Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 120


__ADS_3

Hah! Benar, sebagai adik seharusnya aku berada dipihaknya. Tapi aku malah memojokkannya. Kupikir setelah itu dia membenciku. Nyatanya tidak. Dia terus menggangguku, mengusikku.


"Celin! Ayo main!" Itu yang selalu dia katakan setiap kali melihatku. Jika aku memejamkan mata, suaranya bukan hanya akan terngiang di kepalaku tapi juga di telingaku.


Hatiku sakit, sayangnya aku tidak tahu di mana aku terluka. Mataku nanar, hingga butir demi butir air mataku jatuh membasahi buku gambar dipangkuan ku.


Rasanya sesak, hingga sulit bernafas. Dadaku seperti dicengkeram oleh amarah dan rasa bersalah. Saat aku mendengar cerita ayah tentang kelahiran kami berdua, tentang Celena yang harus menanggung sakit karena mengorbankan ginjalnya untukku, dan sekarang aku mungkin sudah mengorbankan dia untuk menyelamatkan hidupku.


Akulah yang seharusnya mati dalam kebakaran itu, karena Rabbit pasti tak akan melepaskan kesempatan untuk mengambil jiwaku sebagai bayaran atas semua permintaanku. Tapi aku berhasil selamat. Meskipun begitu rabbit tak pernah muncul lagi di hadapanku. Alasannnya, karena Celena sudah menggantikanku.


Itulah kenapa kami tidak bisa menemukan Celena. Karena Rabbit sudah membawanya. Celena belum mati, dia masih hidup. Jika aku bisa menemukan Rabbit kembali maka Celena juga akan kembali.

__ADS_1


Begitulah, selama bertahun-tahun aku terus mencari jejak rabbit. Aku juga mencaritahu semua tentang rabbit dan dari mana asalnya. Meski sekarang itu semua tidak penting karena aku hanya menginginkan kakakku kembali.


Aku tidak sengaja mendengar percakapan anak-anak di sekolah tentang boneka yang bisa mengabulkan permohonan mereka. Aku mendengarkan dengan seksama, mengamati kejadian sekecil apapun di sekolah dan akhirnya penantian tidak sia-sia.


Aku mengamati satu persatu anak-anak yang membawa boneka itu, dan akhirnya boneka itu jatuh ke tangan lisa.


Lisa, adalah anak paling penakut yang ku tahu. Entah bagaimana reaksinya begitu rabbit terbangun nanti. Aku terus memperhatikannya dari sisi jalan dekat rumahnya, lewat jendela kamarnya yang terbuka.


Terutama ibuku yang selalu saja salah mengenaliku sebagai Celena.


Aku pergi ke kamar Celena. Kami menatanya sama persis seperti saat Celena masih ada. Karena aku yakin dia akan kembali. Begitu juga dengan barang-barangnya, pakaiannya, tak ada satupun yang dibuang.

__ADS_1


Meski semua orang mengatakan bahwa kakakku meninggalkan dalam kebakaran itu, aku dan orangtuaku percaya Celena masih hidup. Selama kami belum menemukan jasadnya, kami akan terus menganggapnya hidup.


Suara bel pintu depan berbunyi. Ibu mungkin sudah tidur.


"Ya, sebentar!" Aku berlari turun untuk membukakan pintu. Dan saat aku membukanya aku menemukan sosok gadis belia berdiri di depan rumahku. Tingginya sepertiku. Aku seperti berdiri di depan cermin dan melihat pantulan diriku.


Tidak! Ini bukan bayangan! Ini nyata. Tanpa sadar aku menyentuh pipinya, dan merasa telapak tanganku dingin.


"Celena..." Ujung lidahku bergetar memanggil namanya. Aku langsung memeluknya erat seolah takut dia akan menghilang lagi jika aku lepas. Waktu yang kuhabiskan tanpa dirinya membuatku sadar, betapa aku sangat merindukannya, betapa aku membutuhkannya.


Celena bukan hanya kakak kembarku tali juga separuh jiwaku. Dan kami sudah sangat dekat bahkan saat di dalam kandungan.

__ADS_1


__ADS_2