
Keesokannya aku menjenguk Feby di rumah sakit, keadaannya sudah membaik. Meski begitu aku tetap merasa bersalah, karena dia jadi seperti ini akibat permintaanku. Walaupun tidak akan ada yang tahu juga.
Rabbit bilang dia punya kekuatan untuk menukar keberuntungan menjadi kesialan begitu juga sebaliknya. Aku yang tadinya tidak bisa ikut perlombaan itu akhirnya beruntung bisa ikut karena feby tertimpa kesialan dan gagal ikut serta. Bukankah itu seperti merampas keberuntungan orang lain dan menjadikannya milikku?
Tadinya aku ingin meminta Rabit menyembuhkan kaki Feby. Tidak apa jika aku harus membayar harga untuk itu.
Tapi Rabbit bilang itu tidak perlu. Karena hidup Feby tidak dalam bahaya. Dan dia akan sembuh satu sampai dua bulan ke depan meski tanpa bantuanku. Anggap saja dia sedang beristirahat.Dan beruntungnya dia akan melewati ulangan Minggu depan dengan nilai toleransi dari guru karena masih dirawat. Bukan cuma itu ayahnya juga membelikan notebook baru untuknya agar dia tidak bosan selama di rumah sakit. Itu keberuntungan yang pantas dia dapatkan setelah musibah yang menimpanya.
Sebaliknya Rabbit memperingatkan ku untuk berhati-hati, karena setelah lomba itu berakhir, aku akan mendapatkan kesialan sebagai bayaran untuk keberuntungan yang ku dapat kemarin. Saat aku tanya pada Rabbit kesialam apa yang akan aku alami, dia bilang dia tidak tahu. Yang dia lakukan hanyalah menukarnya, selebihnya dia tidak tahu. Seperti yang terjadi pada feby, dia tahu Feby akan sial, tapi dia tidak ikut campur dengan kecelakaan yang menimpa feby.
Aku tidak tahu Rabbit jujur atau tidak, yang pasti aku tidak akan menggunakan kekuatan rabbit lagi. Aku khawatir semakin besar keberuntungan yang aku dapatkan semakin besar pula kesialan yang akan menimpaku.
__ADS_1
Untungnya kesialan yang ku dapat hari itu hanya nilai ulanganku yang merah. Kalau hanya sebatas itu aku masih bisa ikut tes perbaikan nilai. Yang penting tubuhku masih lengkap dan hidupku tidak dalam bahaya.
Rabbit bilang kesialan itu memang tidak mengambil hidupku atau melukaiku, itu hanya mengambil apa yang kumiliki.
Aku tidak berniat untuk mencobanya, tapi sulit untuk mengabaikan saat kau memiliki sesuatu seperti pengabul permintaan, kau akan selalu tergoda untuk mencobanya. Hingga akhirnya rasa khawatir yang sebelumnya ku rasakan pun hilang.
Aku bahkan sempat ingin membuang rabbit diam-diam. Tapi anehnya rabbit selalu kembali padaku. Akhirnya dengan kesal aku bertanya padanya, kenapa dia tidak pergi ke tempat lain.
Tunggu! Kapan aku jadi majikannya?
Dia bilang saat aku memberikan darahku, maka sepenuhnya rabbit menjadi milikku.
__ADS_1
Darah? Aku coba mengingat-ingat kapan aku memberikannya darah. Ah, aku ingat saat aku merasa seperti jariku tergigit. Ternyata benar itu ulah rabbit. Dia sendiri yang menggigit jariku. Apakah itu dihitung sebagai perjanjian darah juga? Bukankah itu penipuan? Karena aku tidak merasa melakukan perjanjian darah atas keinginanku?
Rabbit bilang, perjanjian tetap perjanjian. Sial!.
Lagipula tidak ruginya jika aku menyimpan Rabbit. Selama aku berhati-hati agar tidak ketahuan.
Sayangnya tidak ada rahasia yang bertahan lama, terutama saat kakakku Celena adalah anak yang memiliki perasaan tajam. Akhirnya dia memergokiku berbicara pada rabbit.
Aku pun terpaksa menjelaskan semuanya padanya, dan memintanya merahasiakan dari ayah dan ibu.
Awalnya dia tidak percaya. Tapi saat aku menunjukkan bukti di depan matanya langsung, dia langsung kagum. Sikapnya pun mulai berubah, dia jadi penurut padaku dan tidak berbuat ulah lagi. Semua itu dilakukannya agar aku mengijinkan dia memakai rabbit. Aku membolehkannya selama aku mengawasinya. Untuk berjaga-jaga juga agar dia tidak membuat masalah ke depannya.
__ADS_1
Hingga suatu hari, sebuah kabar buruk datang pada kami.