Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 109


__ADS_3

Ada dua versi tentang alasan kenapa peri itu tidak bisa keluar dari dalam tubuh boneka, versi pertama mengatakan kalau peri itu telah menggunakan semua kekuatannya untuk membantu wanita malang itu, sehingga dia tidak punya kekuatan yang tersisa untuk bisa keluar dari sana dan kembali ke tempat asalnya. Untuk bisa kembali dia harus membantu banyak anak-anak. Ini terdengar seperti dongeng klasik. Semakin kupikirkan semakin tidak masuk akal.


Lalu versi ke dua mengatakan bahwa peri itu sudah lupa tentang asal-usulnya karena terlalu lama berpura-pura sebagai anak perempuan, dia menganggap bahwa dia benar-benar putri dari wanita itu. Karena itu setelah wanita itu meninggal, dia tidak pergi dan tetap bermain dengan anak-anak seperti keinginan ibunya, agar dia punya banyak teman.


Menurutku versi kedua lebih masuk akal. Apalagi melihat rabbit seperti ini, sudah jelas bahwa dia sudah lupa tentang asal-usulnya sendiri.


Aku meminjakannya saputangan baruku untuk membersihkan air mata dan bekas ingus di hidungnya. Aku bahkan tidak yakin ada lendir yang keluar dari benda bulat merah di tengah yang di sebut hidung tanpa lubang.


Tapi saat Rabit benar-benar menempelkan saputangan itu di hidungnya dan membuat suara keras seperti seorang gadis yang membersihkan hidungnya setelah menangis, aku jadi tahu itu benar-benar hidung dan bukan sekedar tempelan.


Dan saat rabbit mengembalikannya dalam keadaan sedikit basah, aku menyesal, harusnya ku berikan saja dia tisu bukan saputangan.


"Apa kau sudah lebih baik?" tanyaku.


Dia mengangguk lemah.


"Maaf, Celin. Aku selalu seperti ini jika bercerita tentang mama," jawabnya sambil sedikit terisak.

__ADS_1


"Tidak apa. Aku mengerti. Lagipula aku yang memintamu untuk menceritakannya. Justru aku akan merasa bersalah jika kau menangis terus sepanjang malam." Mendengar itu dia langsung menghentikan Isak tangisnya seketika.


"Padahal aku datang untuk menghiburmu. Tapi malah sebaliknya, kau justru menghiburku."


"Bukan apa-apa. Jangan dipikirkan! Lagipula aku tidak butuh dihibur."


"Rabbit akan membantu Celin sebagai ucapan terimakasih."


"Tidak perlu. Memang apa yang bisa kau bantu?"


"Rabbit bisa membuat Cellin ikut perlombaan paduan suara antar sekolah."


"Celin tidak perlu tahu."


"Bagaimana aku bisa percaya?"


"Rabit akan membuktikannya besok." Rabbit mengatakannya dengan yakin. Dia berdiri menatapku dengan manik hitam itu.

__ADS_1


Brak! Celena menerobos masuk ke kamar tanpa permisi seperti kebiasaannya. Aku langsung cepat-cepat menyembunyikan Rabbit di bawah selimut dan mendudukinya sebelum Celena memperhatikan.


"Celena, berapa kali harus ku katakan, kau harus mengetuk pintu sebelum menerobos masuk ke kamarku seperti itu!"


"Apa yang kau sembunyikan?" Dia mengabaikanku dan bertanya dengan nada curiga.


"Tidak ada! Aku tidak menyembunyikan apa-apa."


Celena berjalan menghampiriku. "Sungguh? Aku melihatmu menyembunyikan sesuatu di bawah selimut itu."


Sial! Jadi dia melihatnya. Tapi sepertinya dia belum sempat melihat rabbit. Jadi aku masih bisa mengelak.


"Bukan apa-apa, kau tak perlu tahu."


"Aku harus tahu. Kau jarang menyembunyikan sesuatu yang tidak menarik." Dia menyebutkan menyeringai sambil mencoba menyingkap selimutku.


"Hei!" Aku menghalanginya.

__ADS_1


Ugh! Dia terlalu peka. Menyebalkan! Aku harus menyembunyikan rabbit sebisa mungkin darinya. Jika Celena sampai tahu tentang rabbit dia pasti akan memberitahu orangtua kami. Yah, kalaupun tidak, dia akan menghancurkan rabbit sama seperti boneka-bonekaku yang lain. Karena itu Celena tidak boleh tau tentang rabbit.


__ADS_2