
CELIN
lima tahun yang lalu,
"Auw!" jariku tertusuk jarum karena aku terlalu banyak melamun.
Saat ini aku sedang berada di kelas kerajinan tangan. Aku sedang memperbaiki boneka kelinci usang yang kutemukan di halaman sekolah kemarin. Aku sedang menjahit kepalanya yang hampir lepas. Tapi karena terlalu banyak melamun jariku tertusuk jarum. Darah menetes dari ujung jariku jatuh tepat di mulut boneka itu.
Aku mencoba membersihkannya tapi tidak bisa. Sesaat aku bergidik melihat noda merah yang membekas di mulut boneka itu seolah dia habis meminum darahku. Tapi sesaat kemudian aku menyingkirkan pikiran bodoh itu.
Sesampai di rumah aku ingin menelepon ayah. Ayah tak tinggal bersama kami karena dia harus bekerja di kapal. Dan sesekali pulang ke rumah saat kapalnya berlabuh. Jadi biasanya kami hanya berkomunikasi lewat telepon.
Ayah selalu bilang bahwa ibu juga mencintaiku sama seperti dia mencintai Selena. Namun perhatian yang diberikannya padaku dan Selena sangatlah berbeda.
Saat aku mendapatkan peringkat pertama dan Selena mendapatkan peringkat sepuluh, ibu lebih dulu datang padanya dan memujinya seolah mengabaikan jerih payahku.
"Itu karena ibumu tahu kau selalu menjadi yang terbaik di antara teman-temanmu. Itu bukti bahwa dia percaya padamu. Tapi kakakmu tidak. Dia butuh sedikit motivasi dan dorongan dari ibumu," ujar ayah di telepon. Memberikan pengertian saat aku mengadukan sikap ibuku padanya.
__ADS_1
"Tapi aku berharap ibu bisa sedikit memujiku," ujarku melanjutkan pembicaraan.
"Ayah sudah memujimu. Apa itu tidak cukup?" ujarnya menghibur sambil tertawa kecil.
"Ibu selalu memasak semua makanan kesukaan kakak, tapi tidak pernah menanyakan satu kalipun makanan yang ku sukai," rengekku.
"Karena ibu mu tahu kau bukan pemilih makanan. Kau akan makan apapun yang dimasak ibumu. Benar 'kan?"
"Iya. Tapi 'kan tidak ada salahnya bertanya padaku apa makanan kesukaanku."
"Kakakmu Selena punya alergi terhadap beberapa jenis makanan. Karena itu ibumu berhati-hati dalam memilih makanan untuknya."
"Sayang, ayah mengerti saat ini kau merasa tidak adil atas sikap ibumu. Tapi cobalah berikan ibumu sedikit pengertian."
Tentu ayah. Aku selalu memberikannya pengertian tapi sekalipun ibu tak pernah mencoba memahami diriku.
"Sangat sulit baginya membagi kasih sayang yang adil untuk kedua putrinya."
__ADS_1
Sesulit apa? Sesulit itukah untuk menggenggam tangan putrimu dan tidak melepaskannya dengan mudah? Atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang biasa diajukan ibu kepada putrinya sebagai bentuk perhatiannya.
"Terlebih dengan keadaan kakakmu yang membutuhkan perhatian lebih. Ibumu harus ekstra menjaganya."
Aku juga butuh perhatian bukan hanya Selena.
"Aku harap kau bisa mengerti sayang. Ayah menyayangimu."
"Aku juga sayang ayah."
Aku mengakhiri panggilan kami. Aku teringat bahwa ayah mengirimiku hadiah kemarin. Aku bergegas ke lemari dimana aku menyimpannya. Ku lihat bungkus kadonya sudah terbuka padahal yang ku ingat aku belum sempat membukanya kemarin.
Saat ku buku aku terkejut melihat isinya. Aku menuruni tangga dengan marah sambil menghentakkan kakiku keras-keras. Aku langsung menemui kakak kembarku yang sedang asyik menonton tv.
"Selena!" seruku marah "Apa yang kau lakukan pada boneka kesayanganku?"
Dia melirikku dengan enggan lalu mengabaikanku. Dia menonton tv kembali sambil memakan cemilannya. Aku merasa kesal dan berlari mengadu ke ibu yang sedang memasak di dapur.
__ADS_1
"Ibu! Lihat apa yang Selena lakukan pada bonekaku. Dia memotong rambut bonekaku seperti ini Bu! Coba lihat!" keluhku sambil menunjukkan boneka anak perempuan yang kepalanya hampir botak.