Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 117


__ADS_3

"Celin!" seru Ayah, berlari menghampiriku. Ayah langsung memelukku. Dari nafasnya yang tak beraturan, aku tahu bahwa ayah pasti berlari tergesa-gesa untuk menemui kami. Ayah melepaskan pelukannya lalu memeriksa luka di wajahku.


Tanpa harus mengatakannya aku tahu bahwa ayah sedih melihat luka di wajahku.


"Tidak apa-apa, ayah. Ini tidak sesakit yang ayah pikirkan," kataku menjawab kecemasan ayah.


"Apakah sudah dirawat?" tanya Ayah.


" petugas yang membantuku kemarin, sudah mengobatinya. Tapi aku diminta untuk pergi ke rumah sakit."


"Kalau begitu kau harus pergi ke rumah sakit. Lukamu harus segera mendapatkan perawatan.."


"Tidak, ayah! Aku tidak mau di tinggal di rumah sakit sendirian. Lebih baik aku ikut mencari Celena bersama ibu."


"Mencari Celena?" Ah ya aku belum menceritakan pada ayah kalau Celena tidak pulang. Akhirnya aku menceritakan semuanya.

__ADS_1


Kami bertiga mulai menjelajah seisi kota, mencari Celena, bertanya pada orang-orang di sekitar, tapi tak ada satupun yang melihat Celena hari itu. Teman sekelas dan juga wali kelasnya juga tidak ada yang tau.


Berhari-hari kami mencari Celena, dibantu oleh petugas kepolisian dan detektif, tapi Celena bak hilang ditelan bumi. Dan anehnya Rabbit juga tak pernah muncul lagi di hadapanku. Apakah hilangnya Celena ada hubungannya dengan Rabbit? Kemana mereka berdua pergi?


Sementara aku berpikir, ayah mendekatiku.


"Kau tidak tidur?" tanyanya.


"Aku baru mau tidur, ayah. Apa ibu sudah tidur?" Pada pertanyaanku, ayah mengangguk pelan. Tampaknya dia juga lelah. Kami harus membujuk ibu untuk beristirahat.


"Aku tidak tahu ibu sesayang itu pada celena." Bukannya aku cemburu. Aku hanya heran dengan perasaan sayang ibu yang terlampau besar untuk Celena.


"Dia akan bersikap sama, jika kau yang hilang," kata Ayah mencoba memberi pengertian padaku.


"Aku sangsi ibu akan bersikap demikian padaku, ayah." Mendengar rengekan putrinya, ayah mengusap kepalaku dan menatapku penuh kasih.

__ADS_1


"Celin, ada hal yang belum ayah dan ibu ceritakan padamu. Kami berpikir untuk menunggumu sedikit lebih besar aga bisa memahaminya. Tapi ayah pikir, saat ini waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya."


Aku menatap ayah yang saat ini menatap ke depan dengan tatapan kosong. Seolah pikirannya sedang menerawang ke masa lalu.


"Kau tahu, kau dan Celena begitu dekat saat lahir hingga kalian tidak terpisahkan saat lahir. Ibu kalian berjuang begitu keras untuk membawa kalian ke dunia ini. Kalian adalah sebuah kehidupan baru yang selalu kami nantikan."


"Hal yang paling kami syukuri, kalian lahir dengan anggota tubuh yang lengkap, meski kalian berbagi kehidupan di dalam."


Jadi aku dan Celena kembar Siam? Aku tidak pernah menyangka hal ini sama sekali, mengingat kami berdua tidak pernah cocok dalam hal apapun.


"Setelah kamu berkonsultasi dengan dokter dan mempertimbangkan segala kemungkinannya, akhirnya kami menyediakan untuk memisahkan kalian berdua. Tapi ada satu masalah, kalian hanya punya tiga ginjal, karena itu salah satu dari kalian harus hidup dengan satu ginjal seumur hidup. Dan saat itu kami harus memutuskan siapa yang harus kami korbankan saat itu."


Ayah berpaling padaku yang membeku saat itu. Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku mendengar cerita ayah.


"Kau tahu ini sangat sulit untuk kami. Sebagai orang tua, kami ingin anak-anak kami hidup dengan baik dan berumur panjang.

__ADS_1


Berpikir bahwa salah satu anak kami hidup dengan satu ginjal saja, itu seperti kami memotong setengah hidup anak kami untuk kami berikan ke anak kami yang lain, kami merasa sangat berdosa."


__ADS_2