Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Melintasi Dimensi Lain


__ADS_3

"Aaahh!" Jerit ketakutanku menggema ke seluruh hutan.


Aku terkejut seekor ular jatuh menimpaku dari atas dan melilit di leherku. Reflek saja aku menarik dan membantingnya ke tanah.


"Keras sekali jeritannya. Jika orang lain mendengarnya, mereka akan mengira kami melakukan hal buruk padamu." Terdengar suara pria dari arah belakangku. Aku menoleh dan melihat seekor harimau putih besar.


apa dia yang berbicara denganku tadi?' tanyaku dalam hati.


"Tenanglah! Ular itu hanya ingin memeriksamu! Kau tidak perlu membantingnya seperti itu." Ucap harimau itu lagi.


Aku berpaling ke ular itu lagi. "Ma-maaf! Aku agak alergi dengan hewan melata." ucapku sambil tertawa gugup.


Ular itu mendesis marah lalu pergi. Sepertinya dia marah dengan sikapku yang tidak sopan tadi.


"Tidak perlu khawatir. Dia memang pemarah tapi bukan pendendam." Ujar harimau itu menanggapi ekspresiku yang risau.


"Dari sini aku yang akan mengantarmu." Ujarnya lagi berjalan di depsnku sementara rubah kecil itu pergi. Aku menurut mengikuti harimau itu.


"Aku salut dengan kebodohanmu, anak manusia. Mengikuti makhluk sepertiku begitu saja. Apa kau tidak takut aku akan memakanmu?" Aku menghentikan langkahku.


"Sudah terlambat untuk berubah pikirannya. Aku tidak akan membiarkanmu kabur." Daripada ancamannya, sindirannya tadi padaku lebih menjengkelkan.


"Ada banyak kesempatan, jika kau ingin memakanku, kau pasti sudah melakukannya sejak tadi." Ucapku dengan tenang membalas ancamannya.


"Tindakanku mungkin terlihat ceroboh tapi bukan tanpa perhitungan. Aku mengikutimu karena aku tidak merasakan niat buruk dari dirimu. Dan lagi aku sudah meninggalkan jejak tanpa sepengetahuanmu. Jadi begitu tahu aku menghilang, mereka akan segera mencariku dan mengikuti jejakku." Ujarku lagi tersenyum membalasnya.


"Di tambah, tubuhku kecil dan rasanya tidak enak. Lebih baik kau tidak memakanku." Kataku lagi sedikit bergurau.


Harimau itu tertawa. Lalu lanjut berjalan. Aku mengikuti lagi di belakangnya.


"Bagi makhluk sejenis kami, kau terlihat lezat dengan kekuatan yang berlimpah dalam dirimu. Itu akan menambah kekuatan kami. Dan satu hal lagi. Makhluk seperti kami juga pintar menyembunyikan niatnya. Jadi kedepannya kau harus hati-hati." Ujarnya serius.


"Terima kasih. Aku akan hati-hati ke depannya. Paling tidak penilaianku kali ini tidak salah. Aku mengikuti harimau yang baik hati yang mau repot-repot mengingatkanku." Ucapku membalasnya.


"Anak yang menarik." Ucapnya lagi sambil tertawa.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami tiba di tujuan.


"Masuklah!" Perintah harimau itu.


"Kau tidak ikut?" Tanyaku.


Harimau itu menggeleng, "Tuan ingin bicara berdua saja denganmu." Setelah berkata begitu dia pergi.


Aku lanjut berjalan. Aku merasakan menembus tirai tipis yang tidak terlihat. Ku rasa itu perisai yang dipasang untuk menyembunyikan tempat ini.


Aku tiba di sebuah tempat yang lebih terang dan hangat. Tapi tanah yang ku pijak memancarkan kekuatan yang luar biasa. Ini pertama kalinya aku memasuki dimensi lain.


Sebuah pohon besar menjulang tinggi di hadapanku.


"Apa pohon ini yang kulihat malam itu?" Gumamku bertanya mengingat kedatanganku pertama kali di desa ini.


Seorang anak laki-laki berdiri di samping pohon itu. Aku mengenali sosoknya.


Ello. Atau mungkin juga bukan.


Aku berjalan menghampirinya.


"Apa kau yang kutemui tadi malam?" Tanyaku tanpa basa-basi. Dia diam sesaat. Senyum di wajahnya pun menghilang.


"Apa kau juga yang menemuiku di stasiun? Apa kau orang yang terus menggangguku belakangan ini?" Tanpa menunggu jawabannya aku terus menyerangnya.


"Benar. Aku orangnya." Akhirnya dia menjawab.


"Kupikir seorang penjaga hutan ini sangat sibuk menjaga wilayahnya. Tak kusangka kau mau repot-repot mengunjungiku yang berada jauh dari sini."


"Hebat, sepertinya aku tak perlu memperkenalkan diri lagi. Kau sudah mengetahuinya."


"Tentu saja. Energi lebih kuat dibandingkan makhluk lain di sini. Sudah jelas kau penjaga hutan yang sering dibicarakan warga desa."


"Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanyaku padanya.

__ADS_1


"Seperti yang ku katakan tadi malam. Aku membutuhkan kekuatanmu untuk membuka pintu yang tersegel itu, dan mengeluarkan makhluk di dalamnya." Dia menjawab


"Apa sebenarnya makhluk itu?" Tanyaku lagi. Dari ingatan Mina yang ku lihat dia hanya manusia biasa. Kenapa bisa sampai seperti itu.


"Dia hanya manusia yang tersesat dan putus asa. Kebaikannya tidak bertahan lama. Rasa takutnya telah merubahnya menjadi egois dan serakah. Dia mempelajari ilmu hitam dari buku yang tidak sengaja di temukannya dan menjadikan budak iblis.


Dia berhasil disegel di ruang bawah tanah. Namun itu tidak cukup. Makhluk sesat itu memakan kegelapan. Mengurungnya di sana hanya akan membuatnya semakin kuat. Aku harus melenyapkannya sebelum dia menjadi ancaman yang lebih berbahaya.


"Sayangnya kekuatanku tidak bisa membuka segel itu. Aku membutuhkan manusia dengan kekuatan spiritual yang tinggi untuk membuka pintu itu." Ujar penjaga hutan itu menjelaskan.


"Dan orang itu adalah aku. Benar 'kan?" Tanyaku memastikan.


"Benar. Itu sebabnya aku menggunakan wujud anak ini untuk memancingmu kemari." Jawabnya puas dengan rencananya.


"Dan kau berhasil membuat hampir terbunuh di hutan ini karena makhluk itu." Ucapku melanjutkan kata-katanya dengan jengkel.


"Jangan marah, tuan putri!" Bujuknya. "Aku sudah menyelamatkanmu dan temanmu tadi malam. Aku juga sudah membantu kalian membereskannya."


Tetap saja itu tidak menghapus kekesalanku. Dia bisa menyelematkan kami lebih awal. Tapi dia tidak melakukannya dan membiarkan kami bersusah payah terlebih dulu. Dia mempermainkan kami seperti menikmati tontonan yang menyenangkan.


"Satu hal lagi yang masih belum kumengerti. Kenapa kau baru bertindak sekarang? Kenapa kau tidak bergerak lebih awal. Dia membunuh anak-anak itu di tempatmu. Dan kau diam saja. Padahal kau bisa saja menyelamatkan mereka. Tindakanmu menyingkirkan makhluk itu bukan seperti kau 'mencuci tanganmu' setelah kau mengabaikan anak-anak itu." Tukasku emosi.


"Tuduhanmu kejam sekali." Sanggahnya. "Makhluk seperti kami juga punya aturan yang harus ditaati. Memiliki kekuatan bukan berarti boleh melanggar."


"Anak-anak itu sudah ditakdirkan mati di hutan ini. Aku tidak boleh merubah takdir. Lagipula, apa yang menimpa anak-anak itu adalah kelalaian orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Kau tidak bisa menyalahkanku ataupun penjahat itu sepenuhnya."


"Seandainya aku menyelamatkan mereka, apa yang para orangtua itu pikirkan? Mereka akan lengah dan mengabaikan perlindungan untuk anak mereka karena berpikir sudah ada yang melindungi anak mereka. Apa menurutmu itu bagus?" Tanyanya padaku.


"Tidak." Jawabku.


"Ini mungkin terlihat kejam. Tapi ini akan menjadi pembelajaran untuk para orang tua lainnya untuk lebih mengawasi anak-anak mereka dalam bermain karena ada bahaya yang bisa membunuh mereka kapan saja." Untuk semua penjelasannya aku bisa mengerti dan sependapat. Meski ini menyakitkan untuk keluarga korban.


"Aku tahu kebaikanmu. Itu juga yang telah mendorongmu ke tempat ini. Kau tidak bisa mengabaikan teman-temanmu yang membutuhkan bantuanmu. Kau tidak bisa mengabaikan teriakan minta tolong dari jiwa-jiwa yang terperangkap. Kau membuang rasa takutmu demi menolong mereka. Karena itulah aku memilihmu untuk membantuku."


"Kau sudah menjelaskan alasanmu memilihku. Lalu, apa ada alasan kau menggunakan wujud anak itu?" tanyaku.

__ADS_1


Dia menyeringai, "Itu alasan lainnya kenapa aku memilihmu. Aku ingin kau mengantar anak itu kembali ke keluarganya."


Apa maksud kata-katanya tadi? Apa dia tahu keberadaan Ello. Apa itu artinya Ello masih hidup?


__ADS_2