
Ini sudah hari ke tiga Angga tak sadarkan diri. Dengan sebab yang masih belum pasti. Aku hanya tahu bahwa dia begitu setelah memasuki hutan angker itu.
Tante Yusi memutuskan untuk merawatnya di rumah. Sementara ibuku membantunya. Sedangkan ayah Angga sudah lama tiada.
Pikiranku mengambang ke dalam mimpi yang kudapat beberapa malam lalu. Mimpi itu terasa sangat nyata. Aroma pepohonan, aroma darah yang kental. Dan sosok yang memberi teror di ujung mimpi itu.
Jika Ello memang datang malam itu, maka mimpi yang kulihat bisa jadi pesan darinya. tentang apa yang menimpanya dan anak -anak yang hilang itu.
Ada pembunuh yang kejam bersembunyi di dalam hutan itu. Meski begitu aku tidak bisa melaporkannya kepada pihak berwajib hanya berdasarkan mimpi saja. Aku juga tidak tahu posisi rumah itu. Aku hanya tahu bahwa rumah itu di dalam hutan.
Di dalam kosan aku mengutak-atik laptop, menelusuri beberapa artikel tentang persitiwa anak-anak yang hilang. Tetapi karena kasusnya sudah lama terjadi beberapa artikel bahkan sudah dihapus.
Kasus Ello adalah yang terakhir. Setelah itu tidak ada lagi kejadian anak hilang di hutan itu.
Ini aneh. Awalnya kupikir karena keluarga Ello mengerahkan banyak orang untuk menjelajahi hutan itu mencari keberadaan Ello. Jadi penjahat itu tidak memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan kejahatannya.
Tapi setelah keluarga Ello menghentikan pencarian, tetap tidak ada kasus anak-anak hilang di hutan itu sampai hari ini. Jadi kenapa?
"Aku harus masuk ke sana!" Ucapku pada diriku sendiri bertekad. Mau tidak mau aku seperti terdorong untuk menyelesaikan semua ini. Mulai dari pertemuanku dengan Ello sampai kasus Angga. Seolah ada jaringan laba-laba yang coba menjeratku sedikit demi sedikit.
Meski begitu aku tidak bisa lari atau menghindar. Tak ada jaminan Angga akan sadar jika aku diam saja. Tapi jika aku memasuki hutan itu, aku bisa dapat petunjuk tentang penyebab kondisi Angga.
Rencananya aku ingin naik kereta untuk ke desa itu. Tapi ternyata lebih jauh dari perkiraanku. Harus dua kali transit dari stasiun pusat. Kalau dipikir-pikir lagi naik kereta hantu itu lebih praktis dan lebih cepat.
Hahaha! Aku jadi menertawakan apa yang baru saja kupikirkan tadi. Naik kereta hantu? Kurasa Ello tahu benar cara memilihkanku transportasi yang cepat untuk sampai ke sana.
Akhirnya aku memilih keluar dari stasiun. Dan memutuskan untuk naik taksi. Aku harus cepat untuk sampai ke sana pagi-pagi sekali. Semakin pagi semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk menjelajahi hutan itu. Aku harus keluar dari hutan sebelum hari gelap.
Sebelum masuk ke hutan angker itu, aku mampir ke tempat pak Dodo. Berharap aku bisa menemui Haris, aku ingin minta bantuannya. Dia orang yang tepat menemaniku masuk ke sana.
Haris adalah penduduk asli desa ini, dan dia pasti lebih tahu tentang hutan itu dibandingkan orang luar sepertiku. Kalau aku bicara baik-baik dan menjelaskan dengan benar dia pasti setuju membantuku. Lagi pula dia kuat. Aku bisa merasa aman jika ada bahaya.
Sayangnya, aku tidak berhasil menemuinya. Ibunya bilang dia pergi pagi-pagi sekali, tidak tahu ke mana. Akhirnya aku berjalan sendiri ke arah hutan.
__ADS_1
"Melya!" Aku mendengar suara yang tak asing menegurku. Aku menoleh ke arah suara itu. Dan kulihat Alvin menyapaku dari dalam mobil.
"Aku ada sedikit urusan dan kebetulan lewat sini." Dia menjelaskan sebelum aku bertanya. "Jadi kau mau kemana?" Tanyanya lagi.
Aku menjawabnya dengan menunjuk ke dalam hutan.
"Kau ingin masuk kesana? Sendirian?" Tanya Alvin tak percaya. Aku mengangguk.
Alvin keluar dari mobil sementara sopirnya menunggu di dalam. "Apa itu ada hubungannya dengan kakakku?"
"Ya, sepertinya Ello memberikan petunjuk lokasinya lewat mimpi." Jawabku. Aku memang tidak berniat merahasiakannya. Tapi aku tidak menduga dia langsung mempercayainya.
"Aku akan menghubungi orang-orang ku untuk ikut mencari."
Aku menahan tangannya saat dia akan menelpon. "Kau akan benar-benar dianggap gila oleh mereka kalau kau menyuruh mereka datang ke sini cuma karena mimpi yang tidak pasti kebenarannya. Mereka tidak akan mempercayainya."
"Tapi aku percaya." ujar Alvin. Aku menggeleng.
"Tapi itu berbahaya kalau sendirian."
"Aku sudah punya persiapan. Dan juga aku bisa berkomunikasi dengan penghuni di dalam. Jadi kalau aku tersesat aku bisa bertanya pada mereka."
"Tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu masuk sendirian ke sana. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi." Alvin bersikeras menahanku.
"Kalau terjadi hal buruk padaku, kau bisa memberitahu keluargaku." Ucapku setengah bergurau. Tapi jawabanku malah membuat Alvin semakin keras kepala.
Aku tak mau berdebat panjang dengannya lagi. Orang-orang akan curiga kalau kami berlama-lama di luar sini.
"Baiklah. Kau ikut bersamaku. sampaikan pada supirmu untuk menunggu kita di sini. bilang padanya, seandainya kita tidak kembali juga sampai malam berarti kita menemui bahaya. Perintahkan supirmu mencari bantuan jika hal itu terjadi."
setelah Alvin memberikan perintah pada supirnya, kami berdua masuk ke dalam hutan.
"Jadi di mana rumah itu?" Tanya Alvin dalam perjalanan kami. Aku menceritakannya sedikit tentang mimpiku. Tapi aku tidak menceritakan tentang apa yang terjadi di dalam rumah itu. Aku takut dia belum siap mendengarnya.
__ADS_1
"Ikuti saja aku. Begini-begini aku memiliki ingatan yang kuat. Jadi aku yakin aku bisa mengingat arah yang ditunjukkan Ello di mimpi." Jawabku percaya diri. Sambil membuat tanda di batang pohon. Dengan begitu kami tidak akan kehilangan arah pulang. Kecuali jika pohon ini bisa berjalan sendiri dan merubah arah. Maka tandaku tidak akan berguna.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berjalan hingga aku merasakan sakit di kedua lututku dan telapak kakiku. Kurasa cukup lama. Aku mendengak ke atas melihat matahari mengintip dari balik dahan pohon di atas kepala kami.
Sudah setengah hari, dan pencarianku belum membuahkan hasil. Hutan ini lebih luas dari yang kuperkirakan. Belum lagi aku harus berhati-hati mengambil langkah. Agar tidak melanggar area terlarang hutan ini. Karena aku hanya bisa memperkirakannya secara samar-samar. Aku tidak mau diusir paksa keluar dari hutan ini sebelum menemukan lokasi rumah itu.
"Sepertinya kita berputar-putar di tempat yang sama. Kau yakin ingat arahnya seperti di mimpimu?" Ujar Alvin memperhatikan tanda-tanda yang sudah kubuat di pohon. Meski aku jengkel, dia benar.
"Apa kau tidak bisa menanyakannya pada 'seseorang' di sini?" Tanyanya lagi.
"Sayangnya, hanya ada pohon di sini. Dan aku belum belajar bahasa pohon." Sahutku.
"Ini aneh." Perkataan Alvin menyadarkanku.
"Kau benar. Hutan ini terlalu sepi. Seolah semuanya sudah dibersihkan karena tahu kita akan masuk." Ujarku.
"Apa itu pertanda baik?" Tanya Alvin.
"Aku tidak tahu. Karena aku belum bertemu dengan orang yang merencanakan ini semua." Jawabku.
Tiba-tiba aku melihat gadis kecil mengintip dari balik pohon. Usianya sekitar 10 tahun atau lebih. Dia mengenakan gaun tidur selutut. Rambutnya panjangnya yang tipis tergerai. Gadis kecil itu memiliki warna mata abu-abu, sama seperti yang kulihat di mimpiku.
Aku menghampirinya. Dia menghindar dan berlari menjauh.
"Alvin! Ikuti aku!" Seruku pada Alvin. Aku bergegas mengejar gadis kecil itu. Sementara Alvin mengikutiku di belakang.
Dia bukan gadis kecil biasa. Dia juga yang membawa Ello ke rumah itu. Aku tidak boleh kehilangan dia.
Sialnya gadis itu lenyap dari pandanganku. Aku menyisir ke sekeliling mencari jejaknya.
"Aaaakh!" tiba-tiba suara Alvin berteriak mengejutkanku.
"Alvin?" Seruku berbalik cemas.
__ADS_1