
"Hasil perundingan ini belum diputuskan! ia sudah berani melepaskannya, bocah!" bentak dukun Arang marah padaku.
Sepertinya aku punya bakat terlibat masalah oleh para orang-orang tua. Tidak disini tidak disana selalu saja kena umpat!
"Jika kita tidak melepaskannya bagaimana kita bisa membuktikan kalau dia tidak berbohong?" jawabku.
"Kau tidak tahu seberapa berbahayanya dia! meskipun kecil dia tetap siluman berbahaya." ujar dukun Arang memperingatkan.
"Kalau itu biarkan dia bersamaku!" kataku sambil menarik tangan mungil itu, dan mengeluarkan si kecil dari dalam kandang.
Dia tampak terkejut dan menatapku dengan mata bundarnya yang berwarna kuning labu. Aku membalasnya dengan senyuman.
"Aku akan mengawasinya! Jika dia mulai mengamuk, maka aku adalah orang pertama yang akan terluka. jadi selama waktu itu kalian bisa kabur atau menyerang balik. Bagaimana?" ujarku menawarkan kesepakatan pada mereka.
"Bagaimana kalau kau membawa kabur siluman itu?" tanya salah seorang pria di ruangan itu memprotes.
"Memangnya aku bisa membawanya ke mana? Keperkemahan? Atau membawanya pulang ke rumahku?" cibirku.
"Tapi, "
"Sudah cukup!" sela kepala desa sebelum yang lainnya memprotes. "Baik, kami akan ikut denganmu untuk memastikan kebenarannya. Jika dia bicara jujur akan melepaskannya." Akhirnya pak kades angkat bicara memberi keputusan.
Kami bertujuh termasuk dukun Arang pergi ke tempat yang ditunjuk anak itu. Aku menggandeng tangan Amy dan membiarkan dia di sampingku, untuk memastikan tidak ada yang bisa melukainya lagi. Anak ini tampak sangat ketakutan.
Di dekat sungai kami menemukan pondok tua. Dan di dalamnya kami menemukan seorang nenek tua renta yang rabun sedang berbaring.
Nenek itu cerita kalau dia sudah lama tinggal sendiri. Dia sudah lupa dimana Keluarganya yang lain. biasanya setiap hari dia selalu menemukan buah-buahan di dekat tempat tidurnya.
Tapi sudah beberapa hari ini, tidak ada lagi yang mengantarkan makanan. Jadi, terpaksa dia harus susah payah pergi ke desa meminta makanan pada penduduk.
"Seorang nenek tua yang harusnya menjadi di bantu oleh penduduk desa, malah dibantu oleh siluman kecil ini. Tapi apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak malu dengan bapa yang kalian lakukan?" Einar Akhirnya berbicara juga. Dia sudah cukup menahan diri sejak tadi.
Amy tidak berbohong. Akhirnya kepala desa memutuskan untuk melepaskan Amy dan meminta maaf. Dukun Arang tidak suka keputusan pak Kades tapi dia tetap diam. Pak kades juga bilang akan bekerjasama dengan warga merawat nenek ini. Dia meminta maaf atas apa yang terjadi.
Amy senang dengan keputusan kepala desa. Dengan begitu dia tidak perlu cemas lagi. Kami berempat pamit pergi.
"Einar!" Amy langsung melompat ke dalam pelukan Einar sangat kami tinggal berempat.
__ADS_1
"Selamat datang kembali," ucapnya penuh haru.
"Maafkan aku Einar. Aku janji tidak akan nakal lagi. Aku benar-benar takut," ucap Amy sambil membenamkan kepalanya di dada Einar.
"Aku juga tidak akan membiarkanmu lepas dari pengawasanku lagi," ujar Einar.
"Hai Amy!" sapa anak serigala itu.
"Oby!" seru Amy senang. Mereka berdua terlihat akrab.
Oby memberikan boneka milik Amy yang dia simpan. Amy sangat gembira menerimanya.
"Kau menyukai boneka itu?" tanyaku.
"Iya. Ada anak yang membuangnya. Jadi aku memungutnya. Tidak apa-apa 'kan? Aku tidak mencurinya." jawabnya.
"Tidak apa-apa. Karena benda itu sudah dibuang pemiliknya. Maka sekarang itu milikmu." ujarku.
"Bonekanya jadi lebih bagus."
"Temanku yang memperbaikinya."
"Akan ku sampaikan padanya."
"Terima kasih juga sudah menolongku," ucap Amy lagi padaku sambil tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih karena aku juga melakukannya untuk diriku sendiri," ucapku membalas.
"Ngomong-ngomong, bagaimana anak serigala dan anak domba bisa berteman? Kau tidak akan memakannya saat dia sudah besar 'kan?" gurauku.
"Tentu saja tidak!" bantahnya keras. Dia menganggap serius gurauanku. Kami tertawa melihat reaksinya.
"Jangan makan aku, kakak Oby!" ucap Amy ikut bercanda.
"Aku tidak akan melakukannya!" Wajah Oby memerah.
Ya, kau tidak akan memakannya, tapi kau mungkin akan menikahinya saat besar nanti, gumamku bergurau dalam hati melihat tingkah mereka berdua. Einar pun ikut tersenyum. Kupikir dia pria yang kaku ternyata dia bisa menunjukkan senyumnya yang menawan.
__ADS_1
"Emm, aku juga ingin minta maaf. Malam itu aku mencarimu untuk meminta bantuan. Tapi aku jadi marah karena boneka Amy hilang," ujar Oby menjelaskan kejadian malam itu.
"Aku juga minta maaf karena sudah memukulmu," ucapku membalas. "Kalau begitu kita impas ya?"
"Aku salut dengan kebohonganmu. Sampai aku tak bisa berkata apa-apa," ujar Einar.
"Aku tidak itu pujian atau hinaan. Pilih salah satunya!" Aku merasa tersindir tapi aku tidak marah aku mengerti yang dimaksud Einar.
"Oh aku hampir lupa menyampaikan pesan raja untukmu. Dia bilang dia memberimu satu permohonan lagi sebagai hadiah karena sudah berhasil menyelesaikan misi ini."
"Dia ingin kau mempertimbangkannya baik-baik akan kau gunakan untuk apa permohonan itu. Kau bisa mempergunakannya kapanpun. Jadi tidak usah terburu-buru dan pikirkan baik-baik."
"Aku terima hadiahnya. Terima kasih! Sekarang aku harus kembali perkemahan. Einar mengantarku sampai ke dekat perkemahan dalam sekejap. Dira sudah di antar lebih dulu. Mungkin sekarang dia sudah beristirahat.
Aku melihat Angga dari kejauhan dan langsung berlari menghampirinya. Aku memeluknya dengan erat sambil menangis. Emosi yang sejak tadi ku tahan akhirnya tumpah.
Tubuhku terasa lemas tanpa tenaga. Orang-orang menghampiriku. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Rasa kantuk yang berat menyerangku dan membuatku jatuh tertidur.
Saat aku terbangun aku sudah ada di kamar rumah sakit dengan jarum infus yang terpasang dengan tanganku. Aku juga melihat Angga yang sedang duduk menunggui ku.
"Kata dokter kau mengalami dehidrasi. Kau tidak makan dan minum sama sekali selama hampir empat hari, wajar jika pingsan."
Aku menelaah kata-katanya, "Aku memang tidak makan dan aku tidak merasa lapar sebelumnya."
"Itu mungkin terjadi kalau masuk ke dimensi lain. Itu efek sihir yang memungkinkanmu tidak merasa lapar dan haus." Angga menjelaskan padaku.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Angga lagi sambil memeriksa keningku.
"Lapar. Aku lapar sekali." jawabku lemah. Angga malah tersenyum. Dia mengira ku bercanda.
"Temanmu yang kami temukan lebih dulu tidak ingat apa yang terjadi. Sepertinya ingatannya dihapus. Bagaimana denganmu? Apa kau masih mengingatnya?" tanyanya lagi.
Aku mengerutkan kening mencoba mengingatnya, "Tidak begitu jelas. Aku rasa aku mengingatnya meski samar-samar. Apa mereka mencoba menghapus ingatanku juga?"
"Bukan! Itu karena kondisi tubuhmu masih sakit. Kau baru saja tersadar masih butuh banyak istirahat. Tidurlah lagi!"
"Mama?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Dia sedang mengurus administrasi rumah sakit. Sebentar lagi dia kembali," jawab Angga.