
Saat kami tiba di perkemahan sudah hampir sore. Aku menjatuhkan diri di atas rumput merasakan lututku yang kelu akibat pendakian tadi. Jalan yang kami lalui cukup menanjak membuat beban dipunggungku semakin berat. Aku benar-benar lelah.
Namun, ada yang membuatku heran. Dua anak bodoh yang mengikutiku, mengapa mereka tidak merasa lelah sama sekali? Melihat mereka tetap bertenaga untuk bergerak ke sana kemari sementara aku tidak bergerak sedikitpun di atas rumput, rasanya jengkel sekali.
Anak-anak lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang merebus mi instan. Ada juga yang sedang membangun tenda dan merapihkan barang bawaan. Sedangkan beberapa panitia sedang sibuk mendiskusikan acara pembukaan nanti.
Aku juga harus membangun tenda. Langit terlihat berawan gelap. Sepertinya akan hujan. Jika tidak segera membangun tenda kami bisa kehujanan.
Area tenda perempuan dan tenda laki-laki terpisah. Satu tenda di isi 5 orang. Kami dibolehkan meminta bantuan anak laki-laki saat membangun tenda, karena sulit kalau hanya perempuan saja yang melakukannya. Kami juga menggali parit disekitar tenda agar air hujan tidak masuk.
Setelah semuanya beres anak-anak dikumpulkan. Dan acara pembukaan pun dimulai. Panitia juga menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan.
Acara terpaksa diakhiri lebih cepat karena rintik hujan mulai turun. Sebelum deras kami semua masuk ke tenda untuk berteduh.
Petir menyambar beberapa kali. Namun bukan itu yang membuatku terbangun. Posisi ku tidur paling pinggir. Jadi suara-suara di luar tenda bisa terdengar.
Ada suara orang melangkah di sekitar tenda kami. Ini sudah larut. Seharusnya semua sudah tidur kecuali beberapa orang yang bertugas untuk berjaga-jaga diluar.
Tetapi mengingat diluar gerimis, bukankah seharusnya semua berlindung di tenda? Jadi, siapa yang ada diluar tenda kami?
Tidurku jadi tidak tenang. Aku bermaksud membuka sedikit celah di tenda untuk mengintip keluar. Namun kilat yang membelah kegelapan memperlihat sesosok bayangan menakutkan dibalik dinding tenda yang tipis ini.
Tubuhku membeku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Apa itu tadi? Dari bentuk bayangannya sudah jelas bukan manusia. Dia berdiri dengan agak bungkuk. Dengan kepala yang mirip seperti hewan.
__ADS_1
Aku menelan ludahku dan membasahi tenggorokan ku yang kering karena takut. Kulihat teman-teman sekamarku masih tertidur. Pelan-pelan aku membaringkan tubuhku lagi tanpa menimbulkan suara.
Aku meringkuk dalam selimut. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Membayangkan makhluk itu berdiri di dekat kami dan hanya terpisah oleh kain tenda yang tipis ini saja sudah cukup membuatku gemetar.
Hujan turun lebih deras. Aku tak lagi mendengar suara apapun selain hujan di luar sana. Aku tidak tahu apakah makhluk itu masih berdiri di luar sana. Saat kilat menerangi segalanya, aku lega tak melihat lagi melihat bayangan itu. Tanpa sadar aku pun tertidur.
Saat bangun di pagi hari, aku tak melihat jejak kaki yang ditinggalkan. Mungkin juga sudah bersih terguyur hujan. Aku memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi dan menikmati kegiatan hari ini.
Udara bersih pegunungan, dan suara kicau burung kecil sedikit mengubah suasana hatiku.
Setelah usai sarapan kami pun melanjutkan kegiatan outbound. Beberapa permainan dan tantangan yang harus dilalui secara berkelompok. Awalnya aku ragu akan dapat kelompok, tapi Lisa dan Dina membantuku untuk mendapatkan anggota lain. Yah, membiarkan mereka satu kelompok denganku ada bagusnya juga.
"Baiklah! Sudah saatnya untuk membungkam mulut mereka yang berani bicara di belakangku diam-diam. Akan ku rebut semua kemenangan hari ini. Dan tunjukkan kemampuan tim ku yang sebenarnya," ucapku dalam hati penuh semangat yang membara.
Aku termasuk anak yang aktif dan tangkas kalau soal permainan di luar ruangan. Sehingga tantangan yang diberikan oleh para senior tidak menyulitkan ku. Di tambah lagi dua orang aneh di tim ku yang tak pernah kehabisan staminanya. Hasilnya kami unggul dibandingkan tim lain dan mendominasi kemenangan.
Dan itu tidak sia-sia. Aku menyaksikan bagaimana air sungai yang jernih jatuh dengan indah bagai tirai air yang lembut. Titik-titik cahaya yang terpantul di permukaan air bagai permata. Dan suara gemericik air yang mengalir bagai musik. Demi keindahan seperti inilah orang-orang rela mendaki jauh sampai ke sini.
Anak-anak langsung menceburkan diri begitu melihat air sungai yang segar. Setelah tadi kami bermain kotor-kotoran dengan air dan tanah. Sekarang kami semua asyik bermain air.
Aku benar-benar kagum melihat air terjun di depanku. Aku menjulurkan tanganku perlahan dan menembus tirai tipis itu. Air nya dingin seperti es. Aku bisa merasakan air yang kencang dan deras menimpa lenganku. Dan merasakan seseorang yang menggenggam tanganku.
Hah?
Aku merasakan seseorang memegang pergelangan tanganku dan menariknya. Spontan aku menarik tanganku balik dan mengeluarkan tanganku dari air terjun.
__ADS_1
Aku mengusap pergelangan tanganku. Tidak ada bekas. Tapi rasanya tadi begitu nyata. Seseorang menyentuh tanganku dari balik air terjun tadi. Sesaat aku melihat bayangan gelap dari balik tirai air itu.
Aku menebas dengan cepat air yang jatuh itu dengan tanganku untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Tidak ada apapun kecuali dinding batu.
Apa itu tadi?
Aku mundur ketakutan menjauh dari air terjun itu. Tanpa sadar kakiku tergelincir dari batu tempatku berpijak.
"Aah!" Aku terjatuh ke dalam sungai dengan posisi terduduk.
"Aduh!" Bokongku sakit.
Aku mendengar seseorang mendekatiku dari belakang. meskipun mereka mengendap-endap tetep saja suara gemericik air dari langkah mereka terdengar jelas.
"Byuur!" Dua anak bodoh itu mengguyur sekujur tubuhku dengan air yang di bawanya.
"Mandi yang benar!" ujar Dina sambil tertawa.
Padahal tadi aku sedang ketakutan. Bisa-bisanya aku jengkel dengan ulah mereka.
"Kalian?!"
Mereka berusaha kabur sambil tertawa saat aku mengejar mereka.
Aku menjauh dari air terjun dan hanya bisa menatap anak-anak lain bermain disekitarnya dengan aman.
__ADS_1
Aku jadi bertanya-tanya, apakah hanya aku saja? Hanya aku yang merasakan ada makhluk lain yang berada dekat dengan air terjun itu? Hanya aku yang diganggu oleh makhluk itu? Apakah makhluk itu tahu bahwa aku berbeda dengan anak yang lainnya? Kenapa aku tidak bisa bersantai seperti anak lainnya? Menikmati semuanya tanpa harus ketakutan seperti sekarang ini.
Rasanya miris. Aku lelah dengan keadaanku. Meski aku mencoba menerima keadaanku yang sekarang ini, tak bisa kupungkiri bahwa aku ingin jadi normal lagi seperti anak lainnya.