
Pak Arya tak percaya kejadian diluar nalar bisa terjadi tepat di depan matanya.
"Pak Mong! Ambil kapak atau alat apapun untuk mendobrak terali besi ini!" perintah pak Arya.
"Pak, pergilah lebih dulu. Saya akan menyusul!" pintaku.
"Bapak gak mungkin ninggalin kamu sendirian disini, Mel."
"Riri harus dibawa ke rumah sakit sekarang! Jika menunggun saya tidak akan sempat."
Pak Arya melihat Riri. Nafasnya semakin berat. Kondisinya semakin memburuk. Pak Arya tak punya pilihan lain selain meninggalkanku.
"Tunggu bapak kembali! Bapak akan mengeluarkanmu dari sana setelah mengantarkan Riri ke rumah sakit. "Aku mengangguk agar dia tenang.
Pak Arya berlalu pergi sedangkan pak Mong sedang pergi mencari alat untuk membobol terali besi ini. Lalu, aku harus bersembunyi untuk mengulur waktu.
Aku memutuskan naik ke lantai dua, karena jika aku tetap di tangga aku hanya akan terjebak saat makhluk itu menemukanku. Dari lorong yang panjang dan gelap, samar-samar aku bisa merasakan keberadaan makhluk itu semakin mendekat.
Aku harus bergerak menjauhinya. Semakin samar berarti jarak antara makhluk itu semakin jauh. Sama halnya denganku yang menjauhinya, makhluk itu juga pasti sedang berusaha mencari keberadaanku. Karena itu semakin jauh jarak kami semakin sulit baginya untuk menemukanku.
Lampu senterku sengaja kumatikan. Aku tidak ingin meninggalkan jejak walaupun itu hanya sedikit cahaya. Terpaksa aku harus berjalan dalam gelap, mataku akan terbiasa nantinya. Meredam suara langkahku adalah hal tersulit, dalam kesunyian malam yang hampir tak bersuara.
Seolah para penghuni malam ini sedang menonton kami berdua melakukan permainan hide and seek. Sembunyi dan temukan! Permainan telah dimulai!
__ADS_1
Kegelapan ini menjadi arenanya. Kegelapan yang menyelubungiku bisa menjadi bantuan untuk menyembunyikan keberadaanku, tapi bisa menjadi kerugian yang besar untukku jika kami berhadapan langsung. Bagi makhluk seperti mereka, kegelapan seperti ini tak terlalu menghalangi mereka. Namun berbeda dengan manusia sepertiku, di dalam kegelapan seperti ini jarak pandang kami terbatas. Sehingga sulit menentukan arah yang benar, dan ada kemungkinan aku menemukan jalan buntu.
Bangunan sekolah ini tidak sesederhana bangunan yang lain. Ada celah atau lorong buntu yang memisahkan antara ruang kelas yang mirip seperti lorong tangga. Ku dengar dulu mereka berniat membangun ruang kelas tambahan atau membangun tangga tambahan. Tapi pembangunan itu dibatalkan dengan alasan yang tidak jelas dan membiarkannya terbengkalai begitu saja.
Siang hari anak-anak sering menggunakannya sebagai tempat berkumpul rahasia. Beberapa anak sering kali salah memasuki lorong itu karena mengira itu jalur tangga. Kalau siang hari saja menyesatkan apalagi malam hari.
Apa aku harus bersembunyi di toilet dan meminta bantuan si hantu toilet itu menyembunyikanku? Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu! Dia memang jinak di siang hari tapi bisa saja jadi berbahaya dimalam hari. Makhluk halus seperti mereka cenderung berubah di malam hari.
Lagi pula toilet adalah sudut mati. Tidak cocok dijadikan tempat persembunyian. Begitu makhluk itu menemukanku di sana aku akan langsung skak mat.
Aku tidak mengerti kenapa orang yang terpojok selalu memilih toilet sebagai tempat persembunyian mereka. Padahal itu tempat berbahaya untuk kabur.
Yang bisa kulakukan hanya terus berjalan menelusuri lorong koridor di depan kelas. Bergerak hati-hati tanpa suara namun harus cepat karena makhluk itu juga terus bergerak mengejarku. Di situasi seperti ini aku hanya bisa mengandalkan instingku menjauh dari bahaya yang memburuku.
Permainan ini akan terus berlanjut sampai salah satu dari kami kelelahan. Bulan yang tadi bersembunyi kini menampakkan dirinya. Sinarnya jatuh tepat di depan jalanku, menyingsingkan kegelapan. Cahaya bulan menerangi bangunan sekolah.
Itu dia! Makhluk itu ada di seberang sana! Aku pikir aku sudah cukup jauh darinya ternyata aku malah berada satu lantai dengannya.
Aku merapat ke tembok, sambil sedikit mengintip ke arah hantu itu. Dia belum bergerak dari posisinya. Sepertinya dia belum menyadari keberadaanku di sini. Aku harus bergerak menjauh secepatnya. Di mana tangganya?
"Kenapa malah diam di sini? Kau ingin tertangkap?" Sebuah suara anak laki-laki mengajakku berbicara. "Sekitar 50 meter disebelah kiri ada tangga. Ayo bergerak atau dia akan menemukanmu!"
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan mencari wujud suara itu. Tapi, tidak melihat siapapun. Suaranya sangat dekat. Dimana dia?
__ADS_1
"Hei kau mencari apa? Aku di sini! Aku disini!" seru suara itu lagi. Sebuah bayangan benda bulat memantul-mantul di depanku seperti bola basket. Karena benda itu tidak bisa diam aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas benda apa itu.
Dengan kedua tanganku aku menangkapnya dan membuatnya berhenti memantul. Aku mendekatkannya ke wajahku agar bisa melihatnya lebih jelas.
Benda seukuran bola basket menatapku dengan kedua matanya dan dengan mulutnya yang tersenyum, mengatakan "hai!" Dengan santainya.
"Aaaakh!" Aku terkejut saat mengetahui bahwa yang aku pegang di tanganku adalah sebuah kepala. Spontan aku langsung melemparnya jauh-jauh.
Aku pikir aku mulai terbiasa dengan 'mereka' nyatanya aku masih sering terkejut dengan kejahilan mereka. Bahkan disaat situasiku seperti ini, bagaimana bisa mereka bergurau dengan lelucon seperti itu.
Seketika punggungku bergidik ngeri. Aku merasakan sesuatu yang membuatku ingin kabur sejauh mungkin. Gawat! Karena teriakanku tadi hantu itu menyadari keberadaanku. Dari jauh aku merasakan pandangan kami saling bertemu.
Dia menyeringai senang melihatku. Sedangkan aku masih berdiri mematung. Bahkan saat tubuh itu melayang menyeberangi lapangan dan mendarat di depanku, diriku masih tak bergeming.
Padahal hati dan pikiranku terus berseru untuk lari. Kenapa tubuhku tidak mau bergerak. Apa tubuhku sudah berada dalam kendalinya? Bagaimana ini?
Saat tangan makhluk itu mencoba menggapai ku sesuatu menghantam nya dan mendorongnya menjauh dariku. Aku memanfaat kejadian itu untuk lari.
"Kesini! Cepat kesini! Ada tangga sebelah sini!" Kepala tanpa tubuh itu berteriak sambil memantul-mantul menunjukkan arah padaku, aku menurut. Aku memang belum tahu tujuannya membantuku. Aku tidak tahu dia baik atau jahat, tapi yang jelas saat ini dia berada di pihaku. Dia juga membantuku lepas dari pengaruh makhluk itu.
"Awas! Menunduk!" serunya lagi padaku memperingatkan. Aku menengok ke belakang. Hantu itu telah bangun dan saat ini sedang melayang, menerjang ke arahku dengan sangat cepat. Aku menjatuhkan diri ke lantai tepat pada waktunya sehingga dia melewatiku.
"Ke sini! Cepat tangganya di sini!" seru kepala itu lagi. Aku berhenti tak jauh dari tangga. Aku bergegas bangun dan berlari ke tangga.
__ADS_1
Baru beberapa anak tangga langkahku terhenti. Aku sadar bahwa kakiku tidak menapaki tangga. Tubuhku melayang terangkat di udara tanpa bisa ku kendalikan.
"Tidak!"