Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Kebenaran Yang sia-sia


__ADS_3

"Aku tahu dari cerita kakak kelas juga. Ada salah satu korban sampaimeninggal karena hantu Reina itu. Apa bapak tahu siapa orangnya?" tanyaku.


"Ya, dia teman baik bapak sejak kecil. Namanya Maiya. Dia juga berteman baik dengan Reina," jawab pak Arya.


"Persis seperti yang dialami Riri, sepanjang waktu dia selalu ketakutan. Katanya Reina datang membalas dendam padanya. Dia sering histeris sendiri tanpa alasan. Berteriak pada semua orang Reina akan membunuhnya. Tentu saja semua orang tidak percaya."


"Anak-anak mengira dia sudah gila. Saat itu aku terus mendampinginya. Mendengar semua yang dikatakannya. Bahkan saat dia di bawa ke rumah sakit, aku menemaninya. Aku tidak tahu menahu soal hantu, jadi aku tak tahu harus berbuat apa."


"Aku juga tidak tahu apa aku harus percaya padanya atau tidak. Yang ku tahu Reina bukanlah gadis yang jahat yang sanggup melukai temannya."


"Tapi Maiya yakin kalau hantu yang mengejarnya adalah Reina. Sampai akhir hayatnya. Hari itu kami menemukannya tewas di dalam lemari di kelas, dengan banyak luka sayatan ditubuh dan wajahnya


"Polisi menutup kasus itu sebagai kasus bunuh diri. Karena pisau cutter yang ditemukan di lokasi adalah miliknya dan ada sidik jarinya juga. Dokter bilang dia mengalami depresi berat."


"Tapi anak-anak meyakini bahwa kematian Maiya adalah ulah Reina. Terlebih lagi mereka menemukan kunci loker no 13 itu di saku Maiya, padahal kunci itu sempat hilang. Mereka percaya bahwa roh Reina bersembunyi di dalam loker itu. Menunggu kesempatan untuk membalas dendam."


"Sejak hari itu dibuatlah peraturan tidak tertulis untuk tidak menyentuh loker itu. Untuk menghindari jatuhnya korban lagi."


"bukannya korban pertama itu adalah orang yang memimpin penindasan terhadap Reina di sekolah?" ujarku dengan nada bertanya untuk memastikan kebenarannya.


"Ya, bapak juga tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Sebelum kasus pencurian yang dilakukan oleh Reina itu mencuat, Maiya dan Reina memang sempat bertengkar." ujar pak Arya.


"Apa mereka memberitahu alasan mereka bertengkar?" tanyaku lagi.


Pak Arya menggelengkan kepala, "Mereka tidak cerita. Setelah beberapa hari mereka bersikap biasa. Jadi bapak pikir masalah itu sudah selesai."


"Pada dasarnya Maiya bukan gadis jahat. Dia memang sedikit cerewet dan pemarah, kadang keras kepala, tapi dia baik dan penuh perhatian. Dia gadis yang optimis dan penuh semangat."

__ADS_1


"Bapak suka ya sama Maiya?" Tukasku. Angga menyikutku. Mengisyaratkanku untuk tidak membahas itu.


"Ehhem!" Pak Arya berdehem padahal tidak batuk. "Dia teman bapak sejak kecil. Jadi bapak tahu betul sifatnya itu."


"Lalu, bagaimana kasus pencurian Reina yang diselidiki itu pak?"


"Setelah beberapa waktu berjalan bapak tahu dari salah seorang guru saat itu. Kasus pencurian itu sama sekali tidak benar. Tidak ada sidik jari Reina yang ditemukan pada barang curian itu. Sudah jelas seseorang berniat menjebaknya. Namun Reina saat itu sudah dikeluarkan dari sekolah karena desakan para orang tua/wali murid yang menganggap Reina mencoreng nama baik sekolah."


"Apa tidak ada yang mengklarifikasikan masalah itu?" tanyaku.


"Mengetahui kebenarannya setelah semua yang terjadi apakah masih berguna? Pada akhirnya gosip yang penuh sensasi yang mereka inginkan. Mereka lebih suka cerita seorang siswi yang berprestasi ketahuan mencuri. ketimbang secuil fakta tak berarti."


"orang-orang bukan mencari kebenaran dari gosip yang dibicarakan, mereka cuma butuh cerita menarik untuk diperbincangkan terlepas dari benar atau salahnya. Beramai-ramai mencela saling berlomba melontarkan kata-kata menghujat secara sepihak, bahkan jika ada yang terbunuh karena kata-kata yang mereka lontarkan tak ada hukum yang akan mengadili mereka."


"Padahal gara-gara mereka nyawa seorang tak bersalah melayang begitu saja. Hidup seorang anak jadi hancur. Jangankan merasa bersalah, mereka bahkan tidak menyadari kesalahan mereka," ujarku.


"Begitulah penonton, Melya. Mereka butuh hiburan. Kejadian yang Reina alami tak lebih dari hiburan semata. Mereka bahkan tak peduli bagaimana ceritanya akan berakhir. Saat cerita itu tidak menarik lagi mereka akan beralih ke cerita baru yang lebih menarik."


"Tapi bapak masih belum menyerah. Bapak masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada reina," ujar pak Arya.


"Ini apa pak?" Aku mengambil secarik kertas itu, di dalam tercatat alamat rumah.


"Itu alamat rumah kakak Reina yang masih tinggal di sini. Rencananya bapak ingin mengunjunginya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Reina sebenarnya."


"Dengan begitu bapak bisa mengetahui apa yang diinginkan Reina sebenarnya. Bapak tidak ingin menyesal seperti dulu. Bapak akan melakukan apa saja untuk membantu menyelamatkan Riri agar dia tidak mengalami nasib yang sama seperti Maiya," ujar pak Arya mengakhiri pembicaraan.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berdiskusi dengan Angga mengenai cerita yang kami dengar dari pak Arya.

__ADS_1


"Menurut kakak gimana? Apa mungkin dia jadi roh jahat untuk memulihkan nama baiknya kembali?"


"Mereka yang sudah meninggalkan dunia fana ini tidak peduli dengan hal seperti itu," Angga langsung mematahkan dugaanku.


"Kalau begitu kakak percaya bahwa menjadi arwah penasaran untuk membalas dendam? Kok jadi kayak difilm-film."


"Kalau memang seperti itu semua akan berakhir pada masa itu saja. Dia tidak perlu mengincar yang lain yang tidak ada sangkut pautnya."


"Benar juga."


"Masalah ini bisa jadi lebih rumit dari yang kita bayangkan. Yang pasti dia memiliki energi jahat yang bahkan mampu melukai makhluk hidup. Keberadaannya bisa menjadi ancaman jika dibiarkan."


"Ditambah lagi aku tidak menyadari energi sebesar itu ada di sekolah. Artinya kita berurusan dengan makhluk halus yang pintar bersembunyi," kata Angga lagi.


"Berarti dia tahu tentang kemampuan kita karena itu dia bersembunyi dari kita?" ujarku bertanya lagi.


"Bukan, yang aku khawatirkan justru lebih dari itu. Keberadaan loker itu di kelasmu bisa jadi bukan kebetulan, begitu juga yang di alami temanmu bisa saja itu hanya umpan untuk memancingmu."


"Kenapa dia menginginkanku?"


"Aku tidak tahu yang di inginkan makhluk ini sebenarnya, Karena itu aku ingin berhati-hati, terutama saat aku tidak ada. Besok aku akan ke rumah kakek. Aku ingatkan lagi jangan melakukan tindakan berbahaya selama aku tidak ada."


"Besok aku cuma mau mengecek alamat ini, tidak apa 'kan?"


Angga mengangguk, "Janji juga kami harus sudah ada di rumah sebelum matahari terbenam."


Aku mengiyakan agar dia tenang. Keesokan harinya sepulang sekolah aku pergi mencari alamat yang tercatat di kertas. Aku terkejut begitu menemukannya sampai mengecek kertas itu berulang-ulang.

__ADS_1


Pantas saja aku seperti tahu alamat ini, ternyata ini adalah tempat yang sudah ku datangi beberapa kali.


"Pak arya, tidak salah memberi alamatnya 'kan? Bagaimana bisa kebetulan ini terjadi? Riri ...??"


__ADS_2