Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Pertemuan Yang Ditakdirkan


__ADS_3

POV Author


"Tuan, " Ujar seekor harimau putih pada seorang laki-laki yang sedang duduk di kaki pohon tua. Ada sebuah ruang di sana yang cukup besar untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat.


"Putri belum kembali." Lanjut harimau itu. Dia merujuk pada seorang wanita yang selalu menemani tuannya.


"Dia seorang wanita yang sudah dewasa. Apa yang kau risaukan."


"Sudah beberapa hari beliau belum Kembali. Saya sudah mencarinya sekitar desa, juga tidak ada.


"Baru beberapa hari. Belum terhitung bulan. Biarkan saja. Saat ini perasaannya sedang tidak senang. Jika sudah lebih baik dia akan kembali dengan sendirinya."


"Tapi, tuan.."


"Cemasmu berlebihan. Memang apa yang bisa terjadi padanya. Kalau kau lihat bagaimana dia menghancurkan Hutanku, kau harusnya tahu tidak ada yang bisa melukainya di luar sana."


Absham berpikir kembali, memang benar tidak ada yang bisa melukainya tapi bukan berarti dia tidak bisa melukai seseorang di luar sana. Dia bisa saja membuat kekacauan. Setelah memikirkannya baik-baik, Absham memutuskan untuk mencarinya.


"Tunggulah disini ! Aku akan pergi sebentar mencarinya." Perintahnya kepada harimau pelayannya.


Hawa keberadaan wanita tidak ada di sekitar desa atau hutan. Tania sudah pergi cukup jauh. Setelah melakukan perjalanan seharian Absham akhirnya menemukan Tania dalam wujud kucingnya terjebak di dalam kotak kardus yang diletakkan di samping rumah seorang manusia.


"Jika musuh-musuhmu tahu, mereka akan tertawa senang melihat kondisimu seperti ini. Apa yang terjadi padamu?"


"Bisakah kau tidak menanyakan itu. Mengingatnya membuatku sedih. Aku terjebak dalam wujud ini, tertabrak sebuah kendaraan saat menyeberang jalan raya, dan terlempar di bawah kontruksi sebuah bangunan yang sedang dibangun. Aku terjebak di sana sampai sepasang anak menyelamatkanku. Mereka merawat lukaku dan meletakkanku di dalam kardus ini." Tania pun menceritakan semuanya pada Sham. "Aku tak percaya aku kehilangan kekuatanku." Keluh Tania.


"Kau hanya kelelahan saja karena itu kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu." Ujar Absham. Dia mengambil Tania dari dalam kotak itu dan menggendongnya di lengannya. Dia membuka perban yang melilit ditubuh Tania.

__ADS_1


"Jangan dibuang!" Tahan Tania saat Sham akan membuang perban itu. "Bisakah kau berikan kain putih itu padaku. Aku menyukai benda ini. Karena ini milik penyelamatku. Aku ingin menyimpannya."


Kadang Tania memang sedikit sentimentil seperti sekarang ini. Absham menghela napas tanda mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan orang yang terluka. Jadi dia membiarkan Tania menyimpannya.


"Kau ingin berpamitan juga dengan anak itu?" Ujar Sham menawarkan.


" Tidak perlu. Aku mungkin akan segera bertemu dengan anak itu kembali." Jawab Tania.


"Kalau begitu ayo kita kembali ! Aku akan mengobati lukamu setelah kita pulang." Ujar Sham.


Beberapa hari berlalu. Melya, anak perempuan yang di ceritakan oleh Tania hari ini melakukan perjalanan wisata bersama teman-temannya. Namun naas bus yang mereka tumpangi terperosok ke dalam hutan dan menabrak sebuah pohon besar hingga ringsek dan terguling.


Melihat kecelakaan itu, Ello, teman baru Melya, yang mengikuti bus itu dari belakang dengan mobil pribadinya, berlari ke arah bus yang terguling itu. Namun sang ibu berhasil menahannya.


"Bahaya, Ello ! Jangan ke sana !"


"Hem, di antara kedua anak itu, aku tak mengira kalau yang perempuan yang malah mati lebih dulu." Ucapnya menyaksikan kecelakaan itu dari atas pohon. Sementara angin melambaikan perban putih yang terikat di tangannya.


"Kau mengenal anak-anak itu?" Tanya Sham. Tania mengangguk.


Supir bus sudah dirasuki iblis. Dia berniat bunuh diri bersama penumpangnya. Dia terjerat hutang yang besar dan tak ada jalan keluar. Namun caranya bunuh diri dengan membawa mereka yang tak bersalah tidak bisa diterima.


"Padahal kedua anak itu sudah bertemu. Mereka berjodoh. Namun hidup mereka singkat. Padahal kalau mereka berdua hidup mungkin banyak hal yang menarik yang akan terjadi. Tapi takdir yang kejam tidak mereka kesempatan." Ucap Tania menyayangkan.


"Anak laki-laki itu akan menemui kematiannya beberapa hari lagi. Dan yang perempuan sedang berada diambang hidup dan mati saat ini. Dua-duanya bernasib buruk."


"Meski begitu tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita tidak boleh terlibat dalam hidup dan mati seseorang." Ucap Absham berniat mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


"Di dunia manusia ada yang di sebut dengan dokter. Mereka berjuang untuk menyelematkan hidup orang-orang. Tak perduli apakah itu akan berhasil atau berakhir dengan kematian, Mereka tidak menyerah sampai detik akhir." Ujar Tania.


"Kurasa yang ku lakukan sama hanya caranya saja yang sedikit berbeda. Aku ingin memberikan semua kekuatanku untuk menyelamatkannya sebagai ganti dia telah menyelamatkanku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja kelak gadis ini akan memperlihatkan sesuatu yang menarik padamu."


Tania berbalik menatap Absham dan tersenyum. Senyuman Tania terasa menusuk hatinya. Absham tidak mengerti bahwa saat itu Tania berniat menyampaikan salam perpisahan padanya.


"Terimakasih Sham, waktu yang ku habiskan bersamamu sangat panjang namun menyenangkan. Aku ingin melakukan apa yang aku anggap benar. Walaupun jika kalian semua menganggap sebagai pelanggaran besar, aku siap menanggung hukumanku."


Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, Tania melompat turun dan menghilang dari pandangan Absham.


Sementara itu di dalam bus. Melya, gadis kecil itu mulai terbangun mengamati sekelilingnya. Melihat satu demi satu tubuhnya temannya tak bergerak. Wajah teman-temannya yang tadi tertawa bersamanya tak bisa dikenali lagi.


Sayup-sayup dia mendengar suara orang di luar. Dia bahkan mendengar suara temannya, Ello.


"Ello menyusulku? Apa ibu juga menyusulku?" Tanyanya dalam hati.


Dengan sisa kekuatan dia merangkak ke jendela. Dia mendekatkan wajahnya ke kaca dan melihat ke luar. Orang-orang berkerumun di sekitar bus. Ada yang hanya melihat saja, ada juga beberapa pria membobol bus ini, berusaha menyelamatkan penumpang yang berada di dalam.


Melya juga melihat Ello berlari ke arah bus namun ibunya menariknya kembali dan merangkulnya. Saat itu mata Melya menatap sesuatu yang aneh. Sesuatu yang bergerak seperti asap bewarna hitam menyelimuti tubuh Ello. Sama persis seperti yang dia lihat pada teman-temannya sesaat sebelum kecelakaan ini terjadi.


"Apa itu ?" Tanyanya keheranan.


"Kau bisa melihatnya juga? Sudah kuduga kau punya mata yang bagus." sebuah suara wanita mengejutkannya. Dia menengok dan memeriksa sekelilingnya. Tidak ada siapa pun.


"Si-siapa?" Tanyanya takut.


"Jangan takut, anak manis! Aku tak akan menyakitimu." Ucap suara itu lagi. "Apa kau tahu apa yang kau lihat itu?" Tanya suara itu lagi. Melya menggeleng lemah.

__ADS_1


"Itu adalah warna dari kematian. Mereka yang memiliki warna itu, hidupnya tak akan lama lagi."


__ADS_2