Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Kejujuran Atau Kebohongan, Ilusi Atau Nyata


__ADS_3

POV Melya


Aku terkejut Riri menelponku sore itu. Dia bertingkah aneh hari ini. Dia memintaku ke rumahnya. Awalnya aku menolak, karena matahari sudah hampir tenggelam, ibu pasti tak akan mengijinkanku keluar.


Namun, Riri terdengar sangat ketakutan di telpon. Aku meraih jaketku dan tak lupa membawa senter.


"Mel, mau kemana?" tanya ibu, saat melihat lewat dari dapur.


"Aku mau ke rumah teman, ma. Mau pinjam buku catatan," jawabku.


"Tidak bisa, ma. Besok tugasnya sudah harus dikumpulkan. Aku janji tidak akan lama. Rumahnya juga dekat dari sini."


"Ya, sudah. Hati-hati ya!"


"Ya, ma."


Riri pernah memberitahukan alamat rumahnya. Jaraknya tak jauh hanya sekitar sepuluh menit jika aku berlari.


Aku sudah sampai di jalan besar, di mana deretan rumah mewah dua lantai berjejer saling berhadapan.


"Aku sudah sampai di depan rumahmu. Tapi aku tak melihat gadis itu. Dimana dia?" tanyaku pada Riri melalui ponselku.


"Tadi baru saja kulihat masih ada." jawab suara dari seberang sana.


Aku bergegas ke arah rumah Riri. Kulihat ibunya ada di teras. Beliau menyapaku ramah.


"Saya teman sekelas Riri. Riri nya ada, Tante?" tanyaku basa-basi. Sementara ponselku masih terhubung dengannya.


"Oh dia ada dikamar. Masuk, nak!"


"Aaakhhh!!" suara teriakan mengejutkan kami berdua. Suaranya berasal dari seberang teleponku, datang dari kamar Riri.


"Dia ada di depan jendela kamarku! tolong aku!" teriak Riri ketakutan di telpon. Kami langsung berlari menuju kamar Riri. Diikuti ayahnya yang datang kemudian.

__ADS_1


Riri tampak kacau. Dia meraung tak karuan. Jelas sekali dia sangat ketakutan. Ayahnya memeriksa jendela kamarnya yang terkunci rapat. Dia membukanya dan memeriksa sekeliling jendela. Tidak ada apapun yang di temukan.


Riri menarikku ke dalam kamarnya. Dia meminta aku memeriksa kamarnya. Dia takut makhluk itu sudah menyusup ke dalam. Aku tidak merasakan adanya makhluk halus atau roh jahat yang. Aku juga tidak melihat jejak apapun. Jadi apa yang membuat Riri sampai ketakutan seperti itu?


"Riri! Tenanglah! Tak ada apapun disini. Mungkin kau cuma bermimpi buruk," ucapku membujuk.


"Aku tidak bermimpi! Aku benar-benar melihatnya! Kumohon percayalah padaku!" Sanggah Riri bersikeras. Untuk beberapa saat Riri sulit ditenangkan. Sampai akhirnya dia kelelahan dan tidur dengan sendirinya. Setelah itu aku pamit pulang.


Sebelum meninggalkan rumah itu, aku memeriksa sekeliling. Untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa tak ada yang aku lewatkan. Aku memeriksa jejak yang mungkin tertinggal. Sayangnya aku tak menemukan apapun.


Besoknya, Riri masuk ke kelas sambil tergesa-gesa. Dia bilang padaku bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Gadis yang dia lihat waktu itu sekarang balik mengawasinya. Hari ke hari tingkahnya semakin aneh.


Aku sempat berkeliling memeriksa sekolah, tapi aku tidak menemukan gadis yang Riri maksud.


Lebih anehnya lagi kunci itu juga hilang dariku. Aku tak tahu apakah kunci itu kembali ke tempat Riri atau tidak. Sepulang sekolah aku mendiskusikan hal ini dengan Laila tanpa sepengetahuan Riri. Kebetulan saat itu ada wali kelas kami pak Arya.


"Bapak juga merasa prihatin dengan keadaan Riri saat ini. Bapak sudah memintanya beristirahat dulu di rumah menenangkan diri, tapi dia menolak."


"Maaf, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada kalian soal kunci itu," ujar Nia, sekretaris kelas sekaligus teman Laila. Kami bertiga memperhatikan yang disampaikan oleh Nia.


"Aku tidak sengaja melihatnya mengambil kunci loker itu dari dalam tas Melya. Aku juga melihatnya melakukan hal yang sama pada Laila.


"Apa?" Kami semua tersentak kaget.


"Jadi maksudmu selama ini dia berbohong?" tanya Laila tak percaya.


"Aku tidak yakin. Aku merasa dia tidak berbohong," ujarku berpendapat.


"Apa mungkin dia melakukannya tanpa sadar?" Pendapat Nia membuat kami berpikir dan saling pandang.


"Kalau benar begitu, dia harus segera ditangani oleh ahlinya sebelum keadaannya tambah parah," ucap Laila lagi.


"Sementara rahasiakan ini dulu dari anak-anak yang lain. Bapak akan bicara padanya besok," ujar pak Arya. Kami pulang membawa teka-teki yang belum terjawab. Benarkah Riri berbohong?

__ADS_1


Hingga suatu malam Riri mengetuk pintu rumahku dengan panik. Untungnya ibuku sedang tidak ada di rumah saat itu. Ibu sedang pergi ke rumah Tante Yusi.


Saat aku membuka pintu aku terkejut melihat sosoknya yang berdiri di depanku. Rambutnya acak-acakan. Wajah dan pakaiannya terlihat kotor. Matanya memerah dan sembab seperti habis menangis dalam waktu lama. Beberapa luka di lengan dan lututnya seperti habis terjatuh di suatu tempat.


"To-tolong aku! Dia mengejarku lagi dan ingin menangkapku! Aku tak berani pulang karena dia terus menunggu di depan rumahku. Tolong aku!" Isaknya padaku.


Dia menarikku ke luar rumah dan membawaku ke tempat hantu wanita itu menunggunya. Tapi lagi-lagi aku tak melihatnya.


"Tadi ada di sini! Dia hampir menangkapku hingga terjatuh. Aku berhasil lepas tapi dia terus mengejarku. Aku terus lari menjauh darinya."


"Aku berteriak minta tolong tapi tak ada yang mau menolongku. Mereka semua tidak bisa melihat apa yang mengejarku. Tapi kau berbeda. Kau bisa melihat hantu itu. Karena itu aku lari ke tempatmu. Cuma kau yang bisa membantuku. Kumohon bantu aku lepas dari hantu itu!"


"Riri! Cukup! Tidak ada apapun di sana! Tidak ada hantu yang mengejarnu! Itu hanya ada di pikiranmu saja!"


Aku bingung harus berkata apa lagi padanya. Aku lelah dengan semua tingkahnya. Aku tidak tahu apa dia sedang berkata jujur atau sedang berbohong. Apakah dia sedang bersungguh-sungguh atau sedang bersandiwara.


Nyatanya aku tak melihat apapun. Aku tidak menemukan apapun. Tak ada bukti bahwa dia memang berkata jujur.


"Maksudmu aku sudah berbohong?" ujarnya dengan nada bertanya. Seolah aku telah memberikan tuduhan yang melukai hatinya.


"Bukan begitu. Riri! Semua yang kau alami tidak nyata. Semua hanya ada dalam pikiranmu saja!"


Riri tampak shock mendengar perkataanku. "Aku sedikit berharap bahwa kau berbeda dengan yang lain. Aku berharap kau bisa mempercayaiku karena itu aku mendatangimu."


"Riri, bukannya aku tidak mau membantumu," Riri menjauh saat aku mencoba mendekatinya.


"Maaf, sudah mengganggumu!" Itu kata terakhir yang dia ucapkan padaku. Dia berlari menghilang di kegelapan.


Keesokan harinya dia muncul di kelas dengan keadaan yang membuatku cemas. Auranya suram. Pandangan matanya kosong. Dia hampir tak bicara sepatah kata pun padaku. Kukira dia masih marah padaku karena kejadian malam itu.


Aku mencoba mengajaknya berbicara tapi dia tidak merespon. Dia pergi ke toilet saat aku sedang bicara padanya. Sebenarnya aku bisa saja mengabaikannya. Tapi sayangnya hatiku menolak. Aku tak bisa membiarkannya dalam keadaan seperti ini. Jika dibiarkan pikiran dan mentalnya akan semakin jatuh.


Nia berlari ke kelas dengan panik. "Tolong! Riri- dia pingsan di toilet!"

__ADS_1


__ADS_2