pada siapa. Sejak dia selamat dari kecelakaan itu dunianya telah berubah. Bukan! Tapi cara orang memandangnya lah yang telah berubah. Orang-orang disekitarnya lah ya tidak lagi memperlakukan dia dengan cara yang sama seperti dulu.
"Kasihan sekali. Dia ditinggalkan teman-temannya lagi." Sebuah suara terdengar mendekatinya.
"Hei, main dengan kami saja ya! Kami akan jadi temanmu selamanya! Tidak akan pergi seperti mereka!" Sesosok anak perempuan muncul dari belakang, memegang bahunya dan berbisik di telinganya.
"Benar! Benar! Ayo main dengan kami! Kita bisa bermain-main lebih seru dari mereka!" Seorang anak laki-laki muncul di depannya.
"Kalau kau mau kamu juga bisa membalas mereka untukmu, bagaimana?" ujar seorang anak perempuan lain yang mendekatkan wajahnya ke Melya. Sangat dekat sampai-sampai Melya bisa melihat kedua matanya yang kosong. Tidak ada apapun kecuali kegelapan yang mengisi kedua lubang mata itu.
"Melya!" Terdengar suara yang tak asing lagi baginya memanggil. Angga berdiri di pinggir jalan. Dia dalam perjalanan pulang dari sekolah dan melihat Melya sendirian di tengah lapangan.
"Awas! Pengganggu datang!"
"Cepat pergi! Sebelum tertangkap!"
Anak-anak yang tadi mengerumuni Melya ribut dan panik begitu mendengar suara Angga memanggil. Satu persatu dari mereka menghilang.
Angga berlari menghampiri adiknya.
"Sedang apa sendirian di sini?" tanyanya.
"Aku sedang bermain dengan temanku," jawab Melya
"Hem? Teman?" tanya Angga tak mengerti.
"Tadi. Tadi mereka ada di sini. Tapi sekarang sudah pulang. Jadi aku sendirian," lanjut Melya menjelaskan.
Setelah keluar dari rumah sakit, Angga sadar terjadi perubahan besar pada Melya. Dia lebih banyak murung dan sedih sendirian ketimbang tertawa seperti biasanya.
__ADS_1
Angga mengusap noda tanah merah yang menempel di pipi Melya. Ada sedikit air mata yang bersembunyi di sudut matanya. Angga memilih menyimpan hal itu dan pura-pura tidak tahu.
"Ayo pulang bersama, hari ini bibi masak puding cokelat kesukaanmu. Kamu lapar 'Kan?" Melya menggangguk. Angga menggandeng adiknya pulang ke rumah.