
"Lancang sekali! Kau tidak punya hak untuk bicara!" ujar kakek tua itu padaku.
"Jika ini pengadilan maka aku punya hak untuk membela diri dan memberikan penjelasan. Kecuali jika ini hanya permainan, maka kalian bisa langsung menghukumku tanpa harus melakukan sidang."
"Kamu tidak perlu mendengar kebohonganmu!" Pak tua itu menyelaku.
"Bagaimana kakek tahu aku berbohong? Berbicara saja belum. Lagipula bukan kakek yang memutuskan disini."
"Tutup mulutmu! Penyusup seperti kalian tidak berhak berbicara di pengadilan kami!"
"Kalau begitu apa gunanya pengadilan kalau akhirnya kami dituduh seenaknya?!"
Adu mulutku dengan pak tua itu memicu emosinya. Dia mengangkat tongkatnya ke atasnya dan melayangkannya ke arahku. Aku mengangkat tanganku bermaksud melindungi kepalaku.
"Hentikan!" Penjaga yang berdiri di belakang ku menahan ayunan tongkat itu sebelum menghantam kepala ku hanya dengan satu tangan saja.
"Dalam pengadilan tidak boleh ada kekerasan sampai hukuman dijatuhkan. Siapapun harus mematuhinya. Termasuk anda, tetua," ujar penjaga itu lagi.
Pak tua itu pun menurunkan tongkatnya. Aku terpana. Angga benar. Bangsa siluman memiliki aturan yang harus dipatuhi semuanya. Berbeda dengan kami, disini tidak ada yang berani melanggar. Karena mereka sadar jika mereka sampai melanggar peraturan maka harus menanggung hukuman berat dari pimpinan atau raja mereka.
Selain itu, Ternyata penjaga di belakangku memang bukan perkara jaga biasa. Disatu sisi aku bisa tenang saat ini karena tidak ada yang bisa melukaiku, namun di sisi lain, itu berarti aku tak bisa kabur dengan mudah dari tempat ini jika kondisinya semakin buruk.
Paling tidak di sini mereka tidak langsung menghukum penyusup dan mengadakan pengadilan itu berarti mereka bukan makhluk semena-mena. Aku bisa sedikit berharap.
"Disini raja kami lah yang akan memutuskan apakah kau berhak berbicara atau tidak," kata penjaga itu lagi. Aku menatap sang raja yang masih belum bergeming dari singgasananya meski dia tahu ada keributan di depannya. Ekspresinya tidak terbaca olehku.
"Bicaralah!" Akhirnya dia memberiku izin. Aku pun menceritakan semuanya mulai dari kami terpisah dengan salah seorang teman kami sampai kami tersesat.
__ADS_1
"Jangan percaya kata-kata nya! Penyusup ini hampir merusak upacara suci kita. Mohon paduka raja menghukumnya!" tukas pak tua itu diikuti sorak-sorai penonton.
"Kami tidak bermaksud merusak apapun. Saat itu kami juga sudah mau pergi tapi kalian malah menangkap kami," sanggah ku.
"Raja, tolong pertimbangkan lagi. Jika kita melepaskan mereka tanpa memberikan hukuman maka kaum kita akan dianggap remeh. Dia bisa saja kembali dengan membawa orang-orang yang lebih berbahaya yang bisa merusak tempat kita. Jadi saya mohon hukum anak ini seberat-beratnya agar tidak ada lagi makhluk lain yang akan memasuki wilayah kita seenaknya!" ujar pak tua itu lagi.
Aku yang terbawa emosi mendorongnya sampai tubuh renta itu terhuyung-huyung ke belakang.
"Hei kakek! Apa salahku padamu? Apa aku menggigit ekorku? Apa aku mencabuti bulu-bulumu? Kenapa kau begitu ingin aku dihukum seolah kau dendam padaku? Aku bahkan baru mengenalmu hari ini?"
Sudah jelas sejak pak tua itu ingin sekali aku dihukum. Tetapi apa alasannya? Kenapa dia begitu membenciku?
"Hentikan!" Penjaga di belakangku menarikku dan memintaku untuk tenang.
"Paduka raja, jika seekor anak domba tersesat masuk ke pekaranganmu sementara kau tidak mengunci pagarnya apa kau akan tetap menghukumnya? Padahal dia tidak bermaksud merusak pekaranganmu, apakah pantas kalian mengambil keuntungan dari domba tersesat itu dengan alasan menghukumnya?" ujarku membela diri.
"Aku sama sekali tidak tahu tempat apa ini? Kalau saja kalian memasang papan peringatan didepan kami juga tidak akan mau masuk. Orang-orang di dunia kami melakukan hal itu untuk menjaga tanah mereka. Mungkin kalian juga bisa melakukannya. Dengan begitu tidak ada lagi manusia yang masuk ke tempat kalian tanpa izin."
Jantungku seolah berhenti berdetak menunggu dalam diam. Entah vonis apa yang akan dijatuhkan padaku.
"Ha-ha-ha!" Suara tawa sang Raja akhirnya pecah. Aku menatapnya tak mengerti apa yang ia tertawakan. Dia bangkit dari singgasananya dan berjalan ke arahku.
Setiap langkahnya terasa menggetarkan tanahnya.
"Aku tak pernah berpikir untuk memasang papan peringatan seperti itu," katanya.
"Yah, itu berguna di dunia manusia. Tapi, kalau kami menulis peringatan seperti itu, bukankah manusia akan menertawakannya karena menganggapnya gurauan? Karena mereka tidak bisa melihat kami, mereka tak percaya kami ada. Hanya mereka yang memiliki mata isitimewa yang bisa melihat kami, dan kau salah satunya. Aku benar 'kan?"
__ADS_1
"Sebagai ganti peringatan itu, kami melindungi tempat kami dengan perisai agar tempat kami tersembunyi dan tidak ada sembarang orang bisa masuk."
"Tapi sepertinya semalam ada 'anak domba' yang tersesat tanpa dia sadari telah merusak pagar perisai yang sudah kami pasang."
Pria bertanduk itu sudah berdiri tepat di depanku. Menatapku dengan mata besarnya. Tingginya dua kali lipat dari tinggiku.
"Nak, kau bukan disidang karena sudah menyusup dan mengganggu upacara, tapi kau dibawa kesini karena kau sudah merusak perisai yang memagari tempat ini. Apa kau punya pembelaan untuk hal itu?"
Aku memucat. Rasanya aku tak kan selamat. "Jadi maksudnya, aku yang sudah merusaknya? Bagaimana aku melakukannya?" Pertanyaan itu seperti tertuju pada diriku sendiri.
"Jangan tanyakan itu padaku, karena aku juga ingin mengetahui jawabannya. Yang pasti kau satu-satunya yang mungkin menghancurkan perisai itu untuk masuk kesini, karena perisai itu di ciptakan untuk menghalau manusia."
Kepalaku terasa pusing karena ketegangan terjadi. Aku tak bisa mengelak karena raja itu tahu aku memiliki kemampuan unik. Pandanganku mulai kabur karena air mata yang tertahan.
"Maafkan aku! Aku mungkin melakukannya tanpa sengaja." suaraku terdengar bergetar ketakutan.
"Usiamu masih muda, kau mungkin melakukannya tanpa kau sadari. Aku mengerti bahwa kekuatanmu belum stabil. Tapi kau tetap harus dihukum."
"Jika aku melepaskanmu hanya karena alasan tidak sengaja, maka semua penjahat akan menggunakan kata itu untuk lolos dari hukuman."
"Aku tahu. Tapi boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Temanku hanya anak biasa. Dia tidak sama sepertiku. Jadi, bisakah kau melepaskannya? Dan juga anak serigala di sampingku, dia tidak ada hubungannya denganku. Jadi tolong lepaskan dia juga," pintaku.
Raja itu diam sejenak mendengar permintaanku, lalu berkata, "Jika aku bilang aku akan mengabulkan dua permintaanmu, apa kau tidak ingin merubah permintaanmu?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala menolaknya.
"Kau tidak ingin meminta kekayaan atau kekuatan seperti di minta banyak orang disini?"