Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Pertemuan Angga Dan Absham


__ADS_3

Setelah kunjungan Melya waktu itu, Angga merasa ada yang mengganjal dari cerita Melya dan ingin mengeceknya langsung.


Tak lama setelah mengantar Melya pergi dua hari kemudian dia mengunjungi hutan yang diceritakan Melya.


Benar saja hutan itu hutan yang sama dimana Melya mengalami kecelakaan tujuh belas tahun yang lalu. Dengan kemampuannya Angga berhasil menemukan lokasi si penjaga hutan, Absham.


"Tak kusangka aku akan kedatangan tamu hari ini." Terdengar suara menggema tanpa wujud.


"Apakah sopan menyambut tamu yang datang tanpa menunjukkan wujudmu?" tegur Angga.


"Aku tidak menunjukkan wujudku kepada sembarang orang. Dan lagi kau hanya tamu tak diundang."


"Oh kalau gitu saya sudah salah paham. Saya pikir anda sengaja meninggalkan jejak pada saudara saya untuk memancing saya datang ke sini," ujar Angga sambil menunjukkan selembar daun yang sempat dia ambil dari rambut Melya.


"Ha ha ha! Anak muda yang pintar. Kau mengenaliku hanya dengan sedikit jejak yang kutinggalkan," puji Absham.


"Penciuman saya cukup tajam dan ingatan saya cukup kuat. Daun itu memiliki bau yang unik. Karena itu saya bisa langsung mengenalinya."


Daun yang ada di telapak Angga jatuh tertiup angin. Itu hanya selembar daun yang dia ambil dari rambut Melya. Namun yang mengganjal daun itu memiliki bau yang mirip dengan bau yang pernah dia cium tujuh belas tahun yang lalu, saat dia mengunjungi tempat kecelakaan Melya dulu. Dan dugaannya benar, Melya telah datang ke tempat ini lagi tanpa dia sadari.


"Apa yang tujuan anda sebenarnya membawa adik saya ke tempat ini?" tanya Angga.


Seekor burung hantu besar terbang di atas kepala Angga lalu turun bertengger di salah satu dahan pohon.


Burung hantu itu mengeluarkan suara seolah berbicara pada Angga, "Nada bicaramu penuh prasangka. Jangan berpikiran buruk tentangku. Aku sama sekali tidak berniat menyakitinya."


"Katakan, bagaimana saya bisa percaya anda tidak akan menyakitinya?" tanya Angga curiga.


Sesaat dia diam, lalu berkata dengan nada memancing, "Kalau pun aku berniat buruk, apa yang bisa kau lakukan. Aku bahkan bisa membunuhmu saat ini."


Angga langsung bersiap dari serangan dan meningkatkan kewaspadaannya berkali-kali lipat. Angga sadar makhluk ghaib di depannya tidak bisa dianggap remeh.


"Hebat! kau sudah siap datang ke sini rupanya. Aku hanya mengujimu. Jangan dianggap serius. Akan kukatakan maksudku."


Angga mengubah posisinya ke semula. Meskipun sikapnya santai dia belum menurunkan kewaspadaannya.


"Ada salah satu makhluk yang harus aku lenyapkan karena berbahaya. Tapi dia terkurung dibawah sebuah bangunan oleh seseorang yang tidak diketahui. Sayangnya segel itu hanya bisa terbuka oleh orang yang sama dengan yang sudah menguncinya."

__ADS_1


"Bukankah lebih baik jika dia tetap terkurung?"


"Tidak bisa, lama kelamaan segel itu akan dihancurkan dari dalam."


"Kalau begitu biarkan segel itu hancur dengan sendirinya. Setelah makhluk itu keluar kau bisa langsung melenyapkannya."


"Jika menunggu hal terjadi, akan sangat berbahaya. Dia adalah salah satu pemuja iblis. Akan sangat merepotkan untuk menyingkirkannya jika bertambah kuat selama terkurung di sana."


"Jadi kau tidak punya pilihan lain selain membebaskan makhluk itu sekarang?" tanya Angga memastikannya kembali.


"Benar."


"Lalu, apa hubungannya dengan adikku?" tanya Angga.


"Aku membutuhkan kekuatan gadis itu untuk membuka segel itu. Dia satu-satunya yang bisa membuka pintu itu," jawab Absham.


Angga punya dugaan bahwa ini mungkin terhubung dengan makhluk ghaib yang telah menolong adiknya. Kakeknya pernah bilang ada makhluk ghaib berkekuatan tinggi yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya.


"Aku tidak tahu secara pasti, tapi gadis itu terhubung dengan pemilik segel itu." ujar Absham seolah membaca pikiran Angga.


"Terlalu berbahaya jika aku membiarkan adikku membuka segel itu. Dia bisa saja diserang oleh makhluk yang terkurung didalam. Dan lagi tidak ada jaminan adikku bisa membukanya. Bagaimana jika dia gagal? Apa ada cara lain?"


"Apa itu?"


"Jika pemiliknya segelnya mati maka segelnya akan hancur, dengan kata lain jika gadis itu mati..." Belum sempat Absham menyelesaikan perkataannya, Angga segera mengambil sikap untuk meninggalkan tempat itu.


Apapun yang direncanakan Absham tidak ada satupun yang baik untuk Melya, adiknya bisa dalam bahaya jika dia tidak cepat-cepat memperingatinya.


Menyadari Angga mencoba kabur, Absham memberi serangan. Beberapa burung hantu terbang melesat ke arah Angga mendaratkan cakarnya yang tajam ke wajahnya.


Angga behasil menyingkirkan burung-burung itu, namun dia tidak menyangka dari balik kerumunan burung hantu seekor harimau melompat menyerangnya lalu menjatuhkannya ke tanah.


Harimau itu menahannya dan berdiri di atas tubuhnya.


"Aku tak akan membiarkanmu mengacaukan rencanaku. Jadi diamlah disini." Itulah kata-kata terakhir yang didengar Angga sebelum kehilangan kesadaran.


Saat sadar kembali dia sudah ada di rumah dan mendengar kabar tentang adik sepupunya.

__ADS_1


"Aku langsung pergi dengan ibumu begitu mendengar kau mengalami kecelakaan di hutan itu." Begitulah Angga mengakhiri ceritanya.


Angga dan Melya sedang menikmati waktu paginya di teras rumah Melya. Ayah Melya masih berada diluar kota. Tadinya ayahnya ingin langsung pulang begitu mendengar kabar buruk tentang putrinya. Namun Melya mencegahnya dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tak ada luka serius yang harus dikhawatirkan. Dia juga sudah memberikan laporannya kepada pihak polisi.


Awalnya dia bingung harus menceritakan apa pada polisi, tapi karena Alvin sudah menceritakan semuanya, Melya terpaksa menceritakan semua yang dialaminya untuk melengkapi cerita Alvin.


Selama menyusuri hutan, polisi tidak menemukan orang yang dimaksud Melya dan Alvin, tetapi mereka menemukan bagian tengkorak pria dewasa, yang diduga pelakunya, tersangkut di pohon.


"Apa menurutmu itu perbuatan penjaga hutan?" tanya Melya pada Angga di depannya saat dia menceritakan penemuan polisi.


"Bisa jadi. Penjaga hutan itu kuat dan berbahaya. Sebaiknya kau tidak terlibat dengannya lagi. Aku bersyukur kau berhasil keluar dari hutan itu dengan selamat," jawab Angga.


"Tapi, aku pernah berbicara dengan mereka, sikap mereka baik."


"Siapa yang tahu. Semakin tinggi kemampuan makhluk ghaib semakin pintar mereka menyembunyikan maksud mereka," ujar Angga memperingatkan.


"Apa ini berhubungan bedengan penyelematku?" tanya Melya lagi.


"Mungkin. Apa kau ingat dia seperti apa?" tanya Angga balik.


"Aku tidak yakin, tapi aku sempat bicara dengan seekor kucing hitam yang bilang akan menyelematkanku. Dari suaranya sepertinya perempuan," jawab Melya sambil mengingat-ingat kembali mimpinya.


"Kau sudah ingat semuanya?"


"Sedikit, aku mengingatnya samar-samar. Seperti mimpi. Aku juga ingat tentang teman lamaku, Ello." Melya menunduk sedih. Sekarang dia mengerti perasaan aneh yang selama ini mengganggunya saat dia melihat penampakan Ello. Bagaimana dia bisa melupakan teman baiknya begitu saja.


"Kami berjanji akan bermain bersama saat kami bertemu lagi," ucap Melya sedih. Suara Ello yang mengajaknya bermain lagi terus terngiang-ngiang dalam ingatannya. Meski dia tahu itu hanya penyamaran Absham, tetap saja hal itu membuat dadanya sesak.


"Tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubah hal itu. Dia sudah ditakdirkan untuk mati,"


"Aku tahu. Hanya saja bagaimana bisa aku melupakannya?"


"Mungkin itu efek dari kecelakaan waktu itu beberapa ingatanmu terhapus," ujar Angga.


Melya menghela nafas mencoba menenangkan diri. Banyak hal terjadi.


Melya ambil cuti dari pekerjaannya. Saat ini dia menikmati liburannya di kota kelahirannya.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan?" tawar Angga. Mereka berkeliling menelusuri jalan di kota kecil itu. Dia melihat bangunan sekolah tempat dia menghabiskan masa sekolahnya. Bangunan tua yang menyimpan banyak kenangan. Dimana dia tumbuh sebagai sosok remaja yang berbeda dengan teman-teman sebayanya.


__ADS_2