Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Rencana penyelamatan Riri


__ADS_3

"Halo, Riri? Ada apa?"


"Mel, tolong aku! Aku takut sekali! Aku ingin keluar dari sini tapi dia ada di depan pintu. Aku harus bagaimana?" ujar Riri sambil terisak. Suaranya terdengar gemetar. Aku langsung melompat dari tudurku lalu duduk di sisi ranjang.


"Tunggu Riri! Aku tidak paham! Kau dimana?" tanyaku.


"Aku di sekolah," jawabnya.


"Di sekolah? Kau yakin?"


"Iya!"


"Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu. Saat aku bangun aku sudah ada disini. Aku ingin keluar tapi tidak bisa. Dia berdiri di depan pintu dan ingin menangkapku." Suara Riri terdengar panik.


"Riri tenangkan dirimu! Aku akan segera ke sana membawa bantuan. Jadi kau tak perlu takut lagi," ujarku menenangkan.


"Berapa lama?"


"Tidak akan lama. Aku janji secepatnya akan datang."


Aku menutup telpon dan lanjut menghubungi Angga lagi. Kali ini dia mengangkatnya.


"Kak, kapan kau pulang?" tanyaku langsung.


"Aku dalam perjalanan pulang, sedikit lagi sampai."


"Bagus. Susul aku sekolah!"


"Hei, kau mau ke sekolah malam-malam begini. Apa yang terjadi?"


"Riri baru saja menghubungiku. Dia ada di sekolah. Aku harus membantunya keluar dari sana."


"Tidak boleh! Tidak ku izinkan kau ke sana sendirian!"


"Kak!?" suaraku meninggi, "Riri membutuhkan bantuanku. Kau ingin aku diam saja?!"


"Jika kau membantu Riri, siapa yang akan membantumu?"


"Karena itu aku menghubungimu. Aku ingin kau menyusulku setelah kau pulang. Aku juga tidak pergi sendirian, kak. Aku akan minta bantuan penjaga sekolah untuk pergi mencari Riri bersamaku."


"Tetap saja itu terlalu berbahaya! Aku masih butuh waktu untuk tiba disana. Tunggu aku sampai, kita pergi bersama," cegah Angga.

__ADS_1


"Aku tidak yakin waktunya akan cukup. Makhluk itu menginginkan tubuh Riri untuk menjadi wadahnya agar bisa keluar dari sekolah itu, Karena itu dia membawa Riri ke sekolah. Dia mempengaruhi pikiran Riri, membuatnya mengalami delusi. Akibatnya Riri menjauh dari orang-orang disekitarnya begitu juga sebaliknya."


"Tapi Riri datang padaku berkali-kali dan meminta tolong padaku, aku malah mengabaikannnya dan tidak percaya kata-katanya. Ini salahku! Kalau saja aku lebih cepat menyadarinya.."


"Ini bukan salahmu, Mel. Kau sudah melakukan apa yang kubisa."


"Karena itu aku harus menolongnya saat ini. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang."


"Baiklah, aku paham. Tapi apa yang akan kau lakukan? Kau belum pernah menangani orang yang dirasuki makhluk halus sebelumnya."


"Itu maksud aku menghubungimu, kak. Ajari aku mengatasinya!"


Aku mendengar Angga menghela nafas berat di seberang telepon.


"Hebatnya adikku! Kau ingin aku mengajarimu secara kilat lewat telpon dan mempraktekkannya langsung? Apa namanya kalau bukan bunuh diri?"


"Jangan berlebihan! Aku tidak akan mati karena hal itu! Aku yakin akan baik-baik saja!"


"Jangan meremehkan mereka!" bentak Angga. Aku terkejut karena ini pertama kalinya Angga terdengar marah padaku.


"Jika kau ingin berurusan dengan makhluk-makhluk ghaib seperti mereka, sebaiknya kau waspada karena apapun bisa terjadi bahkan hal-hal diluar logika. Sebaliknya kau juga harus bisa mengendalikan rasa takutmu. Ketakutanmu akan menjadi kesenangan bagi mereka. Itu hal dasar yang harus kau ketahui. Apa kau paham?"


Yang ku tangkap dari peringatan Angga, aku tidak boleh sombong tidak juga menjadi takut. Aku harus bisa mengendalikan diriku dengan baik jika mau berurusan dengan mereka.


"Baik, aku paham."


"Air? Belum! Aku belum meminumnya. Apa itu bisa digunakan?" tanyaku.


"Ya, harusnya bisa. Sebenarnya air itu untuk menstabilkan kekuatanmu dan membersihkan tubuhmu setelah perjalananmu tempo hari ke dunia ghaib. Air itu juga bisa digunakan untuk membersihkan tubuh yang didekati makhluk halus. Siramkan itu ke tubuh temanmu!"


"Menyiramkannya? Bukannya itu untuk diminum?" tanyaku agak bingung.


"Akan bagus kalau kau bisa membuatnya meminum air itu. Sayangnya kebanyakan kasus yang terjadi, para korban pasti menolak meminum air itu. Jika tidak bisa siramkan air itu padanya. Makhluk itu akan menjauh dari tubuh itu sementara."


"Apa air saja cukup? Berapa persen kemungkinan berhasilnya?"


"Mungkin berhasil. Aku juga tidak yakin karena tidak melihat kondisi anak itu langsung."


"Sejauh ini Riri masih baik-baik saja. Dia masih berbicara normal padaku tadi. Makhluk halus itu belum berhasil menguasai dirinya sepenuhnya. Aku yakin itu."


"Kalau begitu air itu masih bisa digunakan. Tapi ingat itu hanya bersifat sementara."


"Tidak apa. Itu cukup. Aku hanya perlu memisahkannya dari sementara aku menyelesaikan masalahnya."

__ADS_1


"Apa kau sudah tahu alasan makhluk halus terperangkap di sekolah?" tanya Angga.


"Ya kurang lebih. Aku sudah membuat memberitahumu lewat pesan singkat. Kau belum membacanya?'


"Aku belum sempet mengecek pesan masuk."


Sambil menelpon aku turun ke bawah menuju dapur. Aku sudah menggunakan Hoodie dengan celana training.


"Ma, air yang di berikan kak Angga waktu itu ada di mana ya?"


"Kalau tidak salah mama taruh di kulkas, sayang."


"Kenapa malah dimasukkan ke kulkas?" protesku.


"Kan kamu suka minum air dingin. Makanya mama masukkan ke kulkas."


Ya ampun! Air untuk mensucikan arwah malah dimasukkan ke kulkas. Ibuku satu-satunya yang sanggup melakukan itu. Tidak heran dia sering bertengkar dengan kakek.


Aku memeriksa kulkas dua pintu itu. Di pintu bawah tidak ada. Masa mama taruh di freezer? gumamku dalam hati. Benar saja saat aku membuka pintu atas kulkas. Aku menemukan botol air yang di maksud Angga. Sayangnya air di dalamnya membeku.


"Beku?!!" seruku kaget. "Kakak, airnya beku. Bagaimana aku bisa menggunakannya? Apa kau tidak punya cadangannya?"


"Ada satu lagi di rumahku."


"Aku akan mengambilnya."


"Ma, aku mau ke rumah kak Angga!" pamitku pada ibu. Aku berlari keluar rumah.


Sesampainya dirumah Angga pintunya terkunci. Dan rumahnya gelap. Ternyata Tante Yusi sedang pergi.


"Sepertinya kau tidak punya pilihan selain menungguku," ujar Angga.


"Aku akan menunggumu di sekolah kak. Susul aku secepatnya." ujarku lalu menutup telponnya.


Aku menghubungi satu orang lagi dalam perjalanan menuju sekolah. Dia satu-satunya orang yang mungkin bisa menghentikan hantu itu.


"Halo, Eli. Maaf mengganggumu malam-malam. Ini darurat. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Keselamatan Riri bergantung pada hal ini."


Setelah selesai berbicara aku pergi menuju rumah penjaga sekolah, pak Mong. Aku mengetuk pintu rumahnya namun pemiliknya tak kunjung keluar. Aku menggedor pintu rumah kuat-kuat. Tak lama kemudian pria paruh baya itu muncul membuka pintu.


"Pak Mong, tolong bantu saya. Teman saya menelpon kalau dia terkunci di dalam sekolah. Tolong temani saya menjemputnya."


Pak Mong yang masih bingung hanya menggaruk kepalanya saja seolah sedang berpikir bahwa yang kukatakan hanya gurauan saja.

__ADS_1


"Saya sungguh-sungguh, Pak! Kalau bapak gak percaya bapak bisa ikut dengan saya untuk memastikannya sendiri. Tapi tolong bantu saya!" ujarku memohonku lagi. Dia hanya diam melihatku.


Bagaimana ini? Cuma pak mung yang pegang kunci sekolah. Bagaimana caraku masuk ke sekolah kalau pak Mong tidak mau pergi denganku?


__ADS_2