
"Kakak, apa yang kakak lakukan?" Celin membantu melepaskan cengkraman Selena. "Sudah kubilang berapa kali Dina masih sakit. Jangan mengganggunya!"
Setelah situasi agak tenang kami bertiga duduk di sofa. Celin menjelaskan padaku apa yang terjadi.
Ayahku belum pulang dan ibu sedang pergi menebus obat. Celin dan Selena diminta menjagaku di rumah.
Yang membuatku terkejut adalah saat celin bilang bahwa kakaknya Selena yang menghilang lima tahun lalu akhirnya pulang. Dia juga minta maaf sudah membuatku ketakutan. Dia bilang Selena tidak sabar ingin menemuiku.
"Dia sampai memakai seragamku dan mengikutimu ke sekolah. Dia pasti sangat merindukanmu."
Mendengar itu aku cuma bisa tertawa lemah seolah menertawakan diriku sendiri. Kepalaku terasa kosong tidak bisa berpikir.
"Eli bilang padaku di telepon kalau kau jatuh dari tangga. Aku memberitahu ibumu dan menjemputmu di sekolah. Lalu membawamu ke rumah sakit. Tapi kata dokter kau tak perlu di rawat jadi kami membawamu pulang."
"Terima kasih!" ucapku tulus pada celin saat dia pamit pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya celin membawa Selena bersamanya saat kami berkumpul di rumah Lisa untuk diskusi kelompok.
Kupikir mengetahui bahwa Selena masih hidup, membuat diriku lebih baik. Kenyataannya aku masih takut terhadap Selena. Meski dia hanya duduk diam memeluk boneka kelincinya di sofa sambil menonton tv atau mengunyah sekaleng permen tanpa henti, pandanganku tak bisa beralih darinya.
Aku terus mengawasinya diam-diam. Dia tak banyak bicara. Sekalinya bicara dia bersuara seperti anak-anak. Tingkahnya juga seperti anak-anak. Sepertinya kesadaranya berhenti di usia tujuh tahun.
"Jadi, apa yang membuatmu begitu takut pada Selena?" tanya Eli. Celin dan Selena sudah pulang lebih dulu.
"Aku tidak takut," tepisku menyangkal.
"Bohong! Kau terus memperhatikannya selama kita berdiskusi," tukas Lisa.
"Selena dulu dikenal sebagai anak nakal dilingkunganku. Tidak ada yang suka padanya. Dia berkelahi, merusak mainan, bahkan sampai melukai anak lainnya. Tapi orangtuanya tidak pernah memarahi atau melarangnya. Karena itu dia berbuat seenaknya," kataku bercerita.
"Apa kau pernah diganggu juga?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak pernah. Karena takut, aku selalu menghindarinya," jawabku.
"Jadi kau terbiasa menghindarinya sejak kecil?" tanya Riri. Aku mengangguk "Mungkin."
"Dan lagi, apa kalian tidak merasa aneh?" tanyaku. Mereka menggelengkan kepala, bingung.
"Saat kebakaran itu memang tidak ada yang memastikan apa dia ada di dalam atau di luar rumah. Tapi karena dia berhasil pulang hidup-hidup, bisa disimpulkan bahwa dia berada diluar rumah saat itu. Tapi dimana dia selama ini? Kenapa dia kabur dari rumah? Dan kenapa dia baru kembali sekarang?"
"Dia tampak sehat dan terawat. Tidak ada bekas luka. Saat dia menghilang umurnya baru tujuh tahun. Apa anak umur tujuh tahun bisa mengurus dirinya sendiri saat kabur dari rumah?"
"Apa yang ingin kau katakan pada kami?" tanya Eli mendekat padaku dengan tatapan panik. Riri dan Lisa tak bergeming melihatku.
"Maksudku, apa kalian yakin dia Selena dan bukan orang lain yang mirip dengannya? Apa benar dia manusia dan bukan mayat yang tiba-tiba hidup kembali?"
Sejenak suasana hening dan tidak ada yang menjawab, sampai suara derita pintu menyentak kami dan membuat kami berpaling ke arah pintu.
__ADS_1
Kami semua terkejut melihat celin berdiri di ambang pintu dan menatap kami dingin.
"Aku kembali untuk mengambil buku ku yang tertinggal."