Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Tersesat


__ADS_3

Acara malam terakhir diperkemahan adalah wisata malam atau jerit malam. Semacam uji keberanian. Kami akan dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari tiga orang.


Kami diwajibkan berkunjung ke setiap pos dan meminta barang yang sudah ada di daftar kami. Tentu saja sepanjang jalan para guru dan senior kami ikut membantu mengawasi agar tidak anak yang tersesat. Bermodalkan senter dan denah kami menelusuri jalan setapak yang gelap.


Sepanjang jalan kami juga akan diuji keberaniannya. Mulai dari suara-suara menakutkan sampai benda-benda aneh yang digantung di pohon atau ditaruh di semak-semak.


Padahal sudah tahu kalau itu semua palsu. Semua cuma permainan para senior belaka. Tapi tetap saja banyak menjerit ketakutan bahkan ada yang menangis. Salah satunya teman sekelompok kami, Lisa. Sepanjang jalan dia terus saja ketakutan dan berulangkali berteriak setiap kali ada yang mengejutkannya.


Terakhir, dia kabur karena dikejutkan tengkorak yang bergelayutan di pohon. Dan tanpa sadar dia membawa tangan palsu yang terlempar dari semak-semak. Dia mungkin akan menjerit lagi begitu sadar apa yang dibawanya lari.


Harus ku acungi jempol, para senior kami sangat kreatif membuat hantu palsu.


Aku dan Dina melanjutkan perjalanan kami sambil menyusul Lisa yang tadi kabur lebih dulu.


"Aku tidak mendengar suara Lisa teriak lagi, Apa mungkin dia tersesat?" tanya Dina.


"Tidak mungkin tersesat. Pos terakhir hanya berjarak kurang dari seratus meter. Mungkin Lisa pingsan atau sudah sampai di pos terakhir lebih dulu."


Ini memang aneh! Rasanya aku sudah berjalan cukup lama tetapi belum menemukan pos di depan. Suasana semakin sunyi, tidak ada suara kecuali suara angin yang menggoyangkan dahan pohon. Dina merapat ke sisiku sambil merangkul lenganku.


"Halo! Apa ada orang? Kakak senior? Pak guru?" seruku, tidak ada yang menyahut. Apa mereka sengaja mengerjai kami? Atau kami yang memang sudah tersesat?


Apa aku kembali saja ke pos yang sebelumnya dan bertanya pada mereka?


"Kita putar balik saja. Perasaanku tidak enak."


"Bagaimana dengan Lisa?" tanya Dina cemas.


"Kita tidak bisa mencarinya hanya berdua saja. Kita datangi pos sebelumnya dulu lalu minta bantuan mereka untuk mencari," jawabku.


Kami pun berbalik arah dan menulusuri jalan kami datang tadi. Namun anehnya jalan yang kami lalui tetap terasa asing. Sudah jauh kami berbalik tapi kami belum menemukan pos yang tadi kamu lewati.


"Apa tadi kita lewat jalan ini?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Bagiku semua jalan terlihat sama," jawab Dina yang masih menempel padaku.


"Bukan cuma pos, tengkorak mainan yang tadi menggantung di pohon juga tidak ada. Dan apa tadi kita melalui jalan bercabang?" Aku menyoroti jalan bercabang di depan kami.


Jalan yang kami lalui harusnya jalan lurus setapak tanpa persimpangan. Ini membuktikan kalau kami tersesat. Bukan! Lebih tepatnya kami terperangkap di jalur yang bukan seharusnya. Baik maju atau mundur tetap sama hasilnya. Kami tak bisa keluar.


"Se- sekarang bagaimana?" tanya Dina lagi ketakutan. Sepertinya dia sudah sadar kalau kami tersesat. Aku melepaskan tangannya dari lenganku. Dan duduk di pinggir jalan.


"Aku tidak tahu. Aku capek. Aku mau istirahat," jawabku.


"Apa sekarang waktunya untuk istirahat? Kita harus menemukan jalan yang benar untuk pulang!"


"Bagaimana caranya? Kita sudah jalan dari tadi. Mau maju atau mundur hasilnya tetap sama. Sekarang lebih baik istirahat. Jadi kita punya tenaga untuk kabur jika hal buruk terjadi."


"Apa bakal terjadi sesuatu?"


"Aku tidak tahu. Apa pun bisa terjadi di tempat seperti ini. Lebih baik kita bersiap."


Dina berjongkok di depanku sambil menutupi wajahnya dengan tangannya. Dia nampak frustasi. Sebenarnya dibandingkan Lisa, Dina masih lebih baik. Meskipun dia penakut dia berusaha bertahan sampai sejauh ini.


Sebenarnya aku lebih cemas darinya. Aku memeriksa kompas di sakuku tadi. Jarum penunjuknya kacau berputar tak tentu arah. Kami bukannya tersesat karena salah pilih jalan. Saat ini kami telah memasuki tempat yang asing dan terperangkap di dalamnya.


Aku ragu apa mereka bisa menemukan kami. Aku harus cari cara memberitahu mereka keberadaan kami. Lebih bagus lagi kalau kami menemukan celah untuk keluar dari tempat ini.


Aku mendengak menatap ke langit. Bulan dan bintang tidak terlihat. Langit berawan tebal.


Duk! Duk! Duk!


Sayup-sayup aku mendengar suara genderang ditabuh. Seperti alunan musik.


"Suara apa itu?" tanya Dina yang ikut mendengarnya juga.


"Ayo kita cari tahu!" ajakku. Kami lanjut berjalan mencari sumber suara itu. Lampu senterku mulai berkedip. Baterainya hampir habis. Padahal biasanya kuat sampai berhari-hari.

__ADS_1


Aku harus menemukan seseorang atau tempat untuk berlindung sebelum kehilangan satu-satunya cahaya penerang.


Lampu senterku akhirnya mati tepat saat kami menemukan sesuatu yang terang berada jauh di depan kami. Aku dan Dina memutuskan untuk menghampiri sumber cahaya itu. Entah apa yang akan kami hadapi di depan sana, lebih baik daripada terperangkap dalam kegelapan.


Semakin mendekat ke tempat cahaya itu, suara genderang itu semakin terdengar. Kami juga mendengar suara sorak-sorai dari banyak orang. Apakah sedang ada pesta? Atau panggung pertunjukan?


Ternyata cahaya yang kami lihat berasal dari api unggun. Beberapa orang menari memutarinya dan sebagian menabuh gendang. Beberapa obor dinyalakan mengelilingi tempat itu.


Awalnya kami pikir mereka sama seperti kami, sedang melakukan perkemahan di sini. Namun aku menyadari ada yang janggal dari mereka.


Pakaian yang mereka kenakan tampak aneh dan mereka semua memakai topeng. Apa mereka penduduk lokal? Dan tarian mereka, ketimbang perayaan atau pesta, mereka lebih terlihat sedang menjalankan upacara atau ritual.


"Ayo kita ke sana!" ajak Dina bersemangat.


"Tunggu!" cegahku menarik tangannya kembali. Saat kuperhatikan lebih jelas aku menyadari sesuatu yang lebih menakutkan.


Itu bukan topeng! Itu kepala asli mereka! Beberapa di antara mereka tampak seperti hewan. Sedangkan yang lain tidak bisa ku kenali bentuknya. Mereka bukan manusia!


"Kita harus cepat kabur dari sini. Aku merasakan tempat ini berbahaya. Bisa saja mereka marah karena menganggap kita mengganggu ritual mereka.


"Aaahh!" Tiba-tiba Dina berteriak ketakutan. Pandangannya melewati bahuku. Ada sesuatu tepat di belakang ku yang membuatnya menjerit.


Aku memberanikan diri untuk berbalik. Dan melihat mereka tepat di depan kami. Aku mundur pelan-pelan-pelan menjauh dari mereka. Mereka berdiri seperti manusia dan memiliki tubuh seperti manusia, tetapi kepala mereka mirip hewan bertanduk. Sapi? Kerbau? Atau banteng?


Aku hanya bisa menerka-nerka dalam kegelapan. Ada sekitar tiga orang. Mungkin jika aku berlari aku bisa menerobos untuk kabur dengan memanfaatkan tubuh kecilku. Aku menggenggam tangan Dina yang mulai dingin. Aku sudah bersiap-siap untuk menariknya.


"Dina bersiaplah untuk berlari!" Bisikku pelan padanya. Namun yang terjadi diluar dugaan.


"Bruk!" Dina malah jatuh pingsan sebelum sempat kabur.


"Dina?"


Pertahanan Dina akhirnya runtuh. Dia tidak sanggup bertahan dengan semua yang dia alami dan saksikan sendiri.

__ADS_1


Sementara kondisiku semakin sulit. Aku tidak bisa membawa Dina yang pingsan berlari. Apa yang harus kulakukan?


__ADS_2