
"Sudah beratus-ratus tahun lamanya aku mendiami pohon tua ini dan mengawasi semuanya dari atas sana." Ujarnya.
'mungkin itu seperti menara baginya. Dari ketinggian itu dia mengawasi seluruh desa dan hutan ini.' pikirku merasa takjub.
"Pohon ini seperti rumah bagiku. Tapi juga pembatas. Antara dunia kalian dan dunia kami. Aku bertugas menyembunyikan keberadaan pohon besar ini dan menjaga perbatasan antara dua dunia."
"Tapi, Tujuh belas tahun yang lalu, anak itu menerobos masuk ke sini. Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa menembus perisai yang sudah kupasannya dengan kuat. Mungkin dia punya keunikan sama seperti dirimu yang tidak disadarinya." Sesaat dia melirik ke arahku.
Dia berjalan ke kaki pohon besar itu. Ada lubang seperti terowongan kecil. Aku memperhatikan lebih teliti. Sesosok tubuh kecil meringkuk di dalamnya. Seolah sedang tertidur.
"Ello?" Seruku tak percaya. Aku mendekatinya. Dia masih memakai seragam TK nya. Aku menyentuh tubuhnya yang hangat. Namun tidak bernafas. Harapanku tadi seketika hancur. Sejak awal memang tidak mungkin menemukannya kembali dalam keadaan hidup.
"Anak ini datang padaku. Dia memohon agar aku menyembunyikannya dari orang-orang yang mengejarnya. Dia terlihat ketakutan dan sangat kesakitan. Aku sempat menolaknya, karena bukan tempat ini yang harusnya dia datangi." Lanjutnya bercerita.
"Dia harus dibawa ke rumah sakit untuk di obati. Tapi dia menolak. Dia memilih bersembunyi dibawah batang pohon ini. Dia bilang ibunya akan segera mencarinya dan menjemputnya pulang."
"Aku sudah berusaha mengobatinya, namun anak ini meninggal tak lama setelah sampai di tempat ini. Sesuai janji akupun menyembunyikan tubuhnya sampai ibunya datang menjemput. Tapi itu tak pernah terjadi."
"Hari berganti Minggu. Bulan berganti tahun. Ibunya tak pernah datang mencarinya."
"Ibunya meninggal di hari yang sama dia menghilang. Karena itu ibunya tak pernah datang." Ucapku.
"Ya, dan aku mengetahuinya setelah bertahun-tahun lewat dan keluarganya tidak lagi datang ke sini. Sepertinya keluarganya sudah menyerah untuk mencari anak ini."
"Mereka belum menyerah. Paling tidak adiknya masih terus mencarinya." Sanggah ku.
"Sudah bertahun-tahun tidak ada yang datang ke hutan ini untuk mencarinya. Aku sudah mencoba menemui keluarganya tapi tidak ada diantara mereka yang melihat keberadaanku. Ini jadi merepotkan. Sedangkan aku tidak bisa menyimpan tubuh ini selamanya."
"Kalau aku letakkan begitu saja hewan liar akan membawa tulang-tulangnya sebelum sempat ditemukan orang. Rasanya seperti aku tidak bertanggungjawab. Anak ini benar-benar membuatku susah."
Alasannya banyak sekali. Intinya dia tidak mau repot-repot mengantarkan tubuh Ello ke keluarganya dan minta aku menggantikannya. Terlihat jelas dia tidak suka berhubungan dengan manusia. Meskipun begitu dia menunjukkan niat baiknya dengan menjaga baik-baik tubuh Ello. Mungkin dia sedikit tertarik pada anak itu.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membawanya kepada adiknya." Ucapku.
Saat aku menggendong anak itu aku terkejut melihat ekspresi di wajahnya.
"Menakjubkan, bukan?" Penjaga hutan itu mendekatiku, dan berkata, "Anak ini telah mengalami banyak hal yang menyakitkan dan mati dengan cara yang tragis. Tapi.."
"Wajahnya begitu tenang." Kataku melanjutkan perkataan penjaga hutan. "Dia terlihat seperti tertidur dan bermimpi indah. Tidak ada sedikitpun kebencian, kemarahan, dendam, ataupun penyesalan yang tertinggal."
Aku memeluk tubuh mungil dan polos itu. Aku tersenyum haru dan bangga padanya. Dia telah melepaskan semua rasa sakitnya dan pergi dengan tenang. Sangat berbeda dengan jiwa anak-anak yang kutemui tadi malam. Dia bersih tidak tercemar.
Dia tumbuh dan di didik dengan baik oleh ibunya. Cinta seorang ibu yang melindungi anaknya sampai akhir. Mungkin tanpa kami pernah tahu, mereka berdua telah bertemu di alam sana dan berbahagia.
Penjaga hutan mengantarkan kami ke luar dari tempat itu. Dia masih menggunakan wujud Ello.
"Apa kau tidak bisa menggunakan wujud aslimu?" Tanyaku dalam perjalanan kami.
"Jika aku menggunakan wujud asli kau pasti akan lari ketakutan."
"Tapi, rasanya aneh saja kalau kau tetap menggunakan wujud itu."
Dari jauh aku melihat beberapa orang datang. Sepertinya mereka menyadari aku tidak ada dan mencariku.
"Letakkanlah dia di tanah." Perintahnya tiba-tiba. Aku memandangnya dengan tatapan bingung.
"Aku akan mengembalikan tubuh itu ke bentuk yang seharusnya. Akan aneh kalau dia tetap dalam bentuk utuh seperti itu setelah hilang belasan tahun. Mereka bisa curiga."
Aku mengerti lalu meletakkan tubuh Ello dengan hati-hati di tanah. Dalam sekejap tubuh itu pun berubah menjadi tulang belulang.
"Aku pergi. Terimakasih untuk bantuanmu. Kau boleh berkunjung ke tempat kami kapanpun kau inginkan." Penjaga hutan itu pamit pergi meninggalkanku sendirian.
Tak lama kemudian Alvin menemukanku.
__ADS_1
"Melya, kau dari mana saja? Kami semua mencarimu." Alvin berlari menghampiriku.
"Aku pergi sebentar ke suatu tempat." Jawabku asal.
"Sebentar? Kau menghilang hampir seharian!"
Aku tidak mengira akan selama itu pergi. Aku hendak menjelaskan, tetapi aku urungkan. Alvin terpaku pada sesuatu yang tergeletak di tanah tak jauh dari tempatku berdiri. Alvin berpaling padaku seakan bertanya padaku. Aku mengangguk.
Alvin jatuh berlutut di sisi jasad kakaknya yang tinggal tulang belulang saja. Air matanya akhirnya jatuh satu demi satu. Segala keletihan yang ditahan demi mencari kakaknya selama belasan tahun, berakhir hari ini.
Alvin mengenali dengan baik seragam yang dikenakan kakaknya terakhir kali. Noda-noda hitam yang berbekas di seragam itu memperlihatkan pada kami separah apa luka yang ditanggungnya sebelum kematiannya. Sambil menahan sakit dia kabur dari rumah ditengah hutan itu sampai ke sini.
Dia berjuang bertahan hidup dengan tubuhnya yang kecil, meski berakhir sia-sia. Aku menepuk dengan lembut pundak Alvin mencoba menenangkannya.
"Alvin, kakakmu ingin merelakan semua yang terjadi dan menjalani hidupmu dengan baik. Baik korban ataupun penjahatnya sudah mati. Kasus ini tidak akan di usut lebih jauh lagi dan akan segera di tutup. Kakakmu juga sudah pergi dengan tenang."
Untuk beberapa saat semua hening. Alvin menatap tubuh kakaknya tanpa bisa berkata lagi. Aku tahu dia butuh waktu menenangkan diri. Karena itu aku membiarkannya.
Malam harinya aku di jemput ibu dan Angga yang sudah sadar. Aku senang dia sudah sadar. Banyak hal yang ingin ku tanyakan. Banyak hal yang ingin kuceritakan. Aku memeluk mereka berdua. Mereka cemas karena mendapat kabar dari salah seorang penduduk desa. Kami bertiga pulang setelah berpamitan.
Keesokan paginya aku menghadiri pemakaman Ello bersama Angga. Prosesi berlangsung dengan hikmat. Dihadiri oleh keluarga dan kerabat.
\*
Sementara jauh di dalam hutan seorang pria duduk di dahan pohon yang besar. Pandangannya menerawang jauh.
"Aku pikir aku membenci anak itu. karena itu aku terus mengawasinya. Aku bahkan berniat membiarkannya mati. Tapi, nyatanya aku malah menolongnya."
__ADS_1
"Apa karena itu, Tuan melepaskan ingatannya?" ucap seekor harimau yang sudah melayaninya sejak lama.
"Aku hanya membantunya mengingat. Sebuah ingatan yang sudah membeku lama. Malam ini dia akan bermimpi indah. Malam ini akan terasa panjang dan melelahkan untuknya." Ujarnya menyeringai puas dengan rencananya.